
"Giara? Bersama Om-Om?" jantung Diana berdegup tak karuan.
"Ini harus diabadikan. Ini gak bisa dibiarin, Na. Jelas-Jelas ini kesempatan lo buat bisa kembali sama Nicko. Kita harus foto dia, dan segera beri tahi Nicko!" seru Anita begitu bersemangat.
"Jangan lupa timer-nya. bIar jelas kapan waktu dan tanggal foto ini diambil. Biar Nicko tahu, gimana sih bejadnya cewek ini." Diana juga merasa puas.
Akhirnya, jalan pintas untuk kembali pada Nicko pun mulai terbuka. Tanpa menunggu waktu lama, Anita segera memotret kebersamaan Giara dengan sang sugar daddy.
Mereka sama sekali tak menyangka, jika Nicko memiliki kekasih yang nakal seperti Giara. Hal ini tentu saja menguntungkan bagi Diana. Karena, selain ini bisa dijadikan tameng untuk kembali pada Nicko, Giara juga tentu saja pasti tak akan direstui oleh keluarga Nicko.
Mereka berdua terus mengamati Giara dari kejauhan. Anita sengaja, ingin melihat seberapa dekat Giara dengan Om-Om tersebut. Akhirnya, dapat Diana tarik kesimpulan, jika Giara bukanlah junior, melainkan seorang senior dalam hal persugar baby-an.
"Gue rasa, dia udah pengalaman banget! Lihat aja, dia rangkul-rangkulan gitu tanpa ada rasa gugup dan canggung sedikitpun! Dia juga keliatannya ngobrol-ngobrol santai sama yang lainnya. Fix, ini sih sugar baby senior! Rupanya, Nicko bego juga cari cewek yang cuma modal tampang ama muda doang!" Diana memaki-maki Giara.
"Iya, bener kan firasat gue selama ini. Dari awal pas di Bali tuh ya, gue ngerasa kalau ceweknya si Nicko ini kayak orang yang ketakutan tahu gak. Ternyata, ini alasannya dia ketakutan selama ini." tegas Anita.
"Udah lo foto, Nit?" tanya Diana.
"Udah, dong. Gue kirim ke ponsel elu ya. So, rencana lu selanjutnya gimana, Na? Lo harus gercep kasih tahu Nicko perihal ceweknya ini." pinta Anita.
__ADS_1
"Gue masih belum berani hubungin dia. Gue sempat beberapa kali kirim pesan sama dia, dan gue juga pernah nelepon dia, tapi ... lidah gue kelu, Nit. Gue gak bisa ngomong sama dia. Gue bener-bener ngerasa bersalah sama Nicko. Gue malu hubungin dia. Gue merasa gak pantas, untuk berhadapan lagi sama Nicko. Hati gue bener-bener gak sanggup waktu itu. Karena, gue merasa bahwa gak akan ada pintu maaf dari Nicko buat gue, Nita," ucap Diana penuh kecemasan.
"Sekarang gini, lo gak usah pikirin hal itu. Rasa bersalah itu memang pasti ada. Tapi, lo gak sepenuhnya salah, Na. Dulu, lo gak ada pilihan ketika kedua orang tua lo gak nyetujuin hubungan lo sama Nicko. Bahkan, mereka terus ngancam lo kan saat lo melahirkan anak lo? Dan akhirnya, lo nyerah karena kedua orang tua lo berniat bunuh diri kalo lo gak ninggalin Nicko dan menikah dengan si Hans pria tua itu? Semua ini tekanan buat lo! Lo melakukannya dengan terpaksa. Gue tahu, kalo lo itu jelas mencintai Nicko. Hanya saja, waktu dan kondisi saat itu bikin lo gak bisa berpikir jernih, sehingga lo tega ninggalin dia dan anak lo. Semua karena kedua orang tua lo, Kan? Lo bisa jelasin hal ini sama Nicko. Gue yakin, kalau hati Nicko lagi tenang, dia pasti memahami semua ini. Apalagi, kalau dia tahu, ceweknya yang sekarang inituh bener-bener gak layak buat dia jadikan istri! Cuma elo, Na, elo yang layak untuk bersama Nicko." Anita terus mendukung Diana.
Diana terdiam. Ucapan Anita ada benarnya juga. Diana melakukan semua ini memang karena sebuah keterpaksaan. Jika saja kedua orang tua Diana menyetujui hubungannya dengan Nicko, mungkin mereka akan bahagia sampai saat ini.
"Apa iya Nicko bakalan maafin gue, Nit? Jujur, gue cuma beberapa saat aja sama Queen. Dia adalah anak gue, darah daging gue. Tapi sayangnya, mendiang kedua orang tua gue gak bisa nerima dia. Sakit hati gue Nit kalau inget terus masa lalu. Sekarang gini, lo pikir aja, mana ada sih Ibu yang tega ninggalin anaknya. Sakit banget jadi gue, Nit, sakit. Apalagi, setelah kepergian gue, Nicko pernah ngancam gue, dia gak akan izinin gue ketemu lagi sama anak gue. Ya Tuhan, gimana nasib hidup gue sekarang? Terpaksa, semuanya karena keterpaksaan, Anita ..." tiba-tiba saja air mata Diana mengalir begitu derasnya karena teringat sang anak.
"Gue yakin, dalam hati kecil Nicko, dia masih nunggu elo untuk kembali dan meminta maaf. Lo bayangin aja, selama enam tahun lamanya, sampai saat ini pun Nicko belum pernah menikah lagi. Walau kali ini, lo memang sedikit terlambat karena Nicko udah pacaran sama cewek nakal itu. Tapi lo tenang aja, kita udah tahu kan kalau ternyata ceweknya itu kayak gini. Gak mungkin lah dia layak untuk jadi Ibu sambungnya anak lo. Nicko juga pasti kecewa kalau tahu si Giara ini ternyata wanita malam!" Anita meyakinkan Diana ,jika semuanya bisa ia miliki lagi.
Diana terdiam. Hatinya berkecamuk penuh rasa pilu dan gundah. Mungkin benar kata Anita, jika Nicko masih menunggu dirinya. Pantas saja, Nicko tak pernah menikah lagi.
Tak ada hubungan spesial antara Diana dan Hans. Diana hanya menginginkan hartanya saja dan menjadi wanita penebus utang keluarganya. Karena sekarang ini semuanya sudah selesai, tentu saja Diana akan memilih untuk berpisah dan meninggalkan Hans ,si pria tua itu.
"Nit, kayaknya gue yakin kali ini. Gue akan memebranikan diri untuk menemui Nicko. Gue harus bicara sama dia, dan meminta maaf." ucap Diana merasa yakin.
"Bagus, ini baru Diana yang gue kenal. Lo harus semangat, demi mendapatkan Nicko, dan anak lo lagi, Na. Gue pasti dukung dan bantuin lo. Gue akan ada di belakang lo, dan tentu saja bantuin lo, agar kembali lagi sama Nicko." seru Anita.
"Apa gue harus hubungi Nicko sekarang?"
__ADS_1
"Lo yakin mau hubungi dia?" tanya Anita.
"Apa mungkin gue bisa ketemu sama dia?"
"Apa tak sebaiknya kita suruh aja Nicko datang ke sini dan melihat secara langsung cewek nakalnya ini? Kayaknya sih, mereka pasti masih lama di sini. Tadi gue gak lihat mereka. Apa lo mau ketemu Nicko? Inilah saatnya, Na. Biar gue yang hubungi Nicko, agar Nicko segera datang ke cafe bar ini," Anita tersenyum kecut.
"Lo yakin, Nit? Aduh, gimana kalau mereka berantem di tempat umum kayak gini? Gue gak bisa bayanginnya!" Diana merasa takut.
"Justru bagus dong. Biarkan mereka berantem, dan lo datang di saat yang tepat. Lo datang bak malaikat yang nenangin kemarahan Nicko. Udah, lo tenang aja. Biar gue atur semuanya!" Anita segera membuka ponselnya, lalu mengirim pesan pada Nicko.
Anita Hariawan : Nicko, ini gue Nita. Btw, lo lagi sibuk gak? Kayaknya, sekarang lo harus datang ke cafe bar n lounge deh. Ada sesuatu yang harus lo lihat. Ini penting banget, Nick. Kalo lo penasaran, lo harus datang sekarang juga. Maaf, bukan maksud gue ngancurin hubungan lo. Tapi, gue rasa lo harus tahu aja. Sumpah, gue gak ada maksud apapun.
Begitulah pesan yang Anita kirimkan pada Nicko. Sekejap saja pesan itu terkirim pada Nicko. centang duanya langsung berubah menjadi warna biru. Itu pertanda, jika Nicko telah membaca pesannya.
"Di, Diana, Nicko udah read pesan gue nih! Dan gue yakin, dia pasti akan segera ke sini sekarang juga! Aah, gue gak sabar, bener-bener gak sabar nunggu momen mereka berantem dan putus!" Anita begitu antusias.
"Apa lo yakin mereka bakalan putus?" tanya Diana masih ragu.
*Bersambung*
__ADS_1