Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 41. Misi Mencintai


__ADS_3

"Aku tak masuk kuliah karena mengantar Ibu berobat," jawab Giara simpel, ia tak mau terlihat lemah dihadapan Nicko.


"Berarti surat dokter yang dititipkan pada temanmu itu bohong? Kenapa tak pakai surat dokter ibumu saja?" Nicko mendesak Giara.


Lagi-Lagi, selalu saja dia menyudutkanku. Apa maumu sih, dosen menyebalkan? ucap Giara dalam hati.


Giara menghela napas panjangnya. Ia memang tak sakit parah, hanya pusing karena semalaman kurang tidur. Bagaimana bisa tidur? Harga diri Giara telah mati dihadapan Nicko. Giara terlanjur malu, dan enggan bertemu Nicko.


Sialnya lagi, kali ini Nicko malah datang ke rumahnya. Tentu saja Giara merasa kaget dan tak menyangka. Kedatangan Nicko kali ini tentu saja semakin membuat Giara salah tingkah.


"Ya, ya, aku tak sakit. Aku tak kenapa-napa. Aku hanya malas kuliah! Puas?"


"Nah, begitu dong. Itu baru jawaban yang jujur dan kuinginkan." Nicko terkekeh.


"Pak Nicko memang selalu ingin puas, terus saja menyebalkan." gerutu Giara.


"Memang kamu pernah memuaskanku?"


“Eh, apa maksudnya?" Giara kaget.


"Ah, sudah, tak usah dibahas. Nih, makanan untuk kamu dan keluargamu. Nanti dingin," Nicko menyerahkan barang bawaannya.


Giara tersenyum manis, "Makasih, Pak. Padahal tak perlu repot-repot seperti ini."


"Aku tak repot. Kalau aku repot, mana mau aku membawakannya!" celetuk Nicko.


"Hish, dasar menyebalkan!"


Nicko terkekeh. Giara pun membuka makanan yang Nicko bawa, dan menyuguhkannya kembali pada Nicko. Karena siapa yang akan memakan makanan manis seperti ini? Ibu Giara sudah tak.diperbolehkan memakan makanan dengan kadar gula tinggi, ataupun rasa asin yang berlebihan.


"Ibuku tak boleh makan makanan yang terlalu manis. Ini untuk Bapak, siapa tahu Pak Nicko mau,"

__ADS_1


"Ya, terima kasih. Memangnya di rumah ini hanya ada ibumu saja?" tanya Nicko.


"Ya, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Ayah sudah meninggal, dan aku tak punya adik. Aku anak semata wayang." jawab Giara.


"Kamu anak semata wayang? Sangat disayangkan,"


Giara mendelik kesal, "Kenapa harus berkata sangat disayangkan? Apa maksud Pak Nicko?"


“Ya, sangat disayangkan, karena tidak sesuai harapan. Harusnya kamu bisa buktikan jadi anak semata wayang yang membanggakan."


"Selalu aja ceramah."


Giara kesal, karena Nicko terus saja menyalahkan dirinya. Memang, Nicko ini orang yang sok perfect. Dia bisa menceramahi orang lain, tanpa berkaca jika dirinya juga harus diceramahi.


"Jangan mendelik seperti itu, kamu terlihat seperti Nyi Roro Kidul kalau begitu!"


"Biarkan saja, Nyi Roro Kidul kan cantik!" Giara tak mau kalah.


"Aarrgghhh, Pak Nicko! Anda selalu menyebalkan."


Nicko terdiam. Ia menatap Giara dengan seksama, rupanya jika sedang marah Giara malah terlihat semakin cantik dan menawan. Akhirnya, Nicko mencoba untuk mengatakan hal yang seharusnya ia katakan sejak kemarin.


“Harusnya kemarin kamu sadar. Kamu sudah berjanji padaku, tapi kamu malah mengingkarinya. Apa kamu tak tahu? Di cafe itu tentu saja banyak pasang mata yang melihatnya. Diantara pasang mata itu ,tentu saja ada yang mengenalku. Kamu terlalu polos, Giara. Aku malu, tapi apa boleh buat." ucap Nicko.


Giara refleks menoleh Nicko. Ia sadar, jika dirinya tengah melakukan kesalahan dan membuat Nicko malu. Memang, ada keinginan dalam hati kecil Giara, untuk menyudahi semua itu.


Hanya saja, Giara sendiri bingung. Bagaimana cara menyudahinya? Pekerjaan dan profesi itu, sudah melekat dalam dirinya. Rasanya Giara akan kehilangan semuanya jika mengakhiri statusnya sebagai seorang sugar baby.


"Maaf, jika aku telah membuat Pak Nicko malu. Teman Pak Nicko melihatku?" ucap Giara menunduk.


"Ya, mereka melaporkannya padaku. Aku bingung dan kaget bukan main. Di sisi lain, aku sangat kesal. Aku juga marah padamu. Tapi, aku siapa? Aku bukan siapa-siapamu. Perihal kamu mengingkari janjimu, memangnya aku bisa apa? Aku tak punya kuasa apapun. Tak ada hitam di atas putih. Tak ada perjanjian yang menguatkannya. Hanya sebatas untaian kata, yang tentunya tak akan mempan untuk dirimu." Ucap Nicko begitu dalam.

__ADS_1


Giara tentu saja merasa bersalah dan malu. Nicko benar-benar mengatakannya dari hati. Hal itu membuat Giara semakin tak nyaman dan bingung harus menjawab apa.


"Maafkan aku, Pak Nicko. Aku benar-benar bodoh. Maaf, Pak Nicko pasti sangat kesal padaku saat itu. Sehingga melakukan hal yang terjadi di hotel," ucap Giara sembari menunduk.


"Apa kamu benar-benar tak bisa menerima tawaranku? Tawaranku tentu saja merujuk pada hal yang positif Giara. Aku mengajakmu untuk kembali hidup dengan baik. Walau semua ini, memang butuh proses yang tak sebentar."


"Entahlah, rasanya aku canggung jika menggantungkan hidup pada Anda, Pak. Walau tujuan Pak Nicko memang baik, tapi aku merasa tak bisa. Aku rasa, aku takkan sampai hati meraup uang banyak dari orang seperti Anda, yang sama sekali tak menginginkan jasaku." ucap Giara.


"Aku membutuhkan jasamu. Tentu saja aku membutuhkannya. Kamu sugar babyku, kan? Harusnya kamu tak bersama pria lagi, karena aku membayarmu hanya untukku. Tapi kamu malah mengingkarinya, padahal aku sudah mengatakannya padamu.“


“Pak Nicko kan tak benar-benar ingin menyewaku. Pak Nicko hanya sebatas ingin membantuku. Itu yang membuatku merasa canggung, Pak. Mana bisa aku memakan uangmu, sementara Pak Nicko saja tak benar-benar membutuhkanku." ucap Giara membuat Nicko kebingungan.


Nicko masih terdiam. Secara logika, ia memang buang-buang waktu karena menyewa Giara untuk hal yang entah apa maksudnya. Tapi, jika Nicko berpikir lebih, hal itu seperti membantu Giara terlepas daru kehidupan malamnya.


"Jika aku melakukan misi padamu, dan aku membayarmu. Apa kamu mau?" tanya Nicko serius.


"Misi? Misi apa maksud Bapak?" Giara tak paham sama sekali.


"Misi, buatlah aku jatuh cinta kepadamu, dan jika itu berhasil, maka aku akan bayar berapapun yang kamu mau!"


"A-apa? Membuat Anda jatuh cinta? T-tapi, Pak," Giara terkejut bukan main.


Nicko menelan ludahnya, ia melihat jika Giara memang cantik. Kenapa Nicko harus mengatakan hal seperti ini? Apa Nicko sudah tak mementingkan ego dan harga dirinya?


"Aku adalah tipe pria yang sudah mati rasa. Aku sulit untuk jatuh cinta lagi. Jika kamu bisa, silakan lakukan apapun semampumu, dan buatlah aku mencintaimu. Jika kamu berhasil, maka aku akan membayarmu sesuai kinerjamu. Tentu saja dengan jumlah yang bisa dibilang fantastis." tawar Nicko lagi.


"Tapi, jika saya mampu, bagaimana? Lantas, hati Pak Nicko yang telah jatuh cinta pada saya akan dibagaimanakan? Bukankan ini hanyalah sebagian dari pekerjaanku saja?" Giara menekan Nicko.


"Jika aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu, maka lakukanlah terus, dan cintailah juga diriku. Hingga pekerjaanmu bisa menjadi pekerjaan seumur hidupmu. Yaitu, mencintaiku. Apa kamu sanggup?"


"Astaga, bualan macam apa ini?" Giara kaget bukan main, karena tiba-tiba Nicko mengatakan hal yang sangat-sangat di luar dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2