
Astaga ... kenapa mulutki harus kepeleset segala, sih? Anak-Anak kan jadi kaget. Aduh, puter otak Giara, puter otak. Gimana caranya biar mereka gak curiga atas ucapan aku barusan. Ucap Giara dalam hati.
Rekan-Rekan Giara menatap fokus padanya. Mereka ingin mendengar penjelasan Giara atas apa yang ia ucapkan. Namun Giara tiba-tiba berubah, ia jadi terkekeh, seakan-akan semua itu bohong.
"Ya elah, kalian serius banget sih. Maksud gue itu, mana tahu dia ingin segera memiliki anak dan mengurus anak. Kalian tahu sendiri, kan? Pak Nicko itu wajahnya aja yang terlihat muda, kalau umurnya mah udah tua! Dia itu udah bapack-bapack. Wajarnya sih punya anak dua!" Giara terkekeh mencoba mencairkan suasana.
"Ah, iya juga sih. Wajah Pak Nicko itu awet muda, kayak pake formalin. Bener gak sih?" timpal Vina.
"Ra, apa lo tahu sesuatu tentang Pak Nicko?" Belva terlihat curiga.
"T-tahu sesuatu? Apaan maksudnya? Enggak kok, gue gak tahu apa-apa. Gue cuma nebak aja, Bel."
Belva merasa ada yang aneh, karena pada saat itu Nicko begitu khawatir pada Giara, bahkan sampai terus menghubunginya untuk mencari keberadaan Giara.
Namun saat ini, kondisinya tengah bersama teman-teman yang lain. Belva jadi tak enak jika harus membicarakan hal itu pada Giara dihadapan teman yang lain.
Beberapa menit, ternyata Nicko pun melihat Giara yang tengah berada di kantin bersama dengan teman-temannya yang lain. Nicko menatap Giara dari jauh.
Wajah Giara yang ceria membuat Nicko terus memerhatikannya. Entah kenapa, jika menatap Giara, rasanya hati Nicko jadi tenang dan nyaman. Mungkinkah hati Nicko tertinggal pada Giara?
Bu Sinta melihat Nicko yang tengah fokus menatap Giara. Dia terlihat kesal, karena Nicko malah melihat wanita lain. Padahal, jelas-jelas dihadapannya sudah ada wanita yang seribu persen siap untuk Nicko pandangi.
"Hey, Pak Nicko! Lihat apa, sih? Ngapain lihat anak itu?" Bu Sinta tahu, jika Nicko ternyata tengah memerhatikan Giara.
"Eh, enggak kok, Bu. Saya hanya lagi perhatikan keadaan sekitar," ucap Nicko gugup.
"Mending perhatikan saya saja, Pak," Bu Sinta mesam-mesem.
"Ah, Bu Sinta bisa saja," Nicko sebenarnya sangat malas.
"Eh, Pak Nicko, ngomong-ngomong, tuh anak yang di sana. Si Giara itu tuh ya, dia kan lagi di perhatiin sama beberapa dekan dan dosen! Dia ternyata memiliki sebuah catatan merah!" ujar Bu Sinta.
Nicko refleks melihat kearah meja kantin yang diduduki Giara. Giara? Kenapa tiba-tiba Bu Sinta berkata Giara? Nicko heran, ia tak mengerti sama sekali. Apa memang Bu Sinta mengenal Giara?
__ADS_1
"Giara? K-kenapa dia? Kenapa dekan memperhatikannya?" tanya Nicko serius.
"Dia itu penuh skandal, Pak Nicko. Sudah beberapa kali tertangkap basah karena jalan-jalan bersama Om-Om. Dia gadis nakal, beberapa video sudah beredar diantara dosen dan dekan di kampus kita. Hanya saja, dekan masih mengumpulkan bukti yang kuat, untuk mengatasi masalah ini. Tak lama lagi, gadis nakal itu pasti dikeluarkan dari kampus," ucap Bu Sinta tiba-tiba.
"Apa? Tak mungkin. Apa benar dekan sudah mengetahui hal itu?" Nicko kaget bukan main.
"Iya, ada salah satu dosen yang melaporkan si Giara itu. Tapi, buktinya tak cukup kuat, dan rupanya dekan dan beberapa rektor masih mengamati kasus ini. jIka bukti sudah kuat, maka tak lama lagi, gadis itu pasti akan di DO. Perlakuannya tentu saja mencemarkan nama baik Universitas. Bisa-Bisanya di kampus kita ada hama seperti itu. Menjijikkan sekali bukan, Pak? Hati-Hati ya, dengan mahasiswi itu! Dia ular berbisa, loh!" Ucap Bu Sinta sambil mendekatkan bibirnya pada telinga Nicko.
Deg. Nicko terdiam. Penjelasan Bu Sinta cukup mengagetkan baginya. Ternyata, Giara sedang diamati oleh penasehat dan juga beberapa pimpinan universitas.
Hal ini tentu saja membuat Nicko khawatir. Masa depan Giara akan tamat jika ia benar-benar dikeluarkan dari kampus ini. Nicko tak bisa tinggal diam, ia tak mungkin membiarkan hal ini terjadi. Sebelum terlambat, Nicko harus benar-benar menghentikan Giara.
"Bu, jangan mudah terbawa kabar tak jelas seperti itu. Mana tahu bukan dia orangnya. Nanti jatuhnya fitnah loh," ucap Nicko.
"Ya ampun Pak Nick, kenapa membela dia? Jelas-Jelas banyak dosen kita yang tahu, kok. Hanya saja, hal ini disembunyikan dari mahasiswa lain. Agar menghindari perbuatan negatif dan hal yang gak diinginkan. Misalnya, mereka malah mau menyewa dia dan memanfaatkannya jika banyak orang yang tahu," ucap Bu Sinta lagi.
Nicko terdiam. Ia tak habis pikir, bisa ketinggalan informasi seperti ini. Rupanya, dekat dengan Bu Sinta membuatnya mengetahui informasi yan up to date. Apalagi, informasi itu mengenai Giara.
Nicko sudah tak bisa memikirkan hal lain-lain lagi. Ia ingin segera mengatakan apa yang ia ketahui pada Giara. Nicko membuka ponselnya, namun ia lupa, jika Giara tengah memblokir nomor ponselnya.
Nicko kesal, karena ia tak bisa memberi tahu Giara dengan cepat. Bagaimana caranya Nicko memberi tahu Giara? Apalagi, hari ini tak ada kelas untuk mengajar di fakultas Giara.
Beberapa saat kemudian, Nicko berpikir, agar ia sebisa mungkin menemui Giara dengan cepat. Lebih cepat tentu saja akan lebih baik. Giara harus tahu hal ini secepatnya.
Akhirnya Nicko menemukan cara yang tepat untuk memberi tahu hal penting ini pada Giara. Nicko jadi tak fokus lagi pada Bu Sinta. Yang lebih penting saat ini adalah keselamatan Giara di kampus ini.
"Pak Nick, Pak ... kok diem aja sih? Kita bisa jalan-jalan bareng kan, Pak?"
"Maaf, Bu, saya ada urusan. Saya harus segera pergi,"
Nicko pun berlalu meninggalkan Bu Sinta seorang diri. Bu Sinta berteriak-teriak pada Nicko, namun Nicko tak mengindahkannya. Nicko tak ada kelas kali ini, karena itulah ia memutuskan untuk cepat menemui Giara.
Nicko bergegas ke mejanya dan membereskan barang penting miliknya. Ia harus berbicara pada Giara, Bagaimanapun caranya. Bu Sinta yang terlihat mengejar Nicko, mulai kesal karena Nicko rupanya telah berada di meja.
__ADS_1
"Pak, kenapa Pak Nicko ninggalin saya, sih?"
"Maaf, Bu, saya ada keperluan mendadak. Lain kali saja ya, kita bicaranya. Mohon maaf sekali, Bu, saya harus segera pergi sekarang."
"Pak Nick kejam deh sama saya. Saya ditinggalin begitu saja. Sakit hati saya, Pak," Bu Sinta terlihat sedih.
"Ya Tuhan, Bu Sinta ... jangan seperti ini. Maaf, maaf sekali. Saya sibuk sekarang. Saya janji, nanti saya akan ajak Ibu untuk makan bersama lagi, ya? Oke? Asal Ibu izinkan saya untuk pergi sekarang," Nicko terus memohon agar Bu Sinta tak menahannya.
"Astaga, hati saya meleleh karena ajakan Anda, Pak Nick ... Ah, rupanya dia memang tertarik padaku, sehingga malah mengajakku makan bersama lagi. Pak Nicko, kita memang jodoh ... jodoh pasti bertemu, seperti kata Afgan. Begitu kan Pak? Akhirnya, kita dipertemukan dengan cara yang unik seperti ini. Oh Pak Nicko ...," Bu Sinta berbicara sendiri, ia menatap punggung Nicko dengan perasaan berbeda.
Nicko tak menghiraukan Bu Sinta. Ia harus fokus menemui Giara. Kali ini, Nicko harus menemukan Giara secepatnya. Nicko harus berbicara padanya, dan meyakinkan jika Giara saat ini tengah dalam bahaya.
Tiba-Tiba, Nicko melihat Giara yang tengah berjalan di lorong kampus. Nicko terpikir, jika di lorong ini ada sebuah gudang perpustakaan lama yang sudah tak terpakai.
Nicko berpikir, akan mengajak Giara untuk berbicara dan masuk ke gudang tersebut. Kebetulan Giara tengah berjalan sendiri. Ini adalah kesempatan untuk Nicko, agar bisa dengan mudahnya menangkan Giara.
Saat Giara tengah berjalan melewati gudang perpus tersebut, tiba-tiba Nicko menarik tangan Giara dari belakang. Giara kaget bukan main. Saat ia menatap siapa yang memegangnya, Giara lebih tercengang lagi.
"P-Pak Nicko, lepas, Pak!" Giara kaget bukan main.
"Sshht, jangan banyak bicara. Aku harus berbicara empat mata denganmu. Ayo, ikut aku!" Nicko membuka gedung perpus lama, lalu memaksa Giara untuk masuk kedalam.
"Eh, Eh, Pak ... lepas, lepasin saya!" Giara berontak, namun secepat kilat Nicko menutup mulutnya dan membawa masuk Giara kedalam gudang perpustakaan.
"Aarrgghhh, apa-apaan ini! Main culik orang sembarangan aja! Saya akan melaporkan Anda, Pak Nicko!" teriak Giara setelah sampai didalam gudang.
"Ada hal penting yang harus aku katakan. Dan itu, menyangkut nyawamu di kampus kata," ucap Nicko.
"A-apa? M-maksud Pak Nicko?"
Deg. Jantung Giara bergemuruh sangat cepat, ia kaget mendengar ucapan Nicko yang cepat.
*Bersambung*
__ADS_1