Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 38. Kancil Nakal


__ADS_3

Nicko tengah menunggu di hotel yang ia janjikan pada Giara. Rasa kesal, emosi, dan marah bercampur menjadi satu. Sepertinya, Nicko sudah tak bisa membiarkan Giara seperti itu lagi.


Memang, Giara bukan siapa-siapa Nicko. Tapi, Nicko tak bisa melepaskan Giara begitu saja. Entah kenapa, rasanya hati dan perasaan Nicko telah bertaut pada Giara. Walau sepertinya, Giara merasa terganggu karena keberadaan Nicko saat ini.


Beberapa saat menunggu, Nicko mendapat pesan lagi. Pesan dari orang yang sama, yaitu Anita. Kini, Anita mengirim pesan pada Nicko berupa sebuah foto. Yakni, foto Giara yang tengah berpelukan bersama dengan seorang pria.


"Memang dasar kancil nakal. Bisa-Bisanya aku percaya pada gadis berbisa seperti dia. Apa dia tak sedikitpun menghargai apa yang aku lakukan? Bodohnya aku, kenapa aku harus peduli padanya? Apa yang terjadi dengan hatiku? Kenapa ini?"


Nicko mengepal tangannya dengan kasar. Giara telah membuatnya marah. Namun, kenapa Nicko harus marah? Kenapa Nicko tak membiarkan saja Giara? Kenapa harus peduli dan memerhatikan dia?


"Mungkinkah, aku telah jatuh padanya? Tapi, kenapa bisa? Kenapa bisa aku jatuh cinta pada gadis yang sangat jauh umurnya denganku? Tidak, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. Sepertinya aku hanya iba, ya ini perasaan iba dan kasihanku padanya." Nicko berbicara sendiri, ia menampik kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


.....


Giara tengah berlari keluar cage secepat mungkin. Pesan Nicko membuatnya takut. jIka menghindar pun, keesokan harinya Giara pasti akan tetap bertemu dengan Nicko.


Tak mungkin Giara akan melarikan diri dari Nicko. Itu tentu saja adalah hal yang mustahil. Mau tak mau, Giara harus menghadapi Nicko dengan sekuat hati.


Niat Giara saat ini, ia akan meminta maaf pada Nicko. Walau, entah maaf itu tulus atau tidak. Yang penting, Giara harus bisa merayu Nicko agar tak marah lagi padanya.


"Mulai saat ini, aku harus hati-hati jika bertemu dengan sugar daddy-ku. Aku tak boleh bertemu dengan mereka di tempat yang berdekatan dengan lokasi Pak Nicko. Maafkan aku, Pak Nicko. Sepertinya, aku memang bebal. Aku tak bisa mendengarkan kamu. Aku begini, karena tuntutan hidupku. Mana mungkin aku akan terus bergantung pada Pak Nicko. Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku takut, aku takut hatiku akan jatuh padanya." Ucap Giara seorang diri.


Sembari berlari, Giara terus berpikir, hatinya merasa kesal, kenapa Nicko bisa mengetahuinya? Apakah Nicko memata-matainya? Apa Nicko tak ada kerjaan? Tapi, sepertinya tak mungkin. Giara menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku heran, kenapa Pak Nicko bisa tahu, kalau aku ada di cafe itu? Apakah ada seseorang yang Pak Nicko kenal di cafe tadi? Bodohnya aku, kenapa tak langsung meminta masuk ruangan VIP pada oN Roy. Aahrrgghh, aku bingung. Tuhan, harus bagaimana aku? Haruskah aku berbohong lagi? Masihkah Pak Nicko bisa memercayai aku jika aku berbohong? Ucap Giara dalam hati.


Sesampainya di hotel, langkah kaki Giara terhenti perlahan-lahan. Karena ia tengah melihat Nicko berdiri di depan parkiran mobil hotel tersebut. Nicko tengah memandang ke arahnya.


Dosen tampan itu tak berbohong saat ia mengatakan pertemuan ini. Rupanya, Nicko menepati janjinya. Jantung Giara berdegup sangat cepat, karena menatap Nicko yang terus fokus menilik kearahnya.


Nicko tak berkedip sedikitpun. Ia benar-benar fokus menatap Giara dengan kedua matanya. Tajam sekali tatapan Nicko pada Giara saat ini. Hingga Giara merasa takut, karena Nicko tak pernah semenyeramkan ini.


Langkah kakinya berjalan perlahan mendekati Nicko. Tangannya gemetar, perasaannya tak enak. Entah apa yang akan Nicko lakukan pada Giara. Apakah Nicko akan memaki-maki Giara? Ataukah Nicko akan menampar Giara?


Masih jadi tanda tanya bagi Giara, tentang apa yang akan Nicko lakukan. Namun, mau tak mau, Giara harus menemui Nicko secepatnya. Giara hanya bisa menundukkan pandangannya ketika ia berada dihadapan Nicko.

__ADS_1


"Ikut aku!" Nicko secepat kilat menarik tangan Giara, dan mengajaknya masuk kedalam hotel.


"P-Pak, t-tunggu dulu, aww sakit," Giara tak sangka ,jika Nicko akan bersikap kasar seperti itu padanya.


Giara tak habis pikir, Nicko akan menarik tangannya secara kasar dan mengajaknya masuk kedalam hotel. Dalam hatinya, Giara ketakutan. Ini adalah kali pertamanya Nicko bersifat kasar pada Giara.


Nicko memesan sebuah kamar, ia check in lalu mengambil kunci hotel, dan mengajak Giara masuk kedalam lift. Entah apa yang akan Nicko lakukan. Namun, Giara jelas merasa heran. Untuk apa sebuah kamar hotel?


Sesampainya di lorong kamar hotel, Nicko berjalan cepat sambil masih memegangi tangan Giara dan tak sedikitpun melepaskannya.


"Pak, lepas! Saya bisa jalan sendiri,"


"Tak akan aku lepaskan!" Tegas Nicko.


"Pak Nicko kenapa sih? Kan bisa bicara baik-baik!" Giara tak habis pikir.


"kIta buktikan di dalam!" Pekik Nicko.


"Maksud Bapak?" Giara tak mengerti sama sekali.


"Pak, haruskah Anda seperti ini pada saya, hah?" Giara mulai emosi.


Sesampainya di dalam, Nicko segera mengunci pintu kamar hotel. Hal ini tentu saja semakin membuat Giara merasa kaget dan cemas. Kenapa harus dikunci? Apalagi, setelah Nicko mengunci kamar hotel itu, Nicko mengambil kuncinya dan memasukkan pada sakunya.


Ada apa ini?


Melihat Nicko yang terus berjalan kearahnya, membuat Giara semakin ketakutan. Giara pun refleks berjalan mundur, dan menghindari Nicko yang terus berjalan kearahnya.


"Pak Nicko, k-kenapa sih?" Giara sudah tak bisa lagi berjalan mundur, karena ia kini bersandar di tembok hotel. Nicko semakin mendekat, dan Giara sudah tak bisa menghindar lagi.


Melihat gelagat Nicko, seperti ia akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Giara. Giara kaget, tak mungkin Nicko seperti itu, bukan?


"P-Pak, k-kenapa?" Giara refleks gugup saat Nicko kini sudah berada dekat dengannya.


"Jadi yang kamu inginkan itu seperti ini?" tanya Nicko.

__ADS_1


"Yang aku inginkan? Maksud Pak Nicko apa sih, Pak?"


“Ya, kamu menginginkan dirimu berakhir di kamar hotel seperti ini, karena kamu terus menemani mereka!" bentak Nicko dengan suara meninggi.


"Siapa bilang, ha? Aku tidak serendah apa yang Pak Nicko pikirkan!" balas Giara.


"Tapi, kelakuanmu ini tentu saja mengundang mereka untuk melakukan hal seperti ini! Membawamu ke kamar hotel, dan memakaimu! Kamu menginginkan hal itu terjadi? Iya?" tandas Nicko.


"Tentu saja tidak! Tak akan ada yang berani melakukan hal seperti itu padaku! Aku selalu mampu melindungi diriku sendiri!" tantang Giara.


Nicko tersenyum kecut, rupanya Giara memang keras kepala. Selain ia tak mendengarkan Nicko, ia juga selalu merasa bahwa dirinya hebat dan mampu mengatasi jika hal buruk seperti ini terjadi padanya.


"Benarkah? Kamu mampu melindungi dirimu sendiri?"


"Tentu saja! Anda tak perlu khawatir pada saya, Pak!"


"Baiklah kalau begitu. Akan kubuktikan sekarang," Nicko seakan menantang Giara.


"M-maksud Pak Nicko?"


Nicko menyeret Giara dan membawanya ke ranjang. Nicko menjatuhkan Giara ke kasur hotel yang empuk. Giara kaget bukan main, ia benar-benar tak menyangka, jika Nicko akan melakukan hal ini padanya.


"Pak Nicko! Kurang ajar! Apa maksud Anda, ha?"


Nicko tak menjawab ucapan Giara, Nicko membuka kancing bajunya satu persatu. Hal itu tentu saja membuat Giara ketakutan. Apa yang akan Nicko lakukan? Kenapa Nicko harus membuka kancing bajunya? Sepertu Nicko akan melakukan sesuatu pada Giara.


"Pak Nicko! Apa yang Anda lakukan!? K-kau! brengsek sekali!" Giara berteriak.


"Simulasi! Aku akan melakukan simulasi padamu!" Nicko tersenyum meremehkan Giara.


"Kurang ajar!" Giara bingung, ia tak mengerti, kenapa tiba-tiba Nicko harus bersikap menakutkan seperti ini.


Mari k**ita lihat, kancil nakal ..., ucap Nicko dalam hati.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2