
Beberapa saat sebelum Diana menemui Queen ....
Langkah kakinya begitu berat memasuki kawasan sekolah TK ini. Ia berharap, jika dirinya bisa bertemu dengan Queen sesegera mungkin. Jika memang melalui Nicko tak akan berhasil, maka Diana akan mencoba mendekati Queen.
Awalnya, mendekati Queen adalah hal yang mustahil bagi Diana. Sebenarnya, Diana tak ingin melibatkan Queen dalam semua ini. Diana ingin Nicko yang menerimanya kembali.
Namun, rupanya tak mungkin bagi Diana untuk semudah itu mendekati Nicko. Akan sulit menaklukkan Nicko lagi, karena sepertinya Nicko sudah menutup hatinya.
Akhirnya, Diana tak punya pilihan lain. Walau tak siap, mau tak mau ia harus mendekati darah dagingnya sendiri. Sebenarnya Diana tak sanggup, hatinya tak mampu menatap Queen.
Dosanya terlalu besar. Hatinya bak diiris-iris belati ketika ia melangkahkan kakinya mendekati Queen yang tengah duduk bersama teman-temannya. Pandangannya begitu fokus pada Queen, sehingga tanpa terasa, ada air mata yang mengalir di pelupuk mata Diana.
Queen nampak memerhatikan Diana. Ia baru melihat Diana untuk pertama kalinya. Apalagi, Diana mengatakan jika dirinya adalah teman sang Ayah. Tenti saja Queen merasa bingung. Karena baru kali ini, ada teman Ayahnya yang mendatanginya.
Saat Diana tengah mendekati Queen dan menatapnya, tanpa Diana sadari, rupanya Fera tengah datang lagi ke sekolah. Tiba-tiba, Fera, ibunda Nicko datang dan menghampiri Queen yang tengah didekati oleh seorang wanita.
Fera tentu saja heran, siapa yang tengah mendekati Queen? Tanpa basa-basi, Fera segera berjalan cepat mendekati sang cucu. Khawatir, jika orang yang mendekati Queen, adalah orang jahat.
"Maaf, siapa ya?" tanya Fera.
Diana berbalik, "M-Ma, Mama ..."
Fera melotot saking kagetnya, ia tak menyangka, dengan sosok wanita yang ada dihadapannya saat ini, tengah menemui cucunya. Dia adalah wanita yang sangat Fera benci seumur hidupnya.
"K-Kamu!" Fera terlihat emosi, ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Diana.
Diana segera berbalik menghadap Fera. Air matanya semakin membasahi pipinya. Entah itu adalah air mata buaya, atau memang air mata yang benar-benar murni datang dari hatinya.
"Kamu ngapain di sini, hah!" antara percaya tak percaya, Fera begitu kaget melihat sosok Diana yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Maaf, Ma, gak mungkin kita bicara di depan Queen," Diana merasa tak enak, jika ia dicaci maki oleh Fera dihadapan anaknya sendiri.
Fera menatap Diana sangat tajam. Emosinya benar-benar memuncak dan tentu saja ia marah bukan main pada Diana. Berani-Beraninya Diana menampakkan batang hidungnya setelah enam tahun lamanya dia meninggalkan Queen dan Nicko.
Rasa sakit hati Fera tentu saja sama seperti Nicko, karena ini benar-benar diluar nalar manusia. Ibu mana yang tega meninggalkan darah dagingnya sendiri? Hanya orang gila lah yang seperti itu.
Tak mungkin jika manusia yang memiliki logika akan meninggalkan anaknya sendiri. Fera benar-benar tak bisa mentoleransi perbuatan Diana. Melihat wajah Diana kembali, serasa ingin mencabik-cabik wajahnya dan menghabisinya sekarang juga.
"Pergi! Jangan muncul dihadapanku lagi! Apalagi, berani-beraninya menemui cucuku! Pergi kubilang, atau aku laporkan pada satpam sekolah ini!" Fera meneriaki Diana dengan begitu menakutkan.
Queen sangat terheran-heran karena Oma-nya malah memarahi wanita yang mengaku teman Ayahnya itu. Queen tak pernah melihat Fera semarah itu. Sekalipun pada Ayahnya, Fera tak pernah meneriaki apalagi marah-marah dengan begitu menakutkan seperti ini.
"Oma, Oma kenapa? Oma jangan marah," Queen mencoba menenangkan Fera.
Fera menatap Queen. Ia lupa, tak seharusnya Fera marah-marah dihadapan sang cucu. Akhirnya, Fera membawa Queen dan temannya menuju kelas. Fera membiarkan Diana seorang diri di taman.
Jangan sampai Queen bertemu Diana lagi. Itu adalah hal yang sangat Fera takutkan. Diana bukan sosok Ibu yang baik untuk Queen. Diana tak pantas disebut oleh Queen.
Setelah menjauh dari Diana, Queen pun menatap Fera. Wajahnya kini terlihat santai dan tenang. Oma-nya itu tak terlihat marah lagi. Fera mencoba mengontrol emosinya agar tak terlihat marah dihadapan Queen.
"Oma kenapa marah sama teman Ayah?" tanya Queen.
Teman Ayah? Rupanya dia berkata teman Nicko. Punya rasa malu juga dia rupanya. Ucap Fera dalam hati.
"Dia nakal, jadi Oma marahi. Sudah, Queen fokus belajar ya. Jika nanti ketemu sama orang yang gak dikenal kayak yang tadi, lari aja ke kelas, jangan mau bicara sama dia, ya," ucap Fera.
"Dia nakal kenapa Oma?"
"Nanti saja bahasnya ya, Queen kan sebentar lagi masuk. Sekarang fokus belajar dulu, jangan memikirkan hal yang gak penting. Oke?" Fera mencoba melupakan masalah tentang Diana.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Oma. Oma tunggu Queen ya, jangan pergi lagi," pinta Queen.
"Oke sayang, Oma akan tunggu Queen. Oma janji," Fera mengangkat jari kelingkingnya, yang dibalas juga oleh Queen.
Akhirnya gadis kecil itu masuk ke kelas. Fera sebenarnya masih penasaran dengan sosok Diana. Akhirnya, Fera mencoba mendatangi taman sekolah lagi.
Fera ingin melihat, apakah Diana masih ada di sekolah ini atau tidak. Jika sudah tidak ada, berarti Diana memang tahu diri, dan dia malu. Tapi, jika Diana masih ada, berarti memang dia sudah tak memiliki harga diri.
Benar saja dugaan Fera, Diana masih ada di taman sekolah Queen, sembari duduk menutup wajahnya. Sepertinya wanita itu tengah menangis. Dari kejauhan, Fera mampu melihat ekspresi Diana, seperti orang yang tengah merenungi penyesalannya.
Karena saat ini tak ada Queen, Fera mampu berbicara pada Diana. Dalam hatinya, Fera meyakinkan dirinya, jika ia tak akan pernah sedikitpun menerima Diana kembali dalam kehidupan Nicko dan Queen.
Diana sama sekali tak pantas, dia bukan seorang Ibu. Bagi Fera, Diana adalah seorang monster yang tak punya hati. Fera menatap Diana yang tengah menunduk menangis.
Air mata penyesalan yang sudah tak ada artinya. Ucap Fera dalam hati.
"Kenapa kau masih di sini? Haruskah aku benar-benar memanggil satpam dan mengusirmu?" tanya Fera mengagetkan Diana yang tengah menunduk.
Fera pun bangkit, dengan matanya yang sembab, ia menatap Diana, "M-Mama," maafkan aku ..." Diana ingin meraih tangan Fera, namun Fera menepisnya begitu saja.
"Jangan sebut aku Mama, dan jangan pernah menyentuh tanganku. Apa kau tuli? Kubilang pergi, kenapa masih belum pergi? Apa maumu?"
"Aku ingin melihat anakku ..." ucap Diana terisak.
"Aku tak akan menutupinya. Dia memang anakmu, tapi aku tak akan mengizinkan dia bertemu denganmu, apalagi menganggapmu sebagai ibunya. Lantas, apalagi yang akan kau harapkan dari semua ini? Penyesalanmu itu kuanggap sebagai sadarnya orang gila dari rumah sakit jiwa!" pekik Fera tanpa ampun.
"Ma, cukup, hatiku sakit mendengar semua ucapanmu. Apakah aku tak boleh menemui anakku? Aku akan jelaskan semuanya dari awal, perihal kepergianku, dan kenapa aku tak mengabari kalian. Kumohon, aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk bersama anakku, dan Nicko lagi. Aku sangat-sangat merindukannya, Ma. Coba kau bayangkan, hati ibu mana yang tak terluka. Selama ini aku terluka, Ma, selama ini aku terpaksa. Bisakah kau dengarkan aku? Kumohon ...," Diana berlinang air mata, ia terus memohon pada Fera.
"Makan saja penyesalanmu, dan jangan ganggu anak juga cucuku. Jika kau bersikeras mengganggunya, maka aku tak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi! PERGI KAU SEKARANG JUGA!" Sentak Fera sembari berlalu meninggalkan Diana.
__ADS_1
Diana masih terisak. Ia sakit hati dengan ucapan Fera yang sangat menusuk kalbunya. Dalam hatinya, Diana berkata, Baiklah, Ma, jika aku tak bisa mendapatkan Nicko lagi, maka ..., tak akan ada satupun wanita yang bisa mendapatkan Nicko, termasuk ..., GIARA, si pel@cur itu.
*Bersambung*