Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 51. Ke Rumah Nicko


__ADS_3

Mau tak mau, Giara akhirnya pasrah dibawa oleh Nicko pergi menuju rumahnya. Giara telah menolak habis-habisan, namun rupanya Nicko tak mau mendengarkan Giara.


Nicko terus mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Tak peduli, jika Giara menolak atau bahkan tak mau diajak oleh Nicko. Yang terpenting, kali ini Nicko bisa mengenalkan Giara pada kedua orang tuanya.


"Pak Nicko, harusnya Bapak tak boleh memaksa!" Giara menggerutu kesal.


"Aku memaksa juga karena sikapmu yang keras kepala."


"Loh, kok nyalahin saya? Yasudah, turunkan saja saya di sini, Pak!" pinta Giara


"Biar aku yang menurunkanmu di mana, karena akulah yang mengemudikan mobilnya, jadi aku yang berkuasa atas semua ini!"


"Egois!" pekik Giara.


"Karena aku tak mau lagi mendengar kamu berkata aneh-aneh tentang Diana. Aku sudah tak peduli. Diamlah, dan ikuti saja apa kataku," perintah Nicko.


"Lantas untuk apa membawaku ke rumahmu? Aku ingin pulang ke rumahku!"


"Untuk mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Agar mereka mengenalmu, dan merestuimu." jawab Nick seadanya.


"Kenapa harus mendadak seperti ini? Tak bisakah nanti saja? Jangan memaksa, karena aku belum siap!" ujar Giara.


"Mendadak lebih baik, daripada berkata nanti, nanti, ujung-ujungnya tidak jadi!" balas Nicko.


"Jika direncanakan dengan matang dan baik, tentu saja akan baik-baik saja. Daripada rusuh seperti ini,"


"Dengar ya, laki-laki yang serius itu gak akan pernah ngajakin kamu pacaran! Tapi, mereka akan langsung ngenalin kamu ke orang tuanya, lalu nikahin kamu! Seperti yang akan aku lakukan sekarang ini!" tegas Nicko membuat Giara kaget.


Sontak saja mulut Giara yang sejak tadi ngoceh terus, kini seperti ditutup lakban, tak berani menjawab ucapan Nicko sedikitpun. Memang benar, pria yang serius tak mungkin mempermainkan wanitanya. Tapi, benarkah Nicko memang berniat serius pada Giara? Apakah kata-kata Nicko itu bisa dipertanggung jawabkan?


Entahlah, Giara tak tahu isi hati Nicko. Yang jelas, ajakannya kali ini tentu saja membuat Giara canggung dan tak siap. Bayangkan saja, bertemu dengan kedua orang tua Nicko? Apa yang akan Giara lakukan nanti?


Beberapa saat kemudian, akhirnya Nicko sampai di gerbang rumahnya. Penjaga rumah dengan senantiasa membukakan pintu gerbang rumah Nicko, mempersilakan tuan rumah masuk kedalam.

__ADS_1


Semakin tak karuannya perasaan Giara, karena kini ia telah berada di rumah pria yang sama sekali tak pernah ia kunjungi. Untuk ukuran Dosen seperti Nicko, rumahnya memang cukup besar dan megah. Mungkin ini memang rumah orang tuanya, bukan rumah pribadi milik Nicko.


Giara rasanya enggan untuk turun dari mobil, karena ia benar-benar tak siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Nicko. Tak pernah ia sadari, jika hal ini akan terjadi padanya.


Bertemu dengan si dosen pemaksa ini sungguh membuat Giara pusing tujuh keliling. Baru kali ini, ada pria yang nekad merubah hidupnya 180°. Dan Nicko, berani-beraninya menyuruh dan memerintah Giara semau jidatnya.


Tapi, kenapa Giara seakan tak berdaya pada Nicko? Kenapa Giara terkesan mengiyakan dan menerima semua ajakan Nicko. Padahal, Giara sebenarnya merasa tak nyaman dengan hal ini. Tapi, apa boleh buat, seakan Giara terhipnotis oleh tingkah Nicko, dan menuruti semua keinginannya.


"Ayo turun," ajak Nicko.


"T-tapi, aku," Giara menggigit bibirnya, ia benar-benar gugup.


"Kenapa? Biasa aja lagi,"


"Aku harus apa nanti? Untuk apa kita ke sini, sih?" tanya Giara kesal.


"Untuk mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Memangnya kenapa?" Nicko terlihat polos.


"Kenapa sih harus dikenalkan segala? Pak Nicko berlebihan! Gak punya perasaan sama sekali. Harusnya Pak Nicko paham, kalau aku itu belum siap. Nyebelin banget sih, udah termasuk pemaksaan ini!" Giara marah lagi.


"Ish, nyebelin banget sih!" Giara kesal bukan main


Akhirnya, mau tak mau Giara pun turun dari mobil, mengekori Nicko dari belakang. Ia tetap melangkahlan kakinya masuk kedalam rumah Nicko, walau perasaannya sangat-sangat tak siap.


Sebenarnya Giara tak peduli, respon apa yang akan diberikan oleh kedua orang Nicko. Hanya saja, Giara takut jika orang tua Nicko blak-blakkan menjelek-jelekkan dirinya.


Ada baiknya jika orang tua Pak Nicko tak ada di rumahnya. Aku pasti tenang dan tak terbebani. Semoga saja mereka pergi mendadak, ke manapun. Yang terpenting, tak ada di rumah ini. Agar aku bisa selamat dan tak pusing dengan banyak pertanyaan mereka nanti. Ucap Giara dalam hati.


Nicko mengetuk pintu, dan tak lama pintu pun terbuka. Mereka melangkahkan kaki kedalam, lalu Nicko mempersilakan Giara untuk duduk di ruang tamu. Jantung Giara berdebar tak karuan, ia benar-benar takut, karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya, bertemu dengan keluarga dari pria yang dekat dengannya.


"Ma, Pa, Nicko pulang ..." seru Nicko berteriak di dalam rumahnya.


"Iya, Nak, syukurlah ..." terdengar sebuah jawaban dari dalam ruang keluarga.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Fera memasuki ruang tamu, ia tak menyangka, jika Nicko membawa seorang wanita ke rumahnya. Ekspresinya tak bisa ditebak, entah Fera bahagia, atau tidak dengan kehadiran Giara ke rumahnya.


"Ah, ada tamu rupanya ..." sapa Fera sembari senyum pada Giara.


"S-selamat malam, Tante," jawab Giara begitu gugup.


"Ah, iya, selamat malam. Nicko, kok kamu gak bilang sih kalau mau ada tamu, Mama kan gak ada persiapan apa-apa jadinya ..." ucap Fera.


"Yaudah sih, Mama bawain teh aja sama cemilan. Kita udah makan, kok," ucap Nicko.


What the? Udah makan? Hilih, kapan kita udah makan? Sama Om Hans tadi pun aku gak makan apa-apa. Gimana mau makan, ngomong ke Om Hans aja ngos-ngosan. Ini lagi dia, pake acara udah makan. Ya ampun, perut gue bener-bener laper. Ucap Giara dalam hati.


"Ah, baiklah kalau begitu. Mm, siapa namanya? Tante manggilnya biar enak," tanya Fera.


"Ah, iya, saya Fera, Tante, senang bertemu dengan Tante dan keluarga." jawab Giara basa-basi.


"Oh baiklah, Giara, tunggu sebentar saya, Tante sediakan cemilan seadanya," Fera pun tersenyum begitu ramah, lalu ia pergi ke dalam.


Giara sok manis sekali dihadapan orang tua Nicko. Ia harus bisa memosisikan dirinya sebagai wanita yang anggun dan kalem. Walau sebenarnya Giara jarang sekali bersikap seperti ini. Namun kali ini, ia seperti tengah bermain peran, bertemu dengan calon mertuanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara anak kecil yang tengah berlari riang menuju ruang tamu. Sepertinya ibunya Nicko memberi tahu Queen, jika ada seseorang yang Nicko ajak ke rumahnya.


Bersama Andi, Papa Nicko, Queen pun berlari begitu ceria dan semangatnya. Queen ingat betul wajah Giara. Jika wanita yang tengah berada di ruang tamu adalah Kakak baik, yang selama ini ia rindukan.


"Kakak baik ... ini aku, Kakak ingat aku gak? Horeee, Ayah akhirnya ajak Kakak baik untuk bertemu denganku ...," Queen langsung berlari kearah Giara dan refleks duduk di sampingnya.


"Ah, Queen, halo ... apa kabar?" Giara menyapa Queen dengan ramah.


"Baik, Kakak. Akhirnya, Kakak diajak juga oleh Ayah ... Yeayyy, Queen senang sekali.


Giara hanya tersenyum dan menyalami Papa Nicko. Papa Nicko tak berbicara sepatah kata apapun. Namun dari sorot matanya, ada yang aneh. Seakan Andi merasakan sesuatu.


Siapa wanita ini? Kenapa aku begitu familiar dengan wajahnya? Seperti pernah melihatnya di dalam foto temanku, Roy. Ah, apa aku salah melihatnya? Diakah sosok Kakak baik yang cucuku rindukan? Apa hanya mirip saja? Ucap Andi dalam hati.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2