Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 63. Haruskah Aku Menikahinya?


__ADS_3

"Jika seperti ini, tak perlu menikah lagi. Dengan siapapun itu, aku tak akan merestuinya!" pekik Fera pada Andi ketika mereka berada di kamar.


Tanpa disadari, ternyata Nicko menguping pembicaraan mereka. Nicko memahami, jika Ayah dan ibunya pasti kecewa pada dirinya yang tengah memilih Giara.


Nicko tak menggunakan emosi menghadapi orang tuanya, karena Nicko sendiri sadar, jika mereka pasti marah, karena memang kenyataannya, Giara adalah seorang sugar baby.


Namun Nicko yakin, jika Giara tak pernah disentuh ataupun berhubungan dengan mereka. Giara hanya terpaksa melakukan semua itu. Jika saja Nicko sejak dulu mengenal Giara, mungkin saja Giara tak akan terjebak dengan keadaan seperti itu.


"Ah, biarlah Mama dan Papa marah padaku. Aku hanya perlu mengatur rencana dan waktu yang tepat untuk menjelaskan pada mereka dengan kepala dingin. Justru aku ingin mengubah Giara sepenuhnya, aku ingin dia hidup dengan benar. Karena itulah aku rangkul dia, dan mencoba untuk membuatnya layak berada di sampingku. Semoga saja Tuhan akan membolak-balikkan hati Mama dan Papa, agar mampu menerima Giara dengan keadaan yang seperti ini.


Nicko pun berlalu meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Situasinya saat ini masih panas, tak mungkin Nicko memaksakan diri untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


Mungkin beberapa hari ke depan, saat keadaan telah membaik, Nicko akan berbicara dengan orang tuanya. Tak akan mudah memang, namun Nicko telah bertekad kuat, akan memperjuangkan Giara sampai benar-benar bisa menjadi miliknya.


........


Beberapa hari kemudian ....


Setelah semuanya selesai, Nicko pun menyiapkan laporan untuk diserahkan pada DPA. Ditemani oleh Bu Sinta, hari ini Nicko akan menghadap Pak Handoko lagi. Sesuai yang telah direncanakan, Bu Sinta diminta Nicko untuk meraih hati Pak Handoko lebih dulu.


Setelah Bu Sinta berbicara, barulah Nicko akan menjelaskan semuanya. Sepertinya Pak Handoko bukan orang yang sulit ditaklukkan. Terlihat dari caranya berbicara, Pak Handoko tak pemarah apalagi mudah membentak.


Pembawaannya yang halus membuat Nicko lebih santai mengutarakan laporan tentang Giara. Hari ini Pak Handoko terlihat lebih ramah dari biasanya.


"Ibunya sakit sudah lama?"

__ADS_1


"Sudah hampir tiga tahunan, sejak Giara akan masuk ke perguruan tinggi ini. Kurasa, dia sangat tertekan dan stres karena kehilangan Ayah, dan kini harus menjadi tulang punggung keluarga. Tapi Pak Handoko tak perlu khawatir, saya telah menjamin, jika dia tak akan lagi masuk kedalam pekerjaan hina itu. Saya juga menjamin, nama baik kampus kita akan tetap terjaga, Pak,"


Nicko terus menjelaskan dan meluruskan semuanya. Pak Handoko mengangguk, sepertinya alasan Nicko cukup masuk akal. Melihat Pak Handoko seperti memberikan lampu hijau, membuat Nicko refleks tersenyum dan berkedip pada Bu Sinta.


Lagi-Lagi, Bu Sinta menanggapinya dengan berbeda. Kedipan Nicko membuat Bu Sinta terpana dan Bu Sinta merasa jika Nicko kini telah meresponnya. Kedipan Nicko dibalas oleh kedipan maut Bu Sinta.


Nicko menyesal telah melakukan hal tersebut pada Bu Sinta. Selalu saja perawan tua itu agresif pada Nicko. Selepas pertemuan dengan Pak Handoko, sebisa mungkin Nicko harus menghindari Bu Sinta.


Jika bisa memilih, Nicko lebih berharap tak jadi mentraktir Bu Sinta, dan hanya memberikannya sejumlah uang sebagai kompensasi karena telah membantunya.


Nicko hanya berharap, jika masalah ini cepat selesai. Pak Handoko menilik dan membaca laporan itu satu persatu. Setelah selesai, Pak Handoko pun menatap Nicko. Sepertinya, Dosen senior ini akan berbicara pada Nicko.


"Bu Sinta, apa boleh saya berbicara empat mata dengan Pak Nicko? Apa Bu Sinta tak keberatan menunggu di luar terlebih dahulu?" pinta Pak Handoko.


"Ah, begitu ya? Baiklah, asal jangan lama-lama ya, Pak Doko. Saya sama Pak Nicko ada urusan setelah ini. Yang jelas, semoga laporan kami diterima. Ya Pak ya," seru Bu Sinta dengan gaya centilnya.


Nicko tak mengerti, kenapa Pak Handoko hanya ingin berbicara dengannya. Namun Nicko mencoba bersikap sewajarnya dan tak terlihat gugup sedikitpun. Setelah Bu Sinta keluar, barulah Pak Handoko mulai berbicara.


"Pak Nicko, saya tahu, kenapa Anda bersikeras ingin menolongnya. Sepertinya, Anda tertarik dengan kehidupannya, ya?" ucap Pak Handoko.


"Ah, bagaimana Pak? Maaf, saya tak mengerti maksud Bapak,"


"Iya, Anda berusaha keras agar gadis ini tak melakukan pekerjaan itu lagi. Bukankah Anda tertarik dengannya? Karena itulah, Anda berusaha keras membantunya. Niat Anda mulia Pak Nicko ... hanya saja, ada yang masih saya ragukan."


"Ragukan? Apa itu Pak?"

__ADS_1


"Biasanya, jika sudah terjerumus dalam hal tersebut, akan sulit bagi mereka untuk melepaskannya. Akan banyak orang yang mencarinya dan menghasutnya agar kembali. Bagaimana Anda mengatasi hal tersebut? Jika dia melanggar janjinya, maka jabatan Anda yang akan kami pertaruhkan Pak Nicko," Pak Handoko menimang-nimang kemungkinan yang terjadi.


Nicko terdiam. Ia teringat, jika ada beberapa orang yang mengancam dan menerornya. Nicko sedikit terganggu dengan hal itu. Memang sepertinya tak akan mudah bagi Giara untuk melepas semuanya.


Hanya saja, Nicko ingin Giara menghapus image sugar baby itu. Sebisa mungkin, Giara harus benar-benar terlepas dari perbuatan hina itu. Sekalipun itu mengancam diri Giara, Nicko tak akan tinggal diam, dan ia rela mempertaruhkan semuanya, demi Giara.


"Saya yakin, saya mampu menjaga dan melindunginya Pak Handoko. Saya yakin, dia tak akan kembali pada dunia malam itu. Saya berniat untuk serius padanya, dan membuat hidupnya bersatu dengan hidup saya, Pak." ucap Nicko.


"Seserius itukah Anda padanya? Dalam catatan saya, Anda pernah menyewa dia, untuk apa itu? Saya kira Anda telah menikah,"


"Ah, itu karena saya malu tak punya pasangan, Pak ... jadi saya menyewanya. Dan kebetulan itu terjalin hingga saat ini. Saya berniat merubahnya ke jalan yang lebih baik."


"Baiklah, saya akan mencabut proses pemberhentian Giara. Dengan catatan, dia masih dalam pemantauan selama tiga bulan. Jika dalam tiga bulan ini catatannya baik, maka dia tak akan dikeluarkan ... namun, jika ada catatan buruk dalam kurun waktu tersebut, makan Giara, dan juga Anda Pak Nicko, harus turut berhenti dari kampus ini. Bagaimana?" Pak Handoko memberikan pilihan sulit.


Nicko terdiam. Ini memang sedikit berat. Mengingat, jika Giara adalah anak yang bandel dan nakal. Ia tak bisa diberi tahu. Haruskah Nicko secepat kilat menjadikan Giara miliknya?


Bagaimana Nicko meyakinkan Pak Handoko? Nicko sendiri tak yakin pada Giara ... tapi, semua ini sudah terlanjur. Nicko hanya perlu membuat Giara patuh, dan tak melanggar janjinya. Jika Giara terikat oleh Nicko, akankah Giara berani macam-macam lagi?


"Haruskah aku menikahinya agar dia menurut padaku?" Nicko refleks berbicara sendiri.


"Apa Pak Nicko? Menikahinya? Wah, itu sungguh luar biasa!" Pak Handoko mendengar ucapan Nicko.


"Astaga, Pak, maaf-maaf ... s-saya tak bermaksud mengatakannya. Maafkan saya, maaf sekali ..."


"Pak Nicko, rupanya Anda sangat mencintainya ..." Pak Handoko tersenyum halus.

__ADS_1


Astaga, kenapa akhir-akhir ini otakku selalu saja mempermalukan diriku sendiri? Aaargggh, harga diriku hancur di mata Pak Handoko. Ucap Nicko dalam hati.


*Bersambung*..


__ADS_2