
"N-Nicko?" Fera ternyata tengah ada didalam butik ras tersebut.
Fera sangat tercengang, karena melihat Nicko masuk dengan seorang wanita. Ditambah lagi, wanita itu tengah memegang paksa lengan Nicko. Sejak tadi, Bu Sinta ingin selalu terlihat sebagai pasangan dengan Nicko.
"M-Mama?" Nicko kaget bukan main, lalu dengan refleks ia melepas genggaman tangan Bu Sinta yang melingkar di tangannya.
Bu Sinta menatap Fera, "Mama?" Tanpa aba-aba, Bu Sinta pun berbisik pada Nicko, "Ini Mama Pak Nicko? Ya Tuhan, Mama mertuakuuuuu ...."
Astaga, Astaga ... bencana ini, bencana! Gerutu Nicko dalam hati.
Fera mengernyitkan dahinya, Nicko bersama wanita lain? Wanita ini terlihat seumuran dengannya. Apakah ini wanita Nicko yang baru? Penampilannya begitu rapi, dan seperti orang yang berpendidikan. walau ..., agar sedikit 'norak' apakah dia memang calon Nicko yang baru? Haruskah kini aku menyetujuinya? Ucap Fera dalam hati, begitu menatap kedekatan Nicko dan wanita pecicilan di sampingnya.
"Halo, Tante, selamat siang ..." sapa Bu Sinta dengan anggun.
Mama Fera pun menatap Bu Sinta dari atas ke bawah. Tampilannya tak berbeda jauh dengan dirinya. Ibunda Nicko memang selalu memerhatikan gaya pakaiannya, hingga ia selalu terlihat fashionable dan menawan.
Melihat penampilan berlebihan Bu Sinta membuat Fera sedikit mengernyitkan dahinya, dan berbicara dalam hatinya, seperti inikah selera Nicko?
"Ah, iya halo, selamat siang ... kebetulan sekali bertemu di sini. Nicko, apa kamu tak mengajar? Kenapa bisa berada di Mall?" tanya Ibunda Nicko refleks.
"Ah, i-ini, Ma," Nicko gugup, ia bingung tak tahu harus menjawab apa.
"Hmm, begini Tante ... Pak Nicko dan saya sedang mencari angin. Kebetulan juga di kampus sedang kosong pelajarannya. Eh, Pak Nicko dengan baik hatinya mau mengantar saya." jelas Bu Sinta.
"Ah, begitu ya. Iya, iya, kalau begitu silakan lanjutkan. Nicko jangan pulang terlalu sore!" pesan Ibunda Nicko.
Seakan menjadi kesempatan besar bagi Nicko, rasanya Nicko malah ingin ikut bersama ibunya pulang ke rumah, daripada harus terus-menerus bersama Bu Sinta.
"Eh, Ma, ngomong-ngomong, Mama sama siapa ke sini? Kok sendirian?" tanya Nicko basa-basi.
"Mama nebeng sama Bu Dian. Tuh dia di sana orangnya," tunjuk Fera pada temannya.
"Apa? Mama nebeng? Aduh, kok nebeng sih Ma? Malu-maluin aja, udah biar Nicko aja yang antar Mama pulang. Mama gak boleh nebeng, Ma ... pulang aja ya pulang."
"Eh, tapi kan kamu lagi sama rekanmu Nick," ucap Fera merasa tak enak.
__ADS_1
Nicko justru bahagia sekali bertemu dengan Mamanya, dengan begini, Nicko bisa beralasan pada Bu Sinta agar Nicko bisa segera pulang dan tak bersama dengan perawan tua ini lagi.
"Eh, Bu Sinta, aduh maaf banget nih. Tapi, kasihan Mama-ku kalau harus pulang sendiri. Aku izin ya, untuk mengantar Mama pulang? Tak apa-apa kan? Yang penting Bu Sinta dan saya sudah sampai di tempat ini. Maaf sekali, Bu, maaf ..." Nicko terus meminta maaf, seakan ia merasa bersalah pada Bu Sinta.
Dalam hatinya, Bu Sinta mendengus kesal, karena jika Nicko mengantar ibunya, maka Nicko pasti akan meninggalkannya. Namun, untuk meraih hati sang calon mertua, akhirnya Bu Sinta pun seolah-olah tak mengapa dan terlihat bahagia.
"Ah, ya ampun, tak apa-apa Pak Nicko. Orang tua memang yang utama. Antar saja Mama Pak Nicko pulang, saya bisa pulang sendiri kok. Tenang saja, tak usah mencemaskan saya, kan nanti kita bisa teleponan," Bu Sinta mengedipkan matanya.
"Aduh, saya jadi tak enak ini. Nicko, kamu ini bagaimana, mengajak wanita jalan-jalan,tapi malah meninggalkannya karena Mama."
"Tak apa Tante, sungguh ... saya merasa senang, jika Pak Nicko berbakti pada orang tuanya. Ternyata saya tak salah pilih, begitu ..."
“Ah, bagaimana?" Ibunda Nicko kurang mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Bu Sinta.
Astaga, makhluk ini selalu saja membuatku emosi. Ucap Nicko dalam hati.
"Hmm, Ma, tunggu di sini sebentar ya. Aku harus bicara dengan Bu Sinta," ucap Nicko.
"Oh, iya, silakan,
"Bu Sinta, bisa ikut saya dulu sebentar?"
"Ikut saja, Bu,"
Nicko refleks menarik tangan Bu Sinta. Hal ini sangat tak pernah wanita itu duga. Nicko memegang tangannya, seakan hatinya ingin meledak. Karena ini pertama kalinya dalam sejarah, Nicko memegang tangannya.
"Astaga, tangan Pak Nicko halus sekali ..." Bu Sinta begitu terpana.
"Sorry, saya refleks." Nicko buru-buru melepas tangannya yang menggenggam tangan Bu Sinta.
"Ada apa sih Pak Nicko? Seantusias itukah Bapak pada saya?"
"Astaga, Bu, cukup ... bukan seperti itu. Saya mohon, jangan bicara aneh-aneh dihadapan Ibu saya. Saya malu, saya tak enak padanya. Maaf, saya harus segera pergi, kasihan Ibu saya. Sebagai gantinya, apa yang mau Bu Sinta beli? Berapa uang yang Bu Sinta butuhkan? Saya akan berikan sekarang, itung-itung ini rasa terima kasih saya pada Bu Sinta," Nicko tak mau basa-basi lagi.
"Saya gak tahu butuhnya berapa, soalnya kan saya gak tahu harganya berapa Pak Nicko. Gimana ya?"
__ADS_1
Lagi-Lagi, drama dengan Bu Sinta sulit sekali untuk selesainya. Nicko bingung sendiri, apalagi saat melihat dompetnya, hanya ada uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar. Cukupkah uang itu untuk Bu Sinta?
"Saya ada uang lima ratus ribu, apa cukup?"
"Hmm, gimana kalau gak cukup Pak Nicko?" Bu Sinta terdengar seperti sedang nego.
Ya Tuhan ... bagaimana ini? Nicko menggaruk kepalanya saking kebingungan.
"Ya sudah, ya sudah, Bu Sinta pakai dulu saja kartu kredit saya. Ini ambil, lalu Bu Sinta pakai sesuai dengan apa yang mau Ibu beli. Dan mohon maaf, saya harus pergi sekarang juga. Ini Bu, besok akan saya ambil lagi kartu kredit ini," akhirnya Nicko menyerahkan kartu kreditnya pada Bu Sinta.
"Oh My God, aku diberi kartu kredit. Luar biasa, keren banget sih Pak Nicko ... baik, baik, akan saya pergunakan dengan sebaik mungkin!" Bu Sinta terlihat senang dan bahagia sekali.
Akhirnya, Nicko bisa terbebas dari Bu Sinta, walau dengan jaminan kartu kreditnya yang dibawa oleh Bu Sinta. Biarlah, yang penting Nicko bisa terbebas dari wanita aneh tersebut.
Nicko pun bisa terlepas dari Bu Sinta dan akhirnya mengajak Ibundanya pulang. Fera menatap curiga pada Nicko, dan memberanikan diri berkata pada Nicko saat mereka telah berada di satu mobil yang sama.
"Itu pacar baru kamu?" tanya Fera saat Nicko memakai seatbelt-nya.
"Astaga, bukan, Ma. Itu sesama dosen di kampus." jawab Nicko.
"Dosen? Berpendidikan juga dia rupanya, walau penampilannya agak sedikit norak sih. Tapi, bisa diubah jika penampilannya. Baiklah, lanjutkan saja!"
"Ma, tidak seperti itu! Nicko tak ada hubungan apapun dengan dia. Sudah Nicko katakan, Giara lah yang Nicko pilih. Mama yang seharusnya mendengarkan Nicko bicara. Mama yang seharusnya memahami hati dan perasaan Nicko. Mama yang seharusnya paham, alasan kuat apa dibalik Nicko yang bersikeras memilihnya. Paham Ma, pahami hati Nicko!" Nicko mulai berkaca-kaca.
"Nicko, sejak kapan kamu bersikeras seperti ini? Kenapa kamu begitu tak berkaca dengan kejadian dahulu? Kamu sudah tak bisa diberi tahu! Dengan wanita baik-baik seperti Diana saja, bisa meninggalkanmu! Apalagi ini, seorang wanita malam yang kesuciannya pun pasti sudah hilang! Yang sudah ditiduri oleh banyak pria dan lelaki tua. Astaga, di mana otakmu? Kau benar-benar sudah gila, Nicko!" pekik Fera tak mau kalah.
"GIARA TAK SEPERTI ITU, MA! DIA TAK SEPERTI YANG MAMA PIKIRKAN. KARENA ITULAH, DENGARKAN AKU DULU, SEBELUM MAMA MENILAI DIA!" Baru kali ini Nicko berani berteriak pada Fera.
Hal ini sungguh membuat hati Fera sakit. Nicko tak pernah membentak dirinya. Nicko selalu sopan, sekalipun Nicko tengah kecewa ataupun sakit hati. Namun kali ini, mengapa? Mengapa harus membentaknya?
"Aku tak sangka, Nicko, kamu tega membentak ibumu demi seorang sugar baby seperti dia! Benar-Benar mengecewakan! Buka kuncinya, aku tak sudi berada satu mobil denganmu!" Fera memaksa membuka pintu mobil, ia sakit hati dengan sikap Nicko kali ini
"Ma, maaf, Nicko tak bermaksud membentak Mama. Nicko hanya ingin Mama mendengarkan Nicko dulu, sebelum Mama berpikiran yang tidak-tidak."
Nicko refleks memegang tangan ibunya, lalu merangkul Fera yang tengah berderai air mata. Nicko memeluknya, mencoba meminta maaf, karena Nicko memang salah.
__ADS_1
"Maafkan Nicko, Ma, maafkan Nicko, maaf ... Nicko begini karena Mama tak pernah mau mendengarkan Nicko bicara. Dengarkan Nicko dulu, karena Nicko punya alasan kuat, mengapa Nicko bersikeras memilihnya. Kumohon, Ma ...." Nicko tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.
*Bersambung*