Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 31. Terkunci


__ADS_3

"A-aku mau ...,"


Tiba-Tiba saja Giara menyanggupi semua ucapan Nicko. Sontak saja Nicko kaget dan menatap Giara dengan penuh rasa tak percaya. Nicko kira, Giara akan keras kepala lagi dan menolak ajakannya.


Ternyata, kali ini Giara memberikan jawaban berbeda. Jawaban yang tentu saja akan membuat Nicko sangat-sangat bahagia. Dengan Giara menyetujui tawaran Nicko, tentu saja hal itu akan membuat Queen bahagia.


Walau semua ini hanya akan menjadi kepura-puraan saja bagi Nicko dan Giara, namun tak mengapa, selagi Nicko bisa membahagiakan anaknya.


"K-kamu yakin, Giara?" Nicko masih tak percaya.


"Yakin, Pak. Asalkan, apa yang Pak Nicko katakan, benar adanya. Termasuk membiayai kuliah saya. Jika memang saya terancam dikeluarkan dari kampus, maka saya harus membuat nama saya bersih dahulu, karena untuk masuk ke universitas ini, membutuhkan perjuangan yang luar biasa sekali. Tak mungkin saya mau dikeluarkan dari kampus," ucap Giara sedih.


"Baiklah, aku akan biayai semua kebutuhanmu. Semampuku, dan sebisaku. Namun satu hal yang aku inginkan darimu, kamu harus serius dan tekun, Giara. Kamu harus fokus pada kuliahmu. Kamu harus menjadi orang. Kamu harus menggapai cita-citamu dan membuat dirimu bangga atas pencapaian yang telah kamu lakukan," Nicko terus menasehati Giara.


Giara terdiam membisu. Ucapan Nicko membuatnya kaget. Nasehat-Nasehat yang Nicko berikan, begitu tulus dan tampak dari hati. Berkali-Kali Giara mendengar Nicko mengatakannya. Mungkin memang Nicko ingin membuat Giara menjadi wanita yang sukses.


Sepertinya, tak ada niatan Nicko untuk merugikan Giara atas penawaran ini. Nicko begitu tulus, seakan hanya ingin membantu Giara agar terlepas dari pekerjaan nakalnya selama ini.


"Kenapa Pak Nicko peduli pada saya? Kenapa Bapak harus repot-repot melakukan ini pada saya? Apa Bapak tak tahu, akan berapa banyak kerugian yang Pak Nicko alami?" tanya Giara blak-blakkan.


"Sudah kubilang, aku tak tahu apa alasannya aku mau melakukan ini padamu. Semua hanya karena Queen, itu saja." jelas Nicko.


"Tapi, soal membiayai semua kebutuhanku, dan memintaku terlepas dari profesiku saat ini, bukankah itu berasal dari keinginanmu sendiri, Pak? Bukan berasal dari keinginan anak Pak Nicko," Giara terus bertanya tanpa tahu rasa sungkan.


Nicko gugup bukan main. Pertanyaan Giara terlalu mencolok, sehingga Nicko sendiri tak tahu harus menjawab apa. Memang benar, Nicko yang ingin Giara terlepas dari pekerjaan nakalnya.


Nicko ingin Giara berubah menjadi gadis baik-baik tanpa harus bekerja menggunakan tubuhnya. Atas dasar apa Nicko menginginkan Giara berubah? Nicko sendiri tak tahu, yang jelas ia tak rela jika Giara terus bekerja dan menggantungkan hidupnya pada Om-Om.

__ADS_1


"Kenapa Bapak begitu perhatian pada saya?" Giara masih saja penasaran, karena sedari tadi Nicko hanya terdiam, enggan menjawab ucapan Giara.


"K-Karena, karena kamu ..., karena kamu mahasiswi saya! Karena kamu murid saya! Jika ada murid saya yang berperilaku melenceng dan tak menaati aturan, tentu saja saya akan bertindak dan memohon dengan tegas padamu, Giara. Baru kali ini, aku menemukan mahasiswi nakal sepertimu! aku berharap, jika aku berbaik hati padamu, kamu akan berpikir dan menata hidupmu menjadi lebih baik lagi," Nicko beralasan.


"Ah, sungguh begitu kah alasannya Pak Nicko?"


“Ya, memangnya apalagi? Jangan besar kepala karena aku mau membantumu dan membiayaimu! Tak ada maksud lain, aku hanya ingin orang-orang yang salah arah sepertimu, bisa kembali ke jalan yang benar dan tak merusak dirimu sendiri." Nicko mencari alasan sebisa mungkin.


"Ah, begitu rupanya. Maafkan aku yang terlalu banyak bertanya. Aku hanya penasaran, kenapa Pak Nicko jadi sebaik ini, begitu ..."


"Ah, sudahlah, nanti kita bicarakan lagi hal ini. Sekarang, kita harus segera keluar, sebelum ada yang curiga dan melihat kita di sini," ajak Nicko.


"Ah iya, Pak. Pak Nicko juga, kenapa sih harus membawa saya ke tempat sepi seperti ini. Kan bisa bisa bicara diluar dan jauh dari kampus," gerutu Giara.


"Ah, sudahlah, jangan banyak bicara. Ayo, kita harus segera keluar!" Nicko celingukan, berharap jika ia dan Giara bisa segera keluar dari ruang perpustakaan lana ini.


Baru saja Nicko akan membuka pintu perpustakaan itu, sontak saja ia mendengar suara beberapa orang dari luar. Betapa kagetnya Nicko, karena sepertinya mereka berada tepat di depan pintu ruang perpustakaan ini.


"A-apa? Aduh, gimana dong ini? Pak Nicko serius? Ah, jangan sampai mereka melihat kita di perpus ini! Bisa mati aku. Bahkan, bukan hanya aku saja yang mati, tapi Anda juga, Pak! Ayo, lakukan sesuatu, agar mereka tak memasuki ruangan perpus ini! Pak Nicko please, aku sangat takut, benar-benar takut." Giara semakin membuat Nicko cemas.


Nicko kelimpungan, ia sendiri bingung harus mengatakan apa jika tertangkap basah oleh para penjaga kebersihan itu.


Sayangnya, Nicko dan Giara sama-sama telah shock berat dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Nicko pun berpikir, ia harus bisa menghindari agar petugas kebersihan itu tak masuk, dan keberadaan Nicko dan juga Giara akan tetap aman.


"Terpaksa, aku harus mengunci ruangan ini,“


Dengan sigap, Nicko mengunci pintu perpustakaan, hingga terdengar suara slot kunci keluar. Namun para petugas kebersihan itu tak menyadari jika pintu dikunci dari dalam.

__ADS_1


Mereka memasukkan kunci pada handle, karena pintu sulit sekali terbuka. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pasrah, dan mengatakan jika pintu perpustakaan lama ini macet, dan tak bisa dibuka.


Padahal, Nicko telah mengunci slot kunci pintu perpustakaan, sehingga akan sulit dibuka. Nicko dan Giara akhirnya bisa bernapas lega, karena keberadaan mereka tak akan tercium oleh siapapun.


"Lega, ternyata mereka mengira pintunya rusak," ucap Nicko.


"Jantungku hampir saja copot, Pak. Syukurlah, Pak Nicko cepat tanggap dan segera mengunci slot pintunya. Jika saja terbuka, entah akan bagaimana nasib kita ini," Giara mengelus-elus dadanya.


"Tentu saja aku cepat tanggap. Karena itulah aku menjadi seorang dosen yang hebat dan pintar. Kamu bisa mengandalkanku untuk hal seperti ini," Nicko terkesan sombong.


"Ah, baiklah, baiklah ... Pak Nicko memang hebat dan luar biasa. Pantas saja banyak yang mengagumi Pak Nicko." Giara geleng-geleng kepala.


Nicko hanya tersenyum sembari mengangkat kerah kemejanya. Namun ia mulai fokus menatap Giara. Giara kini menatap kearah luar pintu perpus ini. Pandangannya terlihat aneh dan sedikit khawatir.


"Kenapa kamu?" tanya Nicko.


"Pak Nicko, apa Anda tak menyadari hal ini, ha?" bentak Giara.


"Apa? Aku tak paham!" Nicko mengernyitkan dahinya.


"Coba Anda lihat, Pak ... di luar, di depan pintu perpus ini ada kunci pintu yang menggantung. Dan Anda lihat ini, pintunya terkunci dari luar. Sejak tadi para petugas kebersihan itu mencoba-coba membuka pintu, hingga akhirnya mereka mengira jika pintu ini macet. Padahal, pintu ini hanya dikunci oleh slot kunci dari sini. Astaga, mereka malah mengunci kita dari luar. B-bagaimana ini, wahai dosen pintar dan cepat tanggap?" Giara mulai kesal dan penuh emosi.


"Hah? Apa? Mereka mengunci kita?"


"YA! Karena mereka kira, jika pintu perpus ini macet, Pak! Jadi mereka mencoba-coba mengunci dan membuka, terus saja seperti itu. Aarrgghhh, semua ini karena ulah Anda Pak Nicko. Tanggung jawaaaaab!" Giara berteriak.


"Heh, ssshhttt, diam kamu! Jangan berteriak, nanti terdengar oleh orang dari luar. Kita pikirkan saja, bagaimana caranya kita bisa segera keluar dari tempat ini. Okay?" Nicko merayu Giara, walau sebenarnya ia sendiri pusing harus bagaimana.

__ADS_1


"Terserahlah! Aku sangat membencimu!" Giara emosi bukan main.


*Bersambung*


__ADS_2