Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 48. Mulai Terdengar Tak Nyaman


__ADS_3

Beberapa saat sebelum pembicaraan Giara dan Om Hans berakhir ....


"Kenapa diam? Apa ucapanku barusan itu benar? Apakah ada pria yang kini dihatimu? Jujur saja, Diva, aku akan lebih menghargai kejujuranmu," ucap Hans dengan tatapan yang tajam.


Rupanya, Giara tengah berpikir. Sepertinya Hans Wijaya memang sudah curiga, jika dirinya sebenarnya tengah memiliki seorang lelaki lain dalam hidupnya. Giara sudah memantapkan diri agar Hans tak mengetahuinya.


Bagaimanapun caranya, Giara akan tetap menyembunyikan Nicko. Hans tak boleh tahu, jika Giara berhenti dari profesinya karena Nicko. Hal ini akan membahayakan bagi Nicko juga tentunya.


"Om, kalau pun aku memang harus bersama pria lain, aku akan mencari pria yang masih sendiri. Aku tak ingin menggangu kebahagiaan Om Hans, dan sang istri. Tahukah Om, selama ini aku selalu dihantui perasaan bersalah. Aku malu, aku merasa jika diriku ini adalah benalu dalam kehidupan Om. Aku hanya wanita penghibur yang menyukai uang dan hanya mencintai uang. Aku sadar akan perbuatanku, Om, aku tak mungkin selamanya melakukan hal ini." Giara menunduk lesu.


"Sudah kubilang, jika kamu tak seperti itu. Jika kamu bersamaku, maka tak akan ada status wanita penghibur yang melekat dalam dirimu! Percayalah padaku, karena aku pastinya akan membahagiakanmu, dan menjadikanmu ratu dalam rumah tangga kita nantinya." Hans masih terus merayu.


"Om, tidak akan seperti itu statusnya. Aku pasti akan dicap sebagai wanita perebut suami orang. Jika saja istrimu tahu, maka aku pasti akan dicaci maki olehnya. Tidak, ini tidak seperti yang aku harapkan. Jika Om memilihku karena ada masalah dengan istri Om, itu tak baik, Om. Aku tak akan bisa menerimanya jika seperti itu."


"Dia sudah menggugat cerai padaku, aku tinggal menandatanganinya." jawab Hans.


Deg. Hal ini semakin membuat Giara merasa tersudutkan. Bagaimana mengatasi paksaan pria paruh baya ini? Tak mungkin dengan mudahnya membuatnya percaya.


"Jangan, ketika wanita meminta hal seperti itu, sebenarnya ia menginginkan prianya menggagalkan perceraian itu, Om. Om harus peka pada wanita. Dengan wanita berkata begitu, itu tandanya dia menggertak suami, bagaimana sang suami menyikapinya. Harusnya Om bukan menyetujuinya, tapi Om harus menggagalkannya. Dengan seperti itu, wanita akan merasa dihormati dan dihargai. Jangan bersikap sama saja, Om, Om harus memahami keinginan dan sikap seorang wanita. Percayalah, tak ada wanita yang ingin bercerai. Masalah Om dan istri Om sebenarnya bisa diselesaikan. Selesaikanlah dengan kepala dingin. Mana tahu, hubungan kalian bisa langgeng dan menemukan titik kebahagiaan. Jika kalian berbahagia, aku tentu saja akan merasa bahagia juga." Giara mencoba merayu hati Om Hans, agar tak curiga pada permintaannya.


"Benarkah apa yang kamu katakan ini? Apa mungkin aku dan Diana bisa kembali menjalin hubungan rumah tangga yang kita harapkan? Kenapa aku begitu tak yakin akan hal ini,"


"Aku yakin, karena tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, Om. Toh, selama ini kalian tak pernah saling cinta kan? Maka ini saatnya. Ini saatnya mengubah semua. Jangan sampai terlambat, dan diantara kalian ada yang menyesal ..."


"Diva, kamu begitu dewasa. Andai saja, Diana adalah kamu. Sepertinya aku akan sangat merasa bahagia ..."


"Istri Om juga bisa mencintai Om, asalkan Om juga mencintainya dengan tulus. Semangat, Om, aku yakin Om mampu mengatasi masalah dalam rumah tangga Om," Giara terus menyemangati Om Hans.


Om Hans rupanya termakan dengan ucapan Giara. Sehingga pria ini merasa jika dirinya harus berbenah dengan rumah tangganya. Giara pun senang sekali, karena rupanya Hans Wijaya tak semenakutkan yang ia bayangkan.


Semoga saja, Hans Wijaya dan istrinya bisa kembali bersama. Itulah satu hal yang Giara harapkan. Jadi, Giara tak lagi merasa bersalah pada pria yang menjadi sugar daddy-nya itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Giara pamit pulang pada Om Hans, dengan alasan ia harus menemani ibunya. Om Hans pun memercayainya dan membiarkan Giara pulang lebih dulu.


Tak lupa, senyum manis dan kecupan terakhir Giara layangkan pada pria tua ini. Giara sebisa mungkin bersikap manis dan ramah, agar Hans tak terlihat sakit hati.


Giara berlalu, segera mencari keberadaan Nicko. Namun rupanya Nicko tak ada di dalam mobilnya. Giara mengirim pesan pada Nicko tapi ternyata Nicko tak membalasnya.


Tak lama, Om Hans juga pergi. Giara merasa aman, karena pria tua itu tak akan lagi curiga padanya. Gkara sengaja tak ingin diantar pulang, dengan alasan yang cukup masuk akal.


Giara pun mencari Nicko ke berbagai sudut cafe, mana tahu jika Nicko tengah berada di suatu tempat. Mengingat jika mobil Nicko masih berada di parkiran cafe ini.


Beberapa saat mencari, betapa kagetnya Giara karena melihat Nicko tengah berbincang bersama dengan seorang wanita. Giara merasa mengenal wanita itu, namun Giara lupa, siapa dia? Apakah mereka pernah bertemu?


"Pak Nicko," sapa Giara yang keheranan karena melihat Nicko tengah bersama dengan seorang wanita.


"G-Giara?" Nicko terlihat kaget.


Ekspresi Giara terlihat biasa saja, dan tak menunjukkan reaksi apapun. Berbeda dengan Diana, yang terlihat begitu kesal dan emosi.


"Nicko, tunggu, urusan kita belum selesai!" Diana tak rela jika Nicko meninggalkannya.


"Jika Pak Nicko masih ada urusan, silakan saja, aku akan menunggu di mobil, Pak." ucap Giara.


"Ah, tidak, tidak. Ayo kita pulang, tak penting berada di sini. Giara, ayo," Nicko tak memedulikan rengekan Giara.


Akhirnya, Nicko mengajak Giara pergi ke mobil. Nicko pun melingkarkan tangannya di pinggang Giara. Hal itu sontak saja membuat Giara kaget bukan main. Namun Giara terlihat biasa saja, karena ia tak boleh mengecewakan Nicko.


Diana mengepalkan tangannya saking emosi. Namun Diana tak bisa berbuat apa-apa, karena Nicko tak pernah sekalipun mau mendengar ucapannya. Nicko dan Giara pun berlalu, hingga akhirnya mereka sampai di mobil, dan Nicko refleks melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Giara.


"M-maaf, aku tak sengaja melakukannya," ucap Nicko.


"Ah, iya. Tak apa-apa, Pak,"

__ADS_1


Nicko membuka pintu mobilnya, "Naiklah ..."


"Terima kasih," Giara pun mengangguk lalu naik ke mobil Nicko.


Saat mereka berada di dalam mobil, keadaan jadi canggung. Nicko memutuskan untuk segera meninggalkan cafe tersebut. Mencoba untuk tetap rileks, namun tetap saja ada perasaan yang sedikit mengganjal.


Giara sebenarnya penasaran, siapa wanita yang tengah berbincang dengan Nicko? Terlihat sekali jika Nicko malas dan kesal pada wanita itu. Ingin sekali rasanya Giara bertanya, tapi ... apakah Nicko tak akan marah?


"Pak, Nicko ..."


"Ya, kenapa?" jawab Nicko.


"Maaf, kalau boleh tahu, tadi itu siapa? Tapi, kalau Pak Nicko tak mau jawab pun tak apa-apa ..." Giara mengucapkannya secara perlahan.


Nicko terdiam. Tak mungkin ia akan menyembunyikan hal ini dari Giara. Karena Diana adalah sosok yang harus Giara waspadai mulai sekarang.


"Tak apa, aku akan menjawabnya ..." Nicko mengangguk-angguk pelan, lalu menarik napas panjangnya, "Dia adalah, mantan istriku ...."


Deg. Seperti disambar petir, mendengar jawaban Nicko barusan. Benarkah wanita tadi itu mantan istri Nicko? Jika itu mantan istri Nicko, mungkinkah mereka akan kembali bersama demi anak mereka?


Giara pura-pura terlihat biasa saja, walau sebenarnya hatinya kaget dan tak menyangka jika jawaban itu akan keluar dari mulut Nicko.


"Mantan istri Pak Nicko? Wah, senang sekali. Pak Nicko pasti merindukannya. Sudah lama sekali kalian tak bertemu. Selamat ya ..." terdengar rona cemburu saat Giara mengatakan hal tersebut.


"Apa? Apa maksudmu? Kenapa kamu mengatakan hal gila seperti itu?" Nicko sedikit kesal.


Giara terdiam. Ia teringat akan ucapannya pada Om Hans, yang menasehati Om Hans agar kembali pada istrinya dan menata kembali rumah tangga mereka. Apakah nasehat Giara itu seharusnya diberikan pada Nicko? Kenapa hati Giara sakit sekali, ketika mendengar Nicko mengatakan 'mantan istrinya'


Tuhan, ada apa dengan hatiku? Kenapa aku harus merasakan sakit? Padahal, apa yang harus kupermasalahkan? Ada apa ini? Ah, tidak, tidak. Mungkinkah aku telah jatuh? Dan merasa cemburu? Batin Giara dalam hati.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2