
Benarkah ini cinta? Benarkah yang Nicko katakan pada Giara adalah sebuah rasa yang tulus? Apa hanya sebuah rasa berbalut kasihan dan tak tega? Entahlah, Nicko sendiri masih belum menyadari sepenuhnya perasaan macam apa ini.
Yang jelas, semua ini berawal dari kepura-puraan mereka di Bali, hal yang merupakan sebuah ketidaksengajaan, ternyata malah membawa efek berkelanjutan seperti sekarang ini. Nicko telah terikat dengan Giara, dan sulit baginya untuk terlepas dari pesona Giara yang membuat dirinya tertarik.
Bersama Giara, bukanlah hal yang mudah, karena Nicko harus melewati beberapa rintangan untuk bisa memiliki Giara seutuhnya. Pertama, perihal status Giara sebagai sugar baby, tentu saja sulit bagi Giara untuk melepaskannya begitu saja. Bagaimana jika ada yang tidak terima dengan keputusan Giara itu?
Tentu saja sebagai seorang pria, Nicko harus melindungi Giara dari ancaman yang tak diinginkan. Ia sudah berjanji pada dirinya, jika ini adalah pilihan yang sudah ia tetapkan. Dan Nicko harus bisa mencari jalan terbaik untuk hubungannya dengan Giara nantinya.
Demi siapa Nicko melakukannya? Tentu saja demi kebahagiaan Queen. Mendengar Queen begitu antusias pada Giara, tentu saja membuatnya berpikir. Mungkinkah Giara orangnya?
Merasa bersalah dan kasihan pada sosok Queen. Nicko tak tega, karena membiarkan Queen tak mendapat kasih sayang dari seorang wanita yang dinamakan Ibu.
Pagi ini, Nicko sudah membangunkan Queen untuk pergi ke sekolah. Kebetulan, hari ini Nicko mengajar siang hari, sehingga pagi ini ia bisa mengantar Queen ke kampus.
"Sayang, ayo bangun, ini sudah jam tujuh pagi. Hari ini, biar Ayah yang antar dan jemput Queen ..." seru Nicko.
Mata Queen refleks terbuka sebelah. Sambil menggeliat, ia pun berbicara, "Benarkah? Ayah mau antar Queen?"
“Ya, sayang, hari ini Ayah berangkat siang ke kampusnya. Ayah bisa menyempatkan untuk mengantar dan menjemput kamu ke sekolah," Nicko mengusap rambut Queen yang masih berantakan.
"Yeay, asyik. Queen bakalan ke sekolah bareng Ayah. Ah, kalau gitu Queen siap-siap dulu ya Ayah. Queen mau mandi dulu," seru gadis Nicko yang bangun dari tidurnya dengan semangat.
Nicko mengangguk sembari tersenyum manis pada sang buah hatinya. Ia pun segera bersiap untuk sarapan sebelum mereka berdua pergi ke sekolah.
Wajah Nicko pagi ini begitu berseri-seri. Kedua orang tuanya pun heran dengan perubahan yang terjadi pada Nicko. Ada angin apa? Tak seperti biasanya Nicko seperti ini.
"Seger banget kamu pagi ini. Lagi bahagia ya?" tanya Andi, sang Papa.
"Ah, enggak kok Pa, biasa aja," Nicko mesem.
"Gak apa-apa dong, Pa, gak biasanya kan Nicko kayak gini." Fera menambahkan.
"Memangnya aku ini kenapa? Perasaan, tak ada yang berbeda. Aku tak kenapa-napa,"
"Iya, iya, makanlah lagi, kami hanya bergurau." ucap Andi sembari mengangguk-angguk.
Hari ini Nicko memang terlihat lebih cerah dari biasanya. Kedua orang tuanya pun menyadari hal ini. Namun mereka tak ingi terlalu ikut campur pada urusan Nicko. Karena Nicko memang tak suka jika ada yang ikut campur tentang dirinya.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, akhirnya Nicko dan Queen berangkat ke sekolah. Nicko sengaja mengantar Queen, agar buah hatinya itu tak merasa kesepian dengan sosok Ayah yang terlalu sibuk.
"Ayah, Kakak baik apa kabarnya ya?" tanya Queen ketika mereka berada di dalam mobil.
"Kakak baik? Kak Giara maksudnya?"
"Iya, aku lupa namanya. Aku hanya ingat Kakak baik saja, Ayah," jawab Queen.
"Kamu kangen sama Kakak baik?"
Queen mengangguk, "Iya, Ayah. Aku kangen."
"Kamu mau ketemu sama Kakak baikmu itu?" tanya Nicko sembari terus mengemudi.
"Iya, aku mau bertemu dengannya. Ayah jahat, tak membolehkan aku bertemu Kakak baik!" gerutu Queen.
"Iya, iya, nanti Ayah ajak Queen ketemu lagi sama Kakak baik ya. Tapi nanti, gak sekarang. Queen harus bisa sabar dulu," ucap Nicko menenangkan Queen.
"Yeay, asyik ... Queen bisa bertemu dengan Kakak baik lagi. Baik Ayah, Queen akan sabar."
Rasanya, hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk Nicko bisa menemukan kebahagiaan dirinya dan Queen. Seburuk apapun sifat Giara, tapi dalam hatinya Nicko yakin, jika gadis ini pasti bisa ia ubah sifatnya.
Kampus Nicko dan Giara ....
Beberapa jam berlalu, waktu terus bergulir dengan cepatnya. Hingga akhirnya Nicko telah menyelesaikan kelasnya. Ia akan langsung bertemu dengan Giara, dan meminta Giara untuk mengakhiri semuanya.
Nicko sengaja membawa mobil, karena ia takut orang lain akan melihat dirinya dan Giara. Nicko sudah janjian dengan Giara, akan bertemu di sebuah tempat yang sedikit sepi agar tak banyak orang yang melihat.
Setelah menemukan keberadaan Giara, mobil Nicko langsung berhenti tepat dihadapannya, lalu Giara naik ke mobil Nicko, karena rupanya Giara sudah tahu mobil tersebut.
"Maaf lama," ucap Nicko.
"Enggak kok, aku baru juga sampai, Pak." jawab Giara.
"Kamu yakin akan menemuinya seorang diri? Apa perlu aku antar?"
“Gak usah, Pak. Pak Nicko tunggu saja, aku akan menyelesaikan semuanya sendiri. Pada yang lain, aku bisa meninggalkan mereka begitu saja. Tapi, tidak pada Om Hans. Dialah orang pertama yang membantuku, dia juga berkali-kali mengajakku menikah. Aku harus menghentikannya, sebelum dia terus memaksa."
__ADS_1
"Itu akan membahayakan kamu, Giara. Bagaimana jika dia tak terima dan menyakitimu?" Nicko sedikit khawatir.
"Tak akan, Pak Nicko. Dia punya istri. Dia begitu karena sakit hati dengan istrinya. Jika saja istrinya mencintai dia dengan sepenuh hati, tak mungkin Om Hans akan terus mengejarku. Aku akan memberi tahu dia, dan meyakinkan dia, jika dia harus kembali pada istrinya, dan memperbaiki hubungan mereka." ucap Giara.
"Aku percaya padamu. Semoga berhasil, aku akan memerhatikanmu dari jauh, Giara. Aku pastikan, jika kamu tak akan kenapa-napa."
"M-makasih, Pak Nicko,"
Satu jam kemudian, mereka pun telah sampai di cafe yang dituju. Namun sepertinya Om Hans belum tiba di cafe, karena dia berkata pada Giara, jika Hans terkena macet di jalanan.
Giara memakluminya, namun ia tetap bersiap duduk di meja yang telah ia pilih. Nicko menunggunya di dalam mobil. Namun Nicko bisa melihat meja Giara, karena meja itu berada di pinggir kaca yang terlihat jelas dari luar.
Tanpa Giara sadari, ternyata Anita dan Diana diam-diam juga mulai menuju cafe tersebut. Rupanya mereka memang berniat menjebak Hans agar ketahuan tengah bersama seorang wanita.
Anita dan Diana terlihat berjalan sedikit berjauhan. Mereka sepertinya tahu, jika Hans belum tiba di cafe tersebut. Dari dalam mobil, sontak saja Nicko kaget bukan main. Nicko melihat sosok wanita itu lagi, setelah enam tahun lamanya Nicko tak pernah lagi melihatnya.
Luka di hati Nicko, beribu-ribu pertanyaan dalam hati Nicko yang belum pernah tersampaikan pada Diana, kini mencuat lagi, ketika Nicko melihat sosok Anita berjalan menuju cafe tersebut.
Emosinya memuncak, pandangan yang semula terfokus pada Giara, kini mulai berpaling pada Diana. Bagaimana tidak? Diana adalah pisau tajam yang merobek hati Nicko.
Nicko belum sembuh. Hatinya masih tersayat-sayat, apalagi ketika Nicko menatap Diana yang benar-benar berada dihadapannya saat ini. Antara yakin dan tak yakin. Antara ragu dan percaya, Nicko terus mengamati Diana dari kejauhan.
Setelah Nicko merasa benar-benar yakin, ia tak tahan lagi, untuk tidak turun dari mobilnya, dan ingin segera menemui Diana. Hati pria mana yang tak tersayat, ketika melihat wanita yang pernah dicintainya, pergi begitu saja, lalu ia menemukannya lagi dengan keadaan dia terlihat baik-baik saja. Sungguh ironi, hati Nicko kali ini benar-benar kacau.
Nicko keluar dari mobilnya, ia berlari kecil agar Giara tak melihatnya. Untungnya, Giara tengah fokus menatap ponselnya. Mungkin Giara tengah berbalas pesan dengan Hans Wijaya, sehingga ia tak fokus menatap Nicko.
Nicko berjalan di belakang Diana, lalu tanpa basa-basi, Nicko menyeret tangan Diana, dan menariknya. Diana tentu saja kaget bukan main. Saat Diana akan berteriak, mulutnya terkunci begitu saja ketika melihat sosok yang tengah menarik tangannya.
"N-Nicko ...," jantung Diana berdegup sangat cepat. Ia sangat-sangat taj menyangka, jika Nicko akan menemukannya secepat ini.
Wajah Nicko memerah, seakan tengah menahan amarah. Raut wajahnya menyeramkan, seperti ada air mata kekecewaan yang tertahan di pelupuk matanya. Hati yang sudah Nicko jahit agar tak sobek, seketika hancur lebur lagi ketika ia harus menatap wanita yang menjadi sosok Ibu untuk anaknya ini.
"Enam tahun lamanya, dan aku baru menemukanmu lagi. Ikut aku, sekarang juga, wanita tak berperasaan!" Nicko terus menarik tangan Diana, dengan sekuat tenaganya, tak peduli jika Diana kesakitan karena cengkeramannya.
"Astaga, N-Nicko, m-maafkan aku. T-tolong lepaskan, i-ini sakit, s-sangat sakit," Diana mencoba melepaskan tangan Nicko dari tangannya yang begitu menggenggamnya angat-sangat erat.
"Sakitmu ini tak seberapa, tak sebanding dengan sakitku dan anakku, yang kau tinggalkan enam tahun lalu, tanpa kata sedikitpun." Gurat amarah itu nampak terlihat, ketika Nicko mengatakannya.
__ADS_1
Deg. Hati Diana hancur seketika ....
*Bersambung*