Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 33. Foto Dia


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, akhirnya mau tak mau Giara menghubungi Belva, dan memintanya membuka pintu perpustakaan, sebelum petugas perpus datang. Beruntungnya mereka, karena kunci perpus itu masih menempel di luar.


Belva dengan mudahnya membukakan pintu untuk mereka, lalu segera meminta Nicko dan Giara bergegas keluar dari perpus. Setelah keluar, mereka pun akhirnya berlalu dan meninggalkan area kampus.


Masih jadi tanda tanya besar bagi Belva, kenapa Giara dan Nicko bisa terkunci di sebuah perpustakaan. kenapa harus mereka berdua? Apa yang terjadi pada Nicko dan Giara?


Belva tak bisa tinggal diam, karena ia harus tahu apa yang terjadi pada Giara juga Nicko. Belva memang menaruh curiga pada Giara, karena akhir-akhir ini ia selalu tahu tentang Nicko dan terkesan membela Nicko dalam kesempatan apapun.


Mungkinkah mereka pacaran? Ucap Belva dalam hati.


Akhirnya, Belva memaksa Nicko dan Giara untuk ikut dengannya. Akhirnya, Nicko menurut, karena ia tak punya pilihan lain. Selain Belva juga penyelamatnya kali ini, tentu saja tak akan mudah lepas dari semua ini.


Nicko yakin, jika Belva pasti bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi antara Giara dan dirinya. Nicko sudah meyakinkan dirinya, jika Nicko tak akan banyak bicara dan akan menyerahkan semuanya pada Giara.


"Ada yang aneh ... gue tuh curiga dari awal sama lo, Ra. Kayaknya ada yang lo sembunyiin dari gue tentang Pak Nicko. Dan bener aja, ternyata kalian berdua pasti ada sesuatu. Jujur ya sama gue, apa kalian pacaran? Apa gak ada tempat lain untuk kalian pacaran? Kenapa harus perpustakaan lama? Apa Pak Nicko gak bisa bayarin makan di restoran buat sekadar kalian pacaran?" sentak Belva yang nampak kesal pada Giara dan Nicko.


Sontak saja Giara menutup mulut Belva. Siapa sangka, mulut Belva ternyata lebih kejam daripada mulut Giara. Bisa-Bisanya Belva mengira jika Nicko dan Giara sengaja berpacaran di dalam perpus.


"Eh, jangan sembarangan bicara ya kamu. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Giara, jelaskan apa yang terjadi diantara kita!" Nicko melemparkan semuanya pada Giara.


Giara kaget bukan main, ia kira, Nicko akan


menjelaskan semua tentang hal yang terjadi, nyatanya Nicko malah melemparkan padanya.


"Lah, kok saya yang suruh jelasin sih?" Giara menatap heran pada Nicko.


Nicko mengedipkan matanya pada Giara, pertanda ia tak ingin berurusan dengan Belva. Apalagi, mulut Belva ternyata lebih menyeramkan dari mulut Giara.


"Jadi gini Bel, maksud Pak Nicko itu sebenarnya baik, walaupun caranya salah. Ternyata, selama ini gue itu lagi diintai. Ada dekan dan penasehat kampus yang tahu profesi gue selama ini. Gue rasa sih, yang laporin gue itu orang di kampus ini yang dulu gue tolak. Jadi mungkin dia dendam, dan membongkar pekerjaan gue selama ini. Pak Nicko ngasih tahu gue, gue harus waspada, ya setidaknya gue harus berhenti dari profesi gue ini. Gue dilema, Bel." ucap Giara jujur.


Belva mengernyitkan dahinya, "Ra, dari sekian banyak tempat di dunia ini, kenapa perpus lama, Ra? Apa gak ada tempat lain selain perpus lama? Pak Nicko?"

__ADS_1


Belva malah menyoroti tempat mereka terkunci, bukan fokus pada masalah yang tengah dihadapi Giara.


"Karena itu mendadak, dan saya tak bisa menghubungi Giara. Nomor ponsel saya masih dia blokir." ucap Nicko menambahkan.


"Ah, I see, I see. Jadi, Pak Nicko langsung bawa Giara ke perpus lama gitu? Untuk segera memberi tahu kabar ini?" tanya Belva.


"Ya begitu." jawab Nicko.


"Astaga, Pak Nicko sweet banget sih! Saking perhatiannya sama Giara, Bapak sampai segitunya ya. Keren banget sih, Pak ... ternyata, di balik sikap jutek Pak Nicko, Bapak begitu perhatian sama Giara. Apa jangan-jangan, Bapak memang sengaja menggangfu Giara karena Bapak suka sama dia ya?" tebak Belva secara blak-blakkan.


"Uhuk, Uhuk," sontak saja Nicko kaget bukan main. Ia refleks tersedak mendengar ucapan Belva yang terlalu asal-asalan.


"Bel, apaan sih lo. Jaga tu mulut, nyebelin banget deh ah! Gak gitu lho, enggak!" Giara tak terima sama sekali.


"Ya elah, iya-iya sorry, gue kan cuma bercanda aja. Kok lo sewot banget sih, Ra. Sorry, gue sempet nuduh lu yang aneh-aneh. Ya udah deh kalau gitu, lo urusin aja ya masalah itu. Gue gak mau ikut campur, gue gak mau kebawa-bawa hal itu. Makanya, gue kan sering bilang sama lo, jangan pernah lo tolak ajakan dari anak kampus yang tahu identitas lo. Bisa abis lo nantinya, kayak gini contohnya." jelas Belva.


"Udah deh, gak usah bahas!" Giara merasa terganggu.


"Eh, astaga ... btw, kok ada yang aneh ya?" Belva mengernyitkan dahinya.


"Aneh gimana maksud lo?" Giara lebih heran lagi.


"Kok Pak Nicko bisa tahu kalau elu lagi diintai dewan penasehat? Apa selama ini Pak Nicko udah tahu, kalo elo itu seorang sugar baby? Kok Pak Nicko kayak gak kaget, dan seakan-akan dia malah membela dan mendukung lo, Ra. Berasa aneh gak sih? kalau dia gak tahu apa-apa tentang lo, Pak Nicko pasti sama aja kayak dekan yang lagi ngintai lo! Dan mau jatohin lo juga!" Belva mulai berpikir.


Ya Tuhan, kenapa ini anak banyak bicara banget sih? Lo gak tahu yang sebenarnya, Belva. Lo gak tahu apa-apa. Bahaya kalau dia terus bicara. Gue bener-bener muak sama ocehannya. Nanti Bel, nanti gue jelasin semuanya sama lo. Kayaknya gue harus buat dia pergi. Gak mungkin Belva terus interogasi gue kayak gini, apalagi di depan Pak Nicko. Ucap Giara dalam hati.


"Bel, lo kan harus kerja. Udah deh, lo mendong kerja cepetan. Nanti gue nyusul ke cafe. Pokoknya entar gue jelasin sejelas-jelasnya sama elo. Gue janji, gak akan ada yang gue sembunyikan dari lo, Bel."


"Beneran lo ya? Yaudin, gue capcus dulu. Udah terlambat nih, gegara kepo sama elu dan Pak Nicko. Yaudah deh, Pak Nicko, aku dulu duluan ya. Bapak hati-hati kalau berbicara sama Giara, dia agak berbisa dan menyeramkan lho," Belva beranjak dari duduknya sambil terkekeh.


Nicko hanya bisa terdiam melihat keributan yang terjadi antara Giara dan Belva. Anak-Anak itu membuat kepala Nickp pusing. Cara berpikir mereka sangat jauh berbeda.

__ADS_1


"Temanmu bar-bar sekali, sama sepertimu." ucap Nicko setelah Belva pergi


"Aku enggak ya!" Giara kesal.


"Sudahlah, karena kamu sekarang adalah sugar babyku, kamu mau apa di restoran ini? Biar aku yang belikan, apapun yang kamu mau!" Nicko tiba-tiba berubah menjadi lembut.


"Pak Nicko serius?"


"Ya, demi kebaikanmu. Asalkan kamu berjanji padaku, akan belajar dengan sungguh-sungguh, dan serius dalam setiap mata kuliah yang kamu pelajari. Jangan main-main, hanya itu pintaku."


"Ah, baiklah tentu saja aku ingin memesan. Aku sudah lapar sekali sejak di perpus tadi. Tak terbayang, jika aku dan Pak Nicko terkunci selama seharian di sana. Bisa-Bisa aku mati kelaparan di sana," Giara curhat.


"Sudah, hemat ucapanmu itu. Jika sudah bicara, tak pernah bisa berhenti. Terus saja nyerocos seperti bebek!" sindir Nicko.


"Ih, Pak Nicko! Keterlaluan deh!" Giara cemberut bukan main.


Saat Nicko dan Giara tengah memilih-milih menu makanan, ternyata Papa Nicko yang bernama Andi Alandani, tengah memasuki restoran yang sama tempat Nicko dan Giara berada.


Andi tengah menyelesaikan kunjungan ke perusahaan koleganya. Akhirnya ia dengan sang sekretaris, memutuskan untuk makan di restoran ini, karena restoran ini dekat dengan kantor rekannya.


Saat Andi duduk di meja yang kosong, pandangannya tertuju pada anak keduanya, Nicko. Andi menatapnya berkali-kali, meyakinkan jika itu adalah anaknya.


Andi sangat kaget, karena Nicko tengah bersama seorang wanita. Nicko masih tak menyadari keberadaan Papanya. Andi berharap, jika Nicko tak akan melihatnya berada di restoran ini juga.


"Gilang, kamu lihat ke arah jam empat, ada Nicko di sana. Lihatlah dia sedang bersama siapa? dia bersama seorang wanita, Gilang!" seru Andi sangat bahagia.


"Ah, iya Tuan. Anda benar, itu adalah Tuan Nicko. Apa kita akan menemuinya?" tanya Gilang, sekretaris kepercayaan Andi.


"Jangan, jangan dulu temui dia. Sudah, kamu potret saja Nicko dengan wanitanya. Untuk foto wanitanya, tolong lebih diperjelas, dengan sangat bagus. Aku harus menunjukannya pada cucuku, apakah yang dia maksud Kakak baik itu adalah gadis ini? Aku sungguh penasaran," ucap Andi sembari terus memerhatikan Giara dan Nicko dari kejauhan.


"Baik, Tuan. Saya sudah mengambil fotonya ,bahkan foto wanitanya nampak jelas sekali, Tuan."

__ADS_1


"Ah terima kasih Gilang. Ini sangat membahagiakan untukku. Istriku pasti senang sekali, jika tahu anak kesayangannya tengah bersama seorang wanita," ucap Andi penuh rasa antuasias.


*Bersambung*


__ADS_2