Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 42. Apa Bapak Bermimpi?


__ADS_3

"Aku serius dengan ucapanku. Aku tak main-main." ucap Nicko lagi.


"Aku tak percaya. Kenapa Pak Nicko harus berkata seperti itu? Kenapa harus meminta wanita sepertiku melakukan hal tersebut padamu? Ini bukan candaan, Pak. Anda tak bisa seenaknya memainkan urusan perasaan. Selama profesiku menjadi sugar baby, aku tak pernah bekerja menggunakan perasaan. Aku tak bisa jika harus bekerja memakai hati!" Giara seakan menolak keinginan Nicko.


Nicko terdiam. Ia memang terkesan memaksakan kehendaknya. Namun Nicko sendiri tak mengerti, kenapa sulit baginya untuk melepaskan Giara. Seakan Giara adalah tanggung jawab Nicko.


Mungkin Nicko memang munafik, karena tak mungkin Nicko tak memiliki perasaan pada Giara. Nicko sepertinya sudah jatuh hati pada Giara, namun sayangnya, Nicko terlalu malu untuk mengungkapkannya.


Entah perasaan yang datang darimana, karena tak ada satu hal pun yang bisa dibanggakan dari diri Giara. Giara hanyalah seorang wanita nakal yang pekerjaannya hanya mendekati Om-Om. Lantas, kenapa Nicko bisa menaruh hati padanya?


"Entahlah, mungkin ini hanya ambisiku saja. Aku terlalu mendalami peran kita saat menjadi kekasih, hingga akhirnya aku terlalu berlebihan padamu." jawab Nicko.


"Tak ada yang spesial dari diriku. Aku hanyalah sampah yang tak berguna, Pak. Kenapa Pak Nicko harus meminta hal aneh seperti itu? Banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik, baik, dan tentu saja lebih terhormat dariku. Maaf, aku tak bisa melakukan apa yang Anda minta. Apalagi, jika itu urusan hati dan untuk selamanya. Karena aku tak pernah bisa memegang janjiku, aku takut mengingkarinya.“ jawab Giara begitu jujur.


Nicko tercengang mendengar penjelasan Giara. Bagi Nicko, Giara sama saja seperti wanita lain pada umumnya. Hanya saja, Giara memang sedikit berbeda dalam memilih jalan kehidupannya.


Giara salah arah, karena ia lebih memilih cara instan untuk mendapatkan uang. Hal inilah yang membedakan Giara dengan wanita-wanita lain. Namun entah mengapa, Nicko sendiri merasa kesulitan mencari wanita lain.


Berbeda dengan menatap dan melihat Giara. Seakan Nicko tengah menemukan yang pas. Nicko tak mau mencari wanita lain. Hatinya sudah melihat Giara, walau pada awalnya hubungan mereka tak baik, namun akhir-akhir ini, Nicko merasakan ada sesuatu yang berbeda jika menatap Giara.


"Aku tak tahu, apa yang terjadi dengan hati dan perasaanku. Aku sendiri bingung, kenapa aku harus begini? Entahlah, akal sehatku tak bisa diajak bekerja sama. Aku sendiri bingung." ucap Nicko.


"Jika Pak Nicko ingin menjalin sebuah hubungan dan menikah lagi, aku bisa carikan beberapa wanita untuk Bapak. Kenalanku banyak, dari ABG, janda, perawan, dan sebagainya. Aku bisa menjodohkan Bapak, jika Pak Nicko ingin menikah lagi. Bagaimana?" Giara malah menawarkan diri untuk menjadi mak comblang.


"Apa-apaan maksudmu? Sembarangan saja main jodoh-jodohkan orang! Tidak, tidak. Aku tak mau!" tolak Nicko dengan kasar.


"Kenapa gak mau? Daripada Bapak minta saya melakukan misi itu, lebih baik Pak Nicko cari saja wanita yang siap menikah dan mencintai Bapak," jawab Giara enteng.


Nicko terdiam. Entah kenapa, kata-kata yang keluar dari mulut Giara begitu terdengar menyebalkan. Nicko tak suka, jika Giara terus-menerus menjodohkannya. Hati Nicko menolak, karena jelas-jelas Nicko tak menginginkan perjodohan dengan wanita lain.


Anehnya, saat Nicko meminta Giara untuk menjalankan misinya, Nicko malah terlihat antusias dan semangat mengatakannya. Intinya, Nicko hanya ingin Giara yang mengerjakannya.

__ADS_1


Apa sulitnya buat Nicko berucap? Berkata cinta pada Giara, dan mengharapkan jika Giara juga akan membalas perasaannya. Kenapa harus gengsi? Inilah hal yang tak dewasa dari Nicko.


Nicko terlalu kekanak-kanakan. Padahal, sebagai seorang pria, Nicko seharusnya bisa gentle dan mengatakan, jika Nicko mencintai Giara. Namun satu hal yang Nicko takutkan, Nicko takut, jika Giara akan menolaknya.


"Aku hanya ingin kamu!" jawab Nicko.


"A-apa?"


"Aku tertarik padamu! Tak peduli, jika kamu memiliki kekurangan, ataupun kamu adalah wanita malam. Itu sudah kupikirkan sejak kemarin-kemarin. Hal itu rupanya tak menggangguku. Kamu masih tetap saja terngiang-ngiang di kepalaku. Aku telah terjebak di dalam kehidupan rumit bersamamu. Rupanya, aku baru sadar, jika kamu ternyata memiliki kekuatan luar biasa yang bisa menarikku kedalam kehidupanmu. Aku harus bagaimana, Giara?" Nicko terdengar begitu serius dan tak main-main.


Giara speechless. Ia tak bisa menjawab ucapan Nicko. Kali ini, ucapan Nicko benar-benar tak bercanda sedikitpun. Terdengar suaranya yang serius dan tak main-main. Tak ada alasan bagi Giara untuk tak menjawab ucapan Nicko saat ini.


Mungkin inilah definisi dari benci jadi cinta. Di saat mereka saling membenci, rupanya tiba-tiba cinta datang mendatangi mereka. Dan hal ini, tentu saja mengagetkan. Mana bisa dua insan yang saling membenci dan tak saling menyukai bisa bersatu?


“Pak Nicko, apa Bapak sedang bermimpi?" tanya Giara dengan polos masih tak percaya.


Seketika itu pula, wajah Nicko jadi garang. Matanya memerah saking kesalnya mendengar ucapan Giara barusan.


"Aku serius. Apa kamu lihat aku sedang tidur dan bermimpi saat ini?"


"Aku tak bisa memercayainya ..." ucap Giara sembari menggeleng.


"Aku sendiri pun tak percaya, kenapa aku bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti ini padamu? Antara sadar dan tidak, sepertinya aku memang kehilangan akal sehatku saat mengatakan hal aneh seperti ini padamu.“ ucap Nicko menjaga gengsinya.


"Rupanya Bapak kehilangan akal sehat ya? Apa perlu kita ke psikiater?" Giara mencoba mencairkan suasana.


Nicko hanya terkekeh. Rupanya, ini adalah cara Giara mengelak perasaan yang Nicko ucapkan. Giara sepertinya merasa tak nyaman, karena ucapan Nicko semakin ke sini semakin membuatnya canggung.


Atas dasar apa Nicko mengatakan hal ini padanya? Kenapa tiba-tiba pembicaraan mereka jadi romantis seperti ini? Giara masih merasa jika hal ini hanyalah gurauan Nicko saja.


Tapi Nicko sepertinya tak seperti Giara. Nicko tulus mengatakannya, hanya saja Nicko masih ragu, karena Giara terkesan main-main dan tak menganggap serius ucapan Nicko.

__ADS_1


"Entahlah, aku sendiri tak mengerti, Giara. Terserah apapun yang kamu katakan. Lupakan saja apa yang aku bicarakan tadi. Mungkin kamu benar, aku hanya bermimpi saja. Orang yang bermimpi biasanya mengingau, kan? Anggap saja kali ini aku sedang mengigau." Nicko sepertinya mulai kesal.


Giara terdiam. Terdengar nada bicara Nicko yang sedikit emosi dan kesal. Mungkin ini karena Giara yang terlalu menganggap sepele ucapan serius Nicko.


"Pak Nicko marah ya?" tanya Giara.


"Nggak. Kenapa harus marah?"


"Keliatan kok, kalau Pak Nicko marah." ucap Giara.


"Sok tahu kamu!" Nicko memalingkan wajahnya dari Giara.


Ah, rupanya dia marah padaku. Sepertinya aku salah bicara kali ini. Apa yang harus aku lakukan agar Pak Nicko tak marah lagi padaku? Ucap Giara dalam hati.


"Aku ingin memastikan, apakah ucapan itu serius, atau tidak ..." ucap Giara tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"


Giara menatap Nicko dengan tajam. Lalu Giara mendekat, wajahnya terus memandangi Nicko, sembari mendekat dan terus merapatkan tubuhnya.


Entah apa yang akan Giara lakukan. Namun sepertinya, akan ada hal mencengangkan yang ia lakukan. Tanpa Nicko sadari, ternyata bibir Giara tengah mendekati bibir Nicko.


Tanpa aba-aba, Giara segera menempelkan bibirnya pada bibir Nicko. Hingga akhirnya, bibir mereka pun bertemu. Nicko kaget bukan main, ia mencoba melepaskan bibirnya dari bibir Giara, namun Giara menariknya, dan terus menciumi Nicko, hingga ia merasakan sensasi ciuman tersebut.


Beberapa detik kemudian, Giara melepaskan bibirnya dari bibir Nicko, sembari berkata, "Bagaimana jantungmu? Apa Pak Nicko berdebar saat aku menciummu barusan? Jika iya, maka aku bisa percaya dengan semua ucapanmu tadi."


Deg. Nicko merasa bingung dengan perasaannya saat ini.


*Bersambung*


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2