Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 39. Akibat Simulasi


__ADS_3

"Hentikan!" teriak Giara.


"Kenapa harus berhenti? Ini adalah hal yang diinginkan oleh setiap pria, asal kau tahu itu!" tegas Nicko.


"Anda sudah lancang! Seorang dosen yang akan melec3hkan mahasiswinya, akan terjerat pasal berapa ya? Aku lupa lagi materi itu. Tentunya Anda akan dipenjara, Pak Nicko. Berani menaiki kasur ini, akan kubuat Anda meringis kesakitan!" Giara memberanikan diri berbicara pada Nicko.


"Jika nyawamu hilang, apa kamu bisa melaporkanku ke polisi? Aku akan bebas, dan tenang, karena tak akan ada yang melaporkanku. Apalagi, jika aku bermain cantik!" Nicko terus saja membuat Giara ketakutan dan marah.


Giara kaget mendengar ucapan Nicko. Ini bukan seperti Nicko yang Giara kenal. Kali ini, Nicko terlihat begitu menakutkan dan mengerikan. Walau Giara pernah mendapati keadaan seperti ini, namun kali ini berbeda rasanya.


Biasanya, Giara tak pernah takut sedikitpun. Namun kali ini, Giara malah terlihat takut dan bukan menjadi Giara seperti biasanya. Hal ini sangat membuat Giara heran, kenapa ia tak berani? Kenapa Giara malah terlihat lemah dihadapan Nicko?


"Kenapa? Kamu takut, Giara? Katamu, kamu berani dan selalu bisa membuat lawanmu kalah? Sekalipun itu laki-laki?" tantang Nicko.


"Karena aku tahu, Pak Nicko hanya menakut-nakutiku saja! Aku sudah bisa menebaknya, Pak. Silakan, silakan sentuh aku jika kau memang berani menyentuhnya!" Giara tersenyum kecut, karena ia pun tertantang dengan ucapan Nicko.


"Kamu kira, aku hanya menakutimu? Oh, menantangku rupanya. Apa kamu tak sadar, bahwa aku juga seorang pria yang memiliki gairah? Apalagi, melihat wanita yang berpakaian seksi seperti ini? Apa kamu mau, menyerahkannya padaku, Giara? Toh, aku dan kamu sama-sama sendiri, kan?" Nicko mulai berjalan menuju ranjang, semakin mendekati Giara.


Wajah Giara mulai pucat, karena kini Nicko naik ke atas ranjang dan terus mendekatinya. Awalnya, Giara tak ingin main fisik dengan Nicko, karena Giara merasa tak sanggup untuk memukul Nicko.


Namun, jika keadaannya seperti ini, mau tak mau Giara harus nekad melakukan pembelaan diri. Sekalipun, pria dihadapannya ini adalah dosennya sendiri. Sudah menjadi prinsip Giara, jika ada pria yang menggangunya, maka ia harus menghabisi pria itu.

__ADS_1


"Pak Nicko, cukup. Jangan mendekat, atau aku akan--" Giara masih menahan tangannya yang mengepal.


Nicko kini berada dihadapan Giara, dengan tubuh kekarnya yang terlihat bebas, karena Nicko sudah menanggalkan pakaiannya. Hanya tinggal celana jeans Nicko, yang masih terpakai rapi di kakinya.


Nicko mulai nekad, ia sengaja membuka sabuk dari celananya. Hal itu tentu saja membuat Giara shock berat. Sepertinya Nicko memang tak main-main dengan ucapannya. Nicko serius, untuk meniduri Giara saat ini.


Tangan Giara sudah memberi ancang-ancang, jika ia akan memukul perut Nicko yang ada tepat dihadapannya. Tanpa Nicko sadari, Giara akan melancarkan aksinya. Ketika tangan Giara akan meninju perut Nicko, sayangnya, tangan Nicko lebih cekatan daripada Giara.


Nicko menepis tangan Giara yang akan menghadangnya. Nicko berhasil mematahkan tangan Giara yang akan meninju perut sixpact-nya. Nicko tersenyum sinis, ia merasa hebat karena berhasil menggagalkan maksud Giara untuk menyakiti tubuhnya.


Tanpa basa-basi, Nicko segera menjatuhkan tubuh Giara ke kasur empuk itu. Hingga kini, Giara telentang di kasur, dan Nicko berada di atas tubuh Giara. Jantung Gjara berdegup tak karuan.


Berbeda dengan kali ini, Nicko memang tak bisa Giara lawan. Entah Giara sudah lelah, atau karena memang Nicko terlalu kuat. Nicko merasa puas bisa membuat Giara ketakutan seperti itu.


"Hanya itu kemampuanmu?" tantang Nicko.


Giara masih merasa belum puas. Ia mencoba membalikkan tubuh Nicko. Namun lagi-lagi Nicko bisa mengantisipasinya. Nicko menahan Giara, agar tetap berada di bawah tubuhnya.


"Aarrrrghh lepas! Aku pastikan Anda akan kulaporkan ke polisi, Pak Nicko!"


"Laporkan saja. Mana ada polisi yang mau mendengarkan sugar baby nakal sepertimu. Mereka juga pasti mengira kau sama saja munafiknya dengan pria yang ingin menidurimu!"

__ADS_1


"Kurang ajar! Apakah pantas seorang dosen yang terhormat sepertimu mengatakan hal ini padaku, ha? Anda sudah keterlaluan, Pak!" Giara terus meronta, namun Nicko tak memberikan kesempatan Giara untuk terlepas dari cengkeramannya..


"Lepas!"


"Baru segini saja sudah tak bisa melawanku. Dan kamu, meng-klaim, bahwa dirimu mampu melawan jika ada pria nakal yang akan menidurimu? Aku ini hanya sendiri. Tak ada bantuan orang lain untuk melakukannya. Bagaimana jika pria hidung belang, atau Om-Om yang sering kau ajak kencan itu memaksamu untuk tidur? Dan bagaimana, jika dia menyuruh bawahannya untuk membantu mendapatkanmu? Kamu tak akan bisa apa-apa, Giara! Kamu akan habis! Kamu hanyalah seorang wanita. Kamu lemah, kamu tak mungkin bisa menandingi laki-laki manapun." tegas Nicko.


Giara terdiam, tiba-tiba saja ucapan Nicko malah terdengar seperti ucapan nasehat, bukan lagi perilaku menyeramkan seperti tadi. Giara terdiam, masih dalam posisi berbaring, dan Nicko berada di atas tubuhnya.


"Jangan merasa dirimu hebat. Hingga kamu terus berani melakukannya bersama pria-pria itu. Tak ada jaminan kamu bisa selamat jika para pria itu sudah bertindak. Jangan sok pintar, yang perlu kamu perhatikan adalah, bagaimana caranya kamu melindungi dirimu, Giara. Kamu bisa melawan satu hingga dua orang. Tapi, bagaimana jika mereka lebih dari tiga orang? Dan semuanya mempermainkanmu? Pikirkan dirimu, dan masa depanmu. Kamu bisa saja melaporkan mereka, tapi apa kamu bisa tenang dan selamat setelah itu? Bagaimana jika mereka terus mengincarmu, dan membalas dendam padamu? Kamu harus sadar, Giara. Kamu tak punya pria yang bisa melindungi kamu! Tak ada sosok yang bisa menyelamatkanmu jika kamu terluka. Jangan keras kepala, aku begini, hanya ingin tahu, apakah kekuatanmu itu melebihi supermen atau iron man? Ternyata, hanya seperti ini kemampuanmu. Kau terlalu sombong, Giara. Padahal, kau tak ada apa-apanya." Nicko bangkit dari kasur itu dan segera berdiri.


Ucapan Nicko benar-benar menusuk hati Giara. Kata-Kata yang Nicko lontarkan, begitu tajam kali ini. Nicko sudah tak peduli lagi jika Giara akan menganggapnya buruk.


Ia hanya mengetes Giara saja, apakah Giara memang sekuat yang dibayangkannya. Jika kekuatan Giara hanya seperti itu, mana bisa ia melawan para pria jika ada yang nakal menginginkan tubuhnya.


Nicko memakai kembali kemeja dan sabuknya. Ia tak bermaksud melakukan hal tersebut pada Giara. Nicko hanya mengetes Giara saja. Walau tak bisa dipungkiri, pedang panjang dibalik celana Nicko juga sebenarnya bereaksi atas perlakuannya barusan.


"Tidurlah di sini, aku sudah membayarnya. Aku pergi sekarang. Selamat malam, jaga dirimu baik-baik." Ujar Nicko sembari merapikan pakaiannya yang terlihat kusut.


Giara tak mampu berbicara sepatah kata apapun. Mulutnya serasa dibungkam hebat oleh Nicko. Sulit sekali membuka mulutnya saat ini. Lidahnya kelu, ia kalah berbicara dengan Nicko. Giara sudah tak bisa melakukan pembelaan apapun.


"Sial, kenapa aku ini? Kenapa aku harus diam saja? Aarrrggh, harga diriku hancur dimatanya," Giara terbangun, kini ia dalam posisi duduk dan mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2