
Nicko menyadari jika fotonya dan Giara tersebar ke seluruh kampus. Ia juga telah melihat foto tersebut. Hal itu membuat Nicko senang. Aneh memang, kenapa Nicko tak merasa risih pada foto tersebut?
Bukankah seharusnya Nicko marah? Bukankah foto tersebut merupakan pencemaran nama baik? Namun Nicko tak berpikir demikian. Nicko malah senang melihat foto tersebut.
Biarkan saja mereka mengira Nicko dan Giara ada sesuatu. Nicko tak perlu khawatir, karena Giara memang satu-satunya wanita yang tahu semua rahasia Nicko. Giara juga merupakan wanita yang sering Nicko khawatirkan saat ini.
Penawaran tentang menjadi sugar baby pribadi Nicko pun belum dijawab Giara. Jika saja Giara mau menerima permintaan Nicko, maka foto-foto yang beredar akan menjadi seperti benar adanya.
Nicko senyam-senyum sendiri jika teringat akan kelakuan Giara yang pecicilan. Entah kenapa, Giara membuat Nicko terus saja memikirkannya. Kebencian Nicko pada Giara mulai sirna, karena perlakuan-perlakuan Giara yang menyentil hati Nicko.
Nicko yang terlihat tengah senyam-senyum di atas meja, ternyata diperhatikan oleh sesama dosen yang bernama Bu Sinta. Entah mengapa, Bu Sinta merasa terheran-heran melihat ketampanan Nicko.
Apalagi, ketika Nicko tengah tersenyum seperti itu. Penampakan yang sangat-sangat jarang terjadi. Senyuman Nicko membuat hati Sinta tenang, seakan melayang-layang dengan penuh cinta.
"Ehmm, Pak Nicko," Sinta mengagetkan Nicko.
"Eh, ya ampun, i-iya, Bu? Kenapa? Maaf, saya tak fokus barusan." Nicko sedikit kaget.
"Pak Nicko kenapa sih senyam-senyum gitu? Lagi mikirin saya ya, Pak? Ya ampun, Pak, saya mah jangan dipikirin, diajak makan aja udah pasti mau banget!" Sinta cengegesan bak ABG yang tengah jatuh cinta.
"Astaga, Bu. T-tidak, tidak seperti itu. Maaf, saya tengah melamunkan sesuatu." Nicko merasa tak nyaman dengan tingkah Bu Sinta yang terlalu percaya diri.
"Gak apa-apa, Pak Nicko. Gratis kok ngelamunin saya," goda Bu Sinta.
Ya Tuhan, kenapa dia ini? Over pede sekali? Astaga, jangan sampai aku terus terlibat dengannya. Batin Nicko.
"Ah, begitu ya, Bu. Kalau begitu, saya pamit permisi dulu ya, ini sudah jam makan siang. Saya akan pergi ke kantin." Nicko ingin segera menghindari Bu Sinta.
__ADS_1
"Eh, ya ampun Pak Nicko, memang begitu kali ya kalau jodoh? Bisa-Bisanya pas begini ... Pak Nicko tahu gak sih, saya juga mau ke kantin loh ini. Kan kebetulan banget, ya kan? Yaudah kalau gitu, kita bareng aja Pak Nicko, yuk bareng saya ke kantinnya." Bu Sinta terkekeh begitu percaya diri.
Nicko termakan ucapannya sendiri. Berulang kali ia bisa menghindari gangguan dari Bu Sinta, namun kali ini rupanya Nicko tengah apes dan sepertinya tak bisa menghindar lagi.
"T-tapi, Bu, s-saya harus ke toilet dulu. Aduh, kebelet ini sih. Bu Sinta duluan saja ya, saya pasti lama di toiletnya. Gak enak kalau Bu Sinta harus nungguin saya terlalu lama. Ibu duluan saja, ya," Nicko terus merayu Bu Sinta agar tak memaksanya ke kantin bersama.
"Aduh, kasihan sekali Pak Nicko yang lucu ini. Ya sudah, Pak, jangan khawatirkan saya. Pak Nicko ke toilet saja dulu. Saya pasti akan menunggu Pak Nicko. Yang penting, kita pergi ke kantin bersama, dan juga makan bersama." Bu Sinta kekeh.
"Eh, ya Tuhan, t-tapi, Bu, ini pasti lama sekali. Bu Sinta bayangkan saja, sudah tiga hari saya tak buang air besar. Pasti akan sangat lama sekali untuk mengeluarkannya. Bu Sinta duluan saja ya ke kantinnya, Bu ..." Nicko terus berupaya menjauhkan Sinta darinya, walau ia harus mempermalukan dirinya sendiri.
"Eh, Pak Nicko, tenang aja, saya akan tetap menunggu Pak Nicko, sampai Bapak keluar dari toilet. Dan juga, Pak Nicko tak perlu khawatir, orang ganteng mah kalau buang air tetep ganteng aja, ya kan Pak? Udah sana, ke toilet dulu. bIar saya tunggu Bapak di sini. Mm, atau ..., apa saya nunggu di depan toilet aja, Pak?" Bu Sinta begitu antusias.
"Astaga, saya tidak jadi ke toilet Bu." Nicko sudah kehabisan kata-kata, ia pasrah, karena tak bisa lagi menghindari ajakan Bu Sinta yang terus memaksanya.
"Ah, kenapa Pak? Masuk lagi kedalem ya? Xixixi, apa Bapak tak sabar ingin segera makan siang bersama saya?" Bu Sinta begitu pede luar biasa, sehingga membuat Nicko tak sanggup lagi menghadapinya.
Mau tak mau, Nicko pun ke kantin bersama Bu Sinta. Ia merasa risih, karena dosen wanita ini rupanya tak tahu malu dan terus saja menempel padanya. Ibarat parasit, yang tengah mencari peruntungan.
Nicko pun terpaksa duduk berhadapan dengan Bu Sinta. Karena Bu Sinta terkesan ambisius dan selalu mencari kesempatan agar bisa bersama Nicko.
"Pak Nicko mau makan apa?" tanya Bu Sinta begitu manis.
"Saya pesan es teh saja, saya tak lapar." Semua itu Nicko lakukan agar ia bisa segera menyelesaikan makan siangnya dengan dosen pecicilan ini.
"Ah, Pak Nicko selalu malu-malu kucing deh. Bilang aja kalau Pak Nicko mau sepiring berdua sama saya. Iya kan, Pak?" Bu Sinta lagi-lagi tertawa puas karena bisa terus menggoda Nicko.
"Astaga, Bu ... tidak, tidak, tidak seperti itu maksud saya." Nicko benar-benar sudah lelah menghadapi bU Sinta yang aneh ini.
__ADS_1
Tiba-Tiba, gerombolan mahasiswi lain juga turut memenuhi ruang kantin. Mereka adalah Giara dan Belva. Ada juga mahasiswa lain di kelas Giara, yang sepertinya baru selesai mata kuliah.
Giara tak menyadari kehadiran Nicko di kantin ini. Ia, Belva, dan kedua teman lainnya segera mencari tempat duduk agar bisa makan dengan nyaman. Giara kini menjadi pusat perhatian anak-anak kampus, karena insidennya dengan Nicko.
Foto-Foto yang tersebar itu memang sudah diketahui Giara, namun ia mengabaikannya, karena Giara merasa jika semua itu hanya hoax dan fitnah baginya. Ia tak perlu klarifikasi apapun, karena menurutnya hal itu tak benar.
Giara dan Nicko tak ada hubungan apapun sama sekali. Biarkan saja kabar itu beredar, karena nanti juga akan redup sendiri. Giara tak ambil pusing, karena Nicko pun terlihat tak mengindahkan kabar yang beredar tersebut.
Saat Belva dan Giara tengah menunggu makanan tiba, tanpa sadar, pandangan Belva tertuju pada Nicko dan Bu Sinta yang terlihat sedang duduk bersama. Sontak saja Belva refleks menertawakan Nicko.
"Hahaha, guys, guys ... coba kalian lihat deh, itu Bu Sinta bikin ulah apa lagi tuh? Dia sepertinya lagi deketin Pak Nicko. Lihat deh ke sana, mereka nampak serasi sekali bukan?" Belva tak kuasa menahan tawanya.
"Astaga, iya bener tuh. Rupanya Bu Sinta lagi pedekate sama Pak Nicko. Wah, bahaya nih kalau ada yang ketahuan lagi deket ama Pak Nicko. Bisa-Bisa dilabrak sama Bu Sinta." Ujar Citra, teman satu kelas Giara dan Belva.
"Eh, Ra, lu kan ada skandal foto berdua tuh ama Pak Nicko. Netijen mana sih yang asal sebarin tuh foto? Bahaya loh kalau Bu Sinta tahu. Gimana kalau ku dilabrak sama dia nanti?" tanya Belva sambil tertawa.
"Eh, iya bener. Baru-Baru ini kan di grup WhatsApp lagi rame bahasin foto kamu sama Pak Nicko, Ra. Hati-Hati kamu," tambah Vina.
"Astaga, biarin aja lagi. Guys, denger ya ... gue sama Pak Nicko gak ada hubungan apapun. Itu netijen yang maen cekrek gue terus sebarin gitu aja, cuma fitnah tuh. Kalau gue usut, bisa masuk pasal pencemaran nama baik dia. Tapi, whatever deh ... gue gak peduli. Orang gue gak ngerasa ini pacaran sama dia." balas Giara.
"Elo sih gak apa-apa. Tapi gimana kalau Bu Sinta tahu, dan dia marah besar sama lo karena deketin Pak Nicko? Mau gimana lo? Dilabrak perawan tua," Belva lagi-lagi tertawa ngakak, ia sangat puas mencaci dosen rempongnya itu.
"Ah, itu sih urusan kecil. Malah, kalau emang Bu Sinta suka ama Pak Nicko, gue bantuin aja jadi mak comblang mereka. Gue bakal berusaha satukan Bu Sinta dan Pak Nicko, toh ... mereka sama-sama belum memiliki pasangan hidup, kan? Lagipula, Pak Nicko juga pasti membutuhkan sosok wanita dalam hidupnya untuk mengurus anaknya saat ini!" Ucap Giara refleks keceplosan.
"Hah? Apa? Anaknya? Emang Pak Nicko udah punya anak?" Citra dan Vina teramat kaget mendengar ucapan Giara.
“Beneran lu, Ra?" Belva mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Sontak saja Giara kaget bukan main. Ia lupa, jika di kampus ini tak ada yang tahu mengenai status Nicko yang sebenarnya. Astaga, astaga ... ya Tuhan, maafkan aku. Maafkan mulut lancangku. Kenapa bisa-bisanya aku berkata seperti itu? Aaarrgghhh, bagaimana kalau mereka curiga atas perkataanku ini? Ucap Giara dalam hati.
*Bersambung*