
Giara menutup wajahnya, sembari mengacak-acak rambutnya. Pesan dari Nicko membuat Giara benar-benar pusing tujuh keliling. Kenapa bisa-bisanya Nicko terus saja mengatakan kata menikah, padahal pacaran saja mereka belum pernah.
Giara yang tengah berada di kantin merasa salah tingkah sendiri. Belva sebagai sahabatnya, tentu saja merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu. Akhir-akhir ini, Giara sedikit tertutup padanya. Bahkan, Giara sudah jarang sekali datang ke bar dan menemui Belva.
"Gue heran sama lo, sebenarnya apa sih yang lo sembunyiin dari gue? Kayaknya lo ada sesuatu deh sama Pak Nicko! Kalian beneran pacaran?" tanya Belva to the point.
Giara sedikit kaget karena Belva rupanya tengah memerhatikan dirinya. Giara memang belum sempat cerita pada Belva perihal Nicko, karena Giara masih malu-malu dan ragu untuk mengatakannya.
Namun saat ini, saat Belva tengah curiga dan bertanya, rasanya tak enak jika Giara berbohong atau tak jujur pada Belva. Mungkin Giara memang harus mengakuinya saat ini, dan berharap jika Belva akan memahaminya.
"Bukannya disembunyiin, tapi gue rasa, gue belum siap aja cerita ke elu. Ada banyak hal yang mau gue bilang ke elo, Bel," ucap Giara.
"Apaan? Ya ceritain, dong!"
Giara harus sedikit memutar fakta mengenai kedekatannya dengan Nicko saat ini. Ia sendiri malu, jika ketahuan Belva bahwa Nicko terus mendekatinya. Giara hanya ingin memberitahukan Belva, jika yang Nicko lakukan semua ini hanyalah karena kasihan dan berniat menolongnya.
"Gue terancam dikeluarin dari kampus." ucap Giara.
"What? Kenapa? Karena pacaran sama Pak Nicko?" tebak Belva asal-asalan.
"Ya enggak lah, Bel. Bukan begitu ... ada yang laporin gue, katanya gue seorang sugar baby yang mencemarkan nama baik kampus. Pihak DPA pun turun tangan dan terus mencari bukti tentang profesi gue. Sampai pada akhirnya, mereka menemukan semua bukti-bukti nyata tentang kerjaan gue. Makanya, gue minta tolong sama Pak Nicko, biar bantuin gue, Bel. Gue bener-bener takut dikeluarin dari kampus."
"Seriously? Sampe segitunyakah? Terus, apa kabar nasib gue yang juga sama seperti elu? Bahkan, gue lebih parah dari elu, Ra." ucar Belva.
"Lo ga seperti gue, Ra, mungkin yang laporin gue itu karena dia sirik sama gue, atau bahkan pernah gue tolak. Selama ini kan lo gak pernah ada masalah sama siapapun, Bel, beda sama gue, yang sering banget bermasalah ama orang-orang," jelas Giara.
"Makanya, lo sih cari gara-gara mulu. Sok-Sok.an gak mau ngasih tubuh lo, sok mau ngejaga keperawanan lo, hal itu malah ngebahayain diri lo sendiri tahu gak," Belva menyalahkan Giara.
"Eh, gue kerja kayak gitu juga karena terpaksa, gue gak bermaksud untuk jual diri gue. Gue gak sanggup Bel, emangnya elu, yang udah terjun bebas, dan tidur sama siapapun. Prinsip hidup kita tuh beda, makanya banyak banget orang yang gak suka sama gue, dan mau jatohin gue. Mereka kadang bilang gue ini sok suci, sok jual mahal. Ya gue gak peduli, karena maksud dan tujuan gue kerja itu ya cuma untuk have fun aja, bukannya *** fun." jelas Giara.
"Iya, iya, sorry Ra. Gue paham kok. Lo emang gak mau ngorbanin diri lo. Gue paham keputusan lo. Tapi kalau udah gini, banyak orang yang benci lo, terutama cowok yang udah lo tolak, lo mau gimana Ra? Apalagi, mereka sampe laporin lo kayak gini. Bener-Bener udah keterlaluan kan Ra,"
"Yaudah sih, biarin aja Bel. Lagian, Pak Nicko juga mau bantuin gue, kok. Dia mau bantuin gue, tapi dengan syarat gue berhenti dari profesi gue itu. Karena resikonya berat, gue DO dan blacklist dari kampus ini. Pak Nicko mau bantu gue, asal gue berhenti, katanya ..."
__ADS_1
"Dan kenapa lo minta bantuan dia? Lo gak malu?"
"Dia pernah nyewa gue buat ke Bali. Gue lupa ,entah udah pernah cerita ini apa belum ke elu. Yang jelas, Pak Nicko udah tahu profesi gue, karena itulah dia bantuin gue, Bel."
"Terus gimana? Dia berhasil?" Belva begitu penasaran.
"Iya, dan dia bilang, pihak DPA mau cabut gugatan orang itu, namun gue dalam pemantauan selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan ini, gue gak boleh buat kasus apapun, Bel." jelas Giara.
"Wow, Pak Nicko hebat juga ya. Hati-Hati lo kepentok cinta Pak Nicko, Ra. Kayaknya, lo sama dia cocok. Bukannya Pak Nicko itu masih perjaka? Udah, gaet aja!" Belva terkekeh.
"Idih, perjaka, duda anak satu kali ah!" Giara refleks keceplosan.
"HAH? Apa? Duda anak satu?" Belva begitu refleks berbicara keras.
Deg. Giara kaget, ia keceplosan berbicara pada Belva. Padahal, Giara sudah berjanji pada Nicko akan merahasiakan semua ini. Astaga, gue keceplosan. Ya Tuhan, gimana ini? Pak Nicko, maafin saya, Pak. Aduh, ini mulut bisa-bisanya keceplosan lagi. Ucap Giara dalam hati.
.....
Satu jam kemudian ....
Bu Sinta terkadang memegang lengan Nicko. Berkali-kali Nicko menepis tangan Bu Sinta, namun lagi-lagi tangan itu melingkar dan tak mau kalah pada Nicko.
Sungguh hari tersial bagi Nicko, harus berjalan bersama dengan Bu Sinta, si wanita aneh yang berasal dari planet.
"Pak Nicko, gimana? Seneng kan jalan sama saya?" tanya Bu Sinta pede.
"Saya gak seneng jalan-jalan Bu." jawab Nicko seadanya.
"Kalau sama cewek, Pak Nicko harus bisa membiasakan diri untuk jalan-jalan, Pak. Gimana cewek mau betah sama Pak Nicko, kalau ngajakin jalan saja gak pernah. Btw, Pak Nicko, katanya Pak Nicko mau belikan saya apapun? Apa saya boleh meminta sesuatu Pak?" rayu Bu Sinta.
"Ah, iya. Boleh, Bu. Asalkan, setelah membeli barang yang Ibu mau, kita pulang ya, Bu?" rayu Nicko agar jalan-jalan ini segera berakhir.
"Ke taman kotanya gimana, Pak?" Bu Sinta terlihat kecewa.
__ADS_1
"Kan bisa lain waktu, Bu,"
"Janji ya lain waktu Pak?" Bu Sinta tersenyum riang.
Astaga, aku malah janji lagi sama dia, ucap Nicko dalam hati.
"Yaudah, Bu Sinta mau apa sih?"
"Saya mau beli tas mahal Pak. Boleh gak?"
Terserahlah, asal cepat pulang saja! Geram Nicko dalam hati.
"Boleh, Bu. Apapun itu, beli saja. Asalkan, cepat pulang, saya sudah lelah," Nicko benar-benar tak bergairah.
"Masa baru gitu aja lelah sih Pak? Jangan sampe loh, kalau di kasur cepat lelah, gak macho itu Pak!" Bu Sinta benar-benar terlalu berani.
"Astaga, Bu! Istigfar loh, Bu Sinta ini ngomong apa sih!" Nicko kesal.
"Sorry-Sorry, saya terbawa suasana. Kita ke toko brand itu aja, Pak. Mana tahu ada diskon, kalau harga normal diizinin sih, saya malah senang sekali Pak," seru Bu Sinta.
"Silakan beli Bu, asal jangan pakai lama!"
Bu Sinta dan Nicko berjalan masuk kedalam sebuah toko tas terkenal. Saat Nicko dan Bu Sinta baru berada didalam toko tersebut, betapa kagetnya Nicko, karena ada sosok seorang wanita yang sangat ia kenali di dalam butik tas tersebut.
"N-Nicko?" Fera ternyata tengah ada didalam butik ras tersebut.
Fera sangat tercengang, karena melihat Nicko masuk dengan seorang wanita. Ditambah lagi, wanita itu tengah memegang paksa lengan Nicko. Sejak tadi, Bu Sinta ingin selalu terlihat sebagai pasangan dengan Nicko.
"M-Mama?" Nicko kaget bukan main, lalu dengan refleks ia melepas genggaman tangan Bu Sinta yang melingkar di tangannya.
Bu Sinta menatap Fera, "Mama?" Tanpa aba-aba, Bu Sinta pun berbisik pada Nicko, "Ini Mama Pak Nicko? Ya Tuhan, Mama mertuakuuuuu ...."
Astaga, Astaga ... bencana ini, bencana! Gerutu Nicko dalam hati.
__ADS_1
Fera mengernyitkan dahinya, Nicko bersama wanita lain? Wanita ini terlihat seumuran dengannya. Apakah ini wanita Nicko yang baru? Penampilannya begitu rapi, dan seperti orang yang berpendidikan. walau ..., agar sedikit 'norak' apakah dia memang calon Nicko yang baru? Haruskah kini aku menyetujuinya? Ucap Fera dalam hati, begitu menatap kedekatan Nicko dan wanita pecicilan di sampingnya.
*Bersambung*