
Nicko memaksa Giara untuk masuk kedalam mobilnya. Tenaga Giara tak mampu untuk menahan kuatnya Nicko. Hingga akhirnya Giara pun pasrah dan duduk di dalam mobil Nicko.
Dengan tatapan penuh amarah, Giara menatap Nicko tanpa berkedip. Jelas saja Giara marah, karena Nicko selalu berbuat sesuka hatinya. Seperti ini, kelakuan Nicko yang tak bisa ditoleransi. Inilah yang menjadi sebab Giara amat sangat membenci Nicko.
"Buka mobilnya!" sentak Giara.
"Tidak, sebelum aku berbicara padamu," jawab Nicjo cepat.
"Berbicara apa lagi? Apa yang ingin Anda katakan, Pak? Tak cukupkah Anda menyakiti hati saya? Apalagi yang ingin Anda lakukan?" Bentak Giara sembari mendelik.
"Maafkan aku," tiba-tiba Nicko jadi lemah lembut.
Giara menatap Nicko heran, karena tiba-tiba saja perlakuannya jadi terlihat lemah lembut seperti itu. Ini aneh, tak seperti biasanya Nicko begini. Tak mengerti, sikap Nicko saat ini sulit dimengerti.
"Ya, sudahlah. Toh, semua juga sudah terjadi. Sekarang, tolong keluarkan aku dari mobil ini! Banyak hal yang lebih penting dari sekadar permintaan maaf Anda, Pak," ucap Giara masih terlihat kesal.
__ADS_1
Nicko terdiam. Rasanya masih ada yang mengganjal, karena Giara tak menerima permintaan maaf Nicko dengan tulus. Nicko tak ingin hal ini terjadi. Hatinya sangat tak nyaman melihat Giara marah seperti ini padanya. Hati kecil Nicko ingin memperbaiki hubungannya dengan Giara.
Ada sebuah rasa peduli dari Nicko untuk Giara. Rasa yang terhanyut karena diiringi keinginan anaknya. Karena Queen begitu ingin bertemu dengan Giara, membuat Nicko ingin memperbaiki hubungannya dengan Giara. Sebenarnya, Nicko pun bingung dengan perasaannya sendiri. Entah ia harus apa, namun jika ia menerawang lebih jauh, Nicko ingin memperbaiki kehidupan Giara, agar tak terjerumus dalam kehidupan malam yang bebas ini lagi.
Ada sesuatu yang Nicko khawatirkan pada Giara. Entah kenapa, Nicko jadi peduli dan ingin Giara hidup lebih baik. Jangan seperti ini, karena hal ini akan membahayakan jiwa Giara juga nantinya. Menjadi seorang wanita malam, apa untungnya? Giara tak seharusnya menghabiskan masa mudanya untuk merugikan dirinya. Walau Nicko bukan siapa-siapa Giara, tapi Nicko ingin sekali merubah kehidupan Giara, agar lebih baik lagi.
"Giara, apa kamu benar-benar tak bisa berhenti? Kamu tak takut menjalani semua ini? Bukankah pekerjaanmu ini begitu berbahaya? Maafkan aku jika terlalu ikut campur, tapi kamu juga perlu memerhatikan dirimu,” Nicko mulai mengungkapkan kecemasannya.
“Cih, kenapa tiba-tiba Anda berusaha menjadi pahlawan bagiku? Anda siapa, Pak? Anda tak layak menceramahi saya jika di luar. Hubungan kita hanya sebatas dosen dan mahasiswa saja. Bapak boleh memarahi saya, jika di dalam kelas. Bapak boleh bersikap seenaknya, jika itu menyangkut mata kuliah Bapak. Tapi jika di sini, Anda hanya orang asing bagi saya, Pak. Pak Nicko tak berhak ikut campur, apalagi meminta saya berhenti menjalani pekerjaan saya ini. Memangnya Bapak siapa? Apakah Bapak bisa menanggung biaya hidup saya, jika saya berhenti bekerja menjadi sugar baby? Ha?” sindir Giara begitu tajam.
Nicko terdiam. Ingin rasanya membalas ucapan Giara saat ini. Namun Nicko bingung, haruskah ia blak-blakkan mengatakannya? Haruskah Nicko jujur dengan apa yang ia rasakan? Haruskah Nicko mengatakan hal yang memalukan itu?
Nicko menatap wajah cantik Giara yang terlihat kesal dan penuh emosi. Tak mungkin ia mengatakan hal yang tak mendasar seperti itu. Nicko tentu saja tak siap dan ia pasti malu jika harus to the point berkata begitu.
"Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih halal dari apa yang kamu lakukan saat ini. Kamu bisa berjualan, menjadi foto model, menjadi penulis, ataupun mengikuti casting untuk bermain sinetron. Banyak sekali hal yang lebih positif, yang bisa kamu lakukan. Can you, Giara? Aku yakin, kamu pasti bisa keluar dari pekerjaan mengerikan ini!" Nicko mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa Bapak seorang ustadz? Pintar sekali berceramah! Pak Nicko dengar ya, saya menikmati pekerjaan ini! Saya tak terpaksa menjadi sugar baby. Saya memang memilih jalan ini, karena begitu instan. Bapak tak perlu mengkhawatirkan saya, karena saya bisa menjaga diri saya sendiri. Pak Nicko tak tahu, bagaimana saya bekerja. Pak Nicko hanya tahu saya dari luar saja! Jangan menganggap saya sebelah mata, Pak. Pekerjaan saya ini tak sehina yang Anda pikirkan! Anda berpikir terlalu jauh tentang saya! Padahal Pak Nicko sendiri tak tahu apa-apa. Bapak hanya tahu kulitnya saja, tanpa tahu isinya seperti apa." Giara geleng-geleng kepala.
Nicko menghela napas panjangnya. Ia tahu, jika Giara bukan pelac*r. Namun yang Nicko takutkan adalah, keselamatannya, jika ada beberapa pria yang menginginkan Giara, namun Giara menolak habis-habisan.
"Aku tahu siapa kamu. Aku tahu bagaimana pekerjaanmu, Giara. Kamu begitu menjaga kehormatanmu, bukan? Kamu tak ingin tidur bersama dengan Om-Om itu bukan? Apa selama ini kamu bisa menghandle semuanya Giara? Apa keadaan aman seperti ini akan terus begini? Bagaimana jika ada orang jahat yang menjebakmu, dan begitu menginginkan tubuhmu? Bagaimana jika salah satu dari mereka nekad dan kau tak bisa berbuat apa-apa? Kamu tahu kan resiko dari pekerjaanmu ini Giara? Apa kamu tak memikirkan ke arah sana?" Nicko begitu mengkhawatirkan Giara.
"Aku sudah satu tahun menjalani pekerjaanku ini. Semua aman terkendali. Aku memiliki banyak orang yang bisa menolongku jika terjadi sesuatu padaku. Kenapa Anda begitu sok tahu dan berasumsi sendiri? Bapak terlalu ikut campur urusanku. Sudahlah, jangan buang-buang waktu untuk menceramahiku, Pak. Aku tahu harus bagaimana. Aku bisa menjalani kehidupanku sendiri, tak perlu ocehan orang lain seperti Anda. Bapak tak tahu apa-apa. Dan ini sudah sangat membuang waktu saya. Saya mohon, buka pintu mobilnya sekarang juga!" bentak Giara.
"Aku begini, karena aku peduli padamu, Giara! Aku begini karena aku berharap padamu! Aku sungguh meminta maaf atas semua ucapanku padamu. Harusnya kamu tahu, aku berkata begitu, karena aku khawatir padamu! Aku takut kamu kenapa-napa jika terus menjalani pekerjaan ini. Sungguh, maafkan aku atas ucapan kasarku tadi. Aku memiliki alasan kuat kenapa aku memarahimu, Giara ..." ucap Nicko begitu lemah.
"Aku sudah memaafkanmu, Pak Nicko ... sudah ya, aku harus kembali. Aku tak bisa berlama-lama di sini. Jangan banyak bicara lagi, Pak. Intinya, aku sudah memaafkanmu, oke? Tolong buka pintu mobilnya, so please, my lecturer ..." Giara memohon.
"Tidak, Giara! Bisakah kau berhenti dan mengikuti ucapanku? Aku akan bertanggung jawab atas kehidupanmu jika kau menuruti apa yang aku katakan!" Bentak Nicko karena tak tahan dengan sikap Giara yang seakan menikmati pekerjaannya itu.
Deg. Mata Giara melotot. Ia tak menyangka, jika kata-kata itu keluar dari mulut Nicko. Kaget bukan main, karena ucapan Nicko kali ini begitu mendalam, dan mengenai hati Giara.
__ADS_1
"P-Pak Nicko ...," Giara kaget, sangat-sangat kaget.
*Bersambung*