
Nicko memang benar-benar sudah tepar. Ia tak sadar sedikitpun, dan ia juga tak bisa apa-apa. Hal ini sangat memberatkan Giara, karena ia jadi terbebani karena Nicko yang mabuk parah seperti ini.
Akhirnya, Giara meminta bantuan security untuk membawa Nicko pulang dan menyewa seorang supir yang bisa mengantarkan Nicko ke rumahnya.
Giara enggan membuka dompet Nicko. Ia merasa segan untuk melakukannya. Akhirnya, Giara membayar supir itu dengan uangnya sendiri. Padahal, semua ini ulah Nicko, namun akhirnya Giara yang harus kena getahnya.
“Jadi berapa, Pak?” tanya Giara.
‘’350 ribu saja, Kak. Untuk tarif sampai rumahnya.” Balas sang supir.
“Oh, baiklah ... ini uangnya,” Giara mengeluarkan empat lembar uang pecahan seratus ribu.
“Ngomong-Ngomong, diantar ke mana ya, Kak?” tanya sang supir.
Astaga, kenapa aku bodoh sekali? Mana kutahu di mana alamat rumah dosen bon cabe ini. Haish, sungguh merepotkan sekali orang ini. Kenapa sih dia? Dia jelas menyulitkan aku saat ini! Ucap Giara dalam hati.
Niat hati tak ingin membuka dompet Nicko, akhirnya Giara terpaksa membuka dompet Nicko, agar mengetahui di mana alamat rumahnya. Akhirnya, terpaksa dompet itu diambil dari saku celananya. Giara melihat KTP Nicko, dan juga alamatnya.
Alih-Alih berniat melihat alamat KTP Nicko, ternyata Giara lebih fokus pada status yang tertera dalam KTP pribadi Nicko.
Status Duda? Ternyata dia memang seorang duda. Kukira, status dudanya itu hanya khayalanku saja. Bahkan, dia duda beranak satu. Aku baru ingat, saat itu kan aku pernah bertemu dengan anaknya. Ckck, kurasa dia tertekan selama ini. Batin Giara dalam hati.
Giara memberi tahu supir itu di mana alamat Nicko. Giara telah memegang identitas sang supir, agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Setelah semuanya jelas, akhirnya supir itu membawa Mobil Nicko dan juga Nicko untuk segera diantar pulang.
Giara kesal, ia jadi kerepotan harus mengurus Nicko yang mabuk. Apalagi, semuanya Giara yang membayar. Pertama, Giara yang membayar minuman Nicko, Giara juga yang membayar jasa sewa supir untuk Nicko. Didalam dompet Nicko memang terdapat beberapa lembar uang, namun rasanya tak enak jika mengambilnya tanpa izin.
“Ah, lelah sekali hari ini. Sudahlah, aku harus segera pulang. Uang dari Om Hans akhirnya terpotong banyak karena dosen mulut bon cabe itu! Astaga, tapi kenapa? Tapi kenapa aku melakukannya? Kenapa aku harus begitu peduli padanya? Kenapa aku melakukan semua ini untuknya? Bahkan, aku rela mengeluarkan uang untuknya? Aarrgghhh, kenapa ini, kenapa? Tuhan, apakah aku sudah gila? Kenapa aku rela mengeluarkan uang untuk laki-laki menyebalkan seperti dia? It’s impossible! Sangat tak mungkin sekali!” Giara berbicara sendiri, sambil terus memaki kebodohannya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya supir itu sampai di kediaman Nicko. Beruntungnya ada penjaga rumah Nicko yang tengah berada diluar rumah. Sang supir lantas segera memanggil penjaga rumah Nicko, dan memberitahukan keadaan Nicko saat ini.
Supir itupun menyerahkan kunci mobil, dan segera membantu penjaga rumah Nicko membawa Nicko masuk kedalam rumah. Kebetulan, kedua orang tua Nicko masih terjaga. Mereka pun segera diberi tahu, jika Nicko dalam keadaan tak sadar karena mabuk.
“Ya Tuhan, kejadiannya bagaimana ini? Terima kasih banyak sekali, telah mengantar anak saya pulang ke rumah,” Fera begitu khawatir akan kondisi Nicko.
“Saya hanya supir yang ditugaskan untuk mengantarkannya, Bu. Karena sejak tadi tak sadar dan dalam kondisi mabuk berat.”
“Siapa yang memintamu mengantarkan dia?” tanya Papa Nicko.
“Seorang wanita yang ada di bar itu, Pak. Tapi saya juga tak tahu siapa namanya,” Ucap supir itu jujur.
“Kalau begitu, berapa tarifnya? Jasa pengantaran ini?” tanya Papa Nicko lagi.
__ADS_1
“Oh, tidak perlu, Pak. Karena sudah dibayarkan oleh Mbak tadi, yang meminta mengantarkan Mas ini pulang, Pak. Saya rasa, tugas saya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi pamit pulang dulu.”
“Ah, sudah dibayar rupanya. Baiklah, terima kasih karena telah mengantarkan anak saya. Hati-Hati di jalan,”
“Baik, Pak, sama-sama ...”
Selepas kepergian sang supir, kedua orang tua Nicko jadi bertanya-tanya dan keheranan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Nicko? Hingga ia mabuk berat, dan apa hubungan Nicko dengan wanita yang menyuruh supir itu untuk mengantar Nicko pulang?
Kedua orang tua Nicko heran, kenapa bisa-bisanya Nicko mabuk lagi? Padahal, Nicko jarang sekali mabuk. Dulu, Nicko pernah mabuk satu kali saat Diana meninggalkannya. Kali ini, apalagi? Nicko jarang sekali mabuk berat, jika ia tak memiliki masalah berat dalam hidupnya.
Mereka meminta pembantu untuk memindahkan Nicko ke kamar. Nicko harus istirahat, agar esok hari kondisinya mulai membaik. Mungkin, jika hari esok, Nicko mulai bisa mengingat apa yang terjadi hari ini.
............
Keesokan harinya ...,
Nicko terbangun dalam keadaan pengar yang luar biasa. Badannya terasa berat dan tak sangugp untuk bangun dari tempat tidurnya. Tiba-Tiba, sang Ibunda mengantarkan beberapa sup dan hidangan untuk sedikit menghilangkan rasa pengar Nicko.
“Kamu sudah bangun, Nick,” seru Fera sembari membawakan Nicko sarapan pagi.
“Sudah, Ma, tapi sepertinya aku tak enak badan. Kenapa ya? Kenapa Badanku terasa berat seperti ini?” Nicko rupanya belum menyadari jika semalam ia mabuk berat.
“Sekarang kamu sarapan dulu, mungkin kamu memang lupa dengan kejadian semalam,” ucap Fera.
“Rupanya kamu belum ingat, makanya lebih baik kamu sarapan dulu saja. Jika keadaanmu sudah membaik, mungkin kamu akan mengingatnya.” Pinta Fera.
“Baiklah, Ma,”
Nicko menuruti ucapan Ibundanya. Ia segera sarapan lalu membersihkan dirinya. Rupanya, keadaan Nicko mulai membaik saat ia telah sarapan dan mandi pagi. Perlahan-lahan, Nicko mulai mengingat apa yang menimpanya semalam. Nicko ingat, jika dirinya pergi ke bar lalu mabuk.
Nicko jadi merasa malu dan heran, bagaimana caranya ia bisa sampai di rumahnya? Sepertinya, Giara tahu semua tentang Nicko di malam tadi. Karena siapa lagi yang ia temui semalam di bar? Hanya Giara, dan setelah bertemu Giara pun, dengan bodohnya Nicko kembali lagi masuk kedalam bar itu.
“Ma, Nicko harus ke kampus sekarang. Hati-Hati ya nanti berangkat sekolah sama Queennya. Maaf aku buru-buru, tak akan sempat menyapa Queen,” ucap Nicko sembari menyalami Ibundanya.
“Loh, Nick, kamu udah baikan emangnya? Hati-Hati di jalan loh kamu. Kenapa sih akhir-akhir ini kamu terus aja bikin Mama khawatir,” Fera geleng-geleng kepala sendiri.
Nicko mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera menemui Giara perihal apa yang menimpanya semalam. Berharap semoga saja Nicko bisa secepat mungkin bertemu Giara. Nicko sempat mengecek uang dalam saku dan dompetnya. Tak ada uang yang berkurang sedikitpun.
Lantas, siapa yang membayar biaya minum Nicko selama di bar? Nicko sama sekali tak ingat. Ia harus mencari tahu siapa yang membayarkan semuanya. Sesampainya di kampus, Nicko segera memarkirkan motornya dan bergegas mencari Giara.
Nicko ke kelas Giara, rupanya mata kuliah Giara belum dimulai, dan gadis itu tak ada di dalam kelasnya. Nicko pun mencari ke sekitar kantin dan taman, berharap bisa secepat mungkin menemukan Giara.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Nicko melihat seorang gadis sedang duduk di bawah pohon rindang. Dialah Giara, target yang sedang Nicko cari dan ingin Nicko temui. Nicko segera berlari kearah Giara dan berahap Giara tak pergi dulu.
“Giara!” panggil Nicko sedikit keras,
Giara berbalik menuju sumber suara, “P-Pak Nicko,” Giara sedikit kaget. Dia kira, Nicko tak akan masuk kampus, rupanya kini Nicko telah ada dihadapannya.
Nicko berjalan dan menghampiri Giara. Lalu, refleks Nicko duduk di samping Giara, tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
“Apa, Pak?” Giara merasa risih melihat Nicko sok akrab padanya.
“Apa semalam kamu yang membayar minumanku?”
Deg. Rupanya Nicko menyadari perbuatannya semalam. Jangan, jangan sampai ... jangan sampai Nicko tahu jika aku yang membayar semuanya. Mau ditaruh di mana mukaku ini? Aku sangat malu jika dia tahu aku berkorban untuknya. Ucap Giara dalam hati.
“Tak tahu, aku tak bertemu dengan Pak Nicko lagi semalam.” Giara berbohong.
“Kamu bohong, Giara!”
“Sumpah, aku tak tahu!”
"Jujurlah, jika memang kamu yang membayarnya, aku akan kembalikan uangmu!" balas Nicko cepat.
"Tak perlu,"
"Ah, berarti benar kan? Kamu yang membayarnya?" tanya Nicko.
Deg. Giara termakan ucapannya sendiri, "Tak perlu karena bukan aku yang membayarnya! Mungkin wanita yang bersamamu semalam!"
"Siapa? Aku hanya sendiri! Kamu jujur saja, tak usah malu jika memang kamu yang membayarnya. Aku akan ganti uangnya, Giara!" rayu Nicko.
"Ingat-Ingat saja sendiri. Orang mabuk kan suka gak ingat apa-apa,"
"Rupanya kamu tahu, jika aku mabuk." Nicko mengangkat kedua alisnya.
Lagi-Lagi, Giara termakan ucapannya sendiri.
Giara dan Nicko akhirnya terlibat perdebatan kecil, yang menyebabkan mereka terlihat begitu akrab dan dekat. Tiba-Tiba, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tengah memotret mereka dari jauh. Pengambilan foto yang pas, terkesan jika Giara dan Nicko tengah sangat dekat.
Tangan jahil itu mulai melancarkan aksinya. Foto Giara dan Nicko lalu disebarluaskan pada seluruh anak-anak di kampus. Entah apa maksudnya, yang jelas, dia ingin nama Giara jelek di mata semua mahasiswa di kampus ini.
“Ada cewek genit yang lagi godain Dosen tampan kita! Rupanya, dia memang ular berbisa. Lihat saja, betapa pecicilannya dia." isi caption dalam foto tersebut.
__ADS_1
*Bersambung*