
"Kenapa kalian bersikeras ingin menahan dia? Jika seluruh pimpinan kampus tahu, maka akreditasi kampus kita akan rusak! Saya sebagai DPA di kampus ini, tak ingin menanggung malu dan kerugian cukup besar. Hal ini telah saya pertimbangkan juga dengan beberapa dekan lainnya. Tak ada kesempatan bagi seorang wanita malam untuk kuliah di tempat elite ini. Itu sudah merupakan keputusan mutlak kami sebagai pimpinan kampus." tegas Pak Handoko.
Lagi-Lagi, Nicko bingung harus bagaimana merayunya. Sedari tadi, Bu Sinta hanya terdiam saja. Ia tak membantu Nicko berbicara. Hanya pembicaraan awal saja, sekadar basa-basi dan pembicaraan yang tak terlalu penting.
"Pak, Giara ini adalah mahasiswa yang juga membiayai ibunya yang tengah sakit. Dia terpaksa melakukan hal tersebut. Jika saja Giara tengah mendapatkan bantuan dari kampus kita, maka dia pun pasti tak akan melakukan hal hina seperti itu. Itu sudah seperti pekerjaan yang terpaksa baginya. Kita harus membantunya, bukan malah menyingkirkannya seperti itu. Saya rasa, mendatangi rumahnya, dan melihat keadaannya langsung merupakan sebuah langkah yang tepat. Jadi, kita tidak asal main DO mahasiswi, Pak. Apa Pak Handoko bisa mempertimbangkannya lagi? Kasihan sekali jika dia harus tersingkir seperti ini. Sementara, jika diperbaiki ia bisa menjadi sosok yang lebih baik." Nicko terus berusaha merayu Pak Handoko agar bisa menangguhkan pemberhentian Giara.
Pak Handoko terdiam. Mungkinkah ucapan Nicko benar adanya? Apakah keadaan Giara memang benar-benar memprihatinkan? Tapi, Pak Handoko merasa, jika Nicko tengah membohongi dirinya.
Karena Nicko sendiri, pernah memakai jasa Giara. Hanya saja, tak etis rasanya jika sesama dosen saling menjatuhkan. Apalagi, Nicko adalah juniornya. Pak Handoko pun hanya bisa meneliti lebih dalam, alasan dari Nicko ingin menangguhkan pemberhentian Giara.
"Apa Anda yakin dengan apa yang Anda ucapkan?" tanya Pak Handoko serius.
Bu Sinta hanya bisa terdiam. Antara yakin dan tidak, karena ia sendiri tak tahu fakta yang sebenarnya terjadi pada Giara. Bu Sinta tak ingin terseret, karena itulah dia hanya diam saja dan tak mau ikut campur.
"Pak, saya berani menjelaskan dan mencari buktinya. Asalkan, Pak Handoko mau menangguhkan dahulu proses DO mahasiswi atas nama Giara Divania ini, Pak. Saya rasa, dia perlu dibantu dan dibimbing, bukan dibiarkan dan ditinggalkan seperti itu. Saya berkenan memberikan laporan tentang keluarga mahasiswi itu." Nicko terus meyakinkan Pak Handoko.
"Kenapa kamu bisa tahu? Kamu mengenalnya? Kamu dekat dengannya?" tanya Pak Handoko.
"Kakak saya pernah mempekerjakan ibunya, sebelum ibunya sakit keras seperti sekarang ini. Setelah ibunya sakit, tentu saja dia yang banting tulang mencari uang untuk biaya berobat sang Ibu. Namun sepertinya dia keliru, karena malah memilih pekerjaan tak pantas seperti itu. Jika Bapak mengizinkan, saya akan mengedukasi dia, Pak."
"Baiklah, saya tunggu satu minggu ini. Jangan hanya Anda sendiri yang melakukannya. Saya akan mengutus Bu Sinta juga, untuk melakukan peninjauan tentang mahasiswi itu. Bawa bukti sebanyak-banyaknya, hingga saya bisa mempertimbangkan semuanya." jelas Pak Handoko membuat Nicko senang.
"Ah, tentu saja, Pak. Baik, saya akan membawa beberapa bukti fisik atas apa yang saya tahu. Saya bersama Bu Sinta akan mengusut semuanya." jawab Nicko begitu bersemangat.
__ADS_1
Bu Sinta hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia malas ikut campur dengan urusan Giara. Hanya saja, jika tidak dituruti, Bu Sinta takut Nicko akan menjauhinya dan tak mau dekat dengannya lagi.
"Baik, Pak. Saya dan Pak Nicko akan melaksanakan tugas yang Anda berikan. Sebelumnya, terima kasih telah memercayai saya ..." Bu Sinta membungkukkan badannya.
Setelah semuanya selesai, Nicko dan Bu Sinta pun berlalu. Nicko lega, akhirnya ia bisa menolong Giara agar masa depannya tak putus begitu saja. Dengan bantuan Bu Sinta, tentu saja Nicko bisa meyakinkan Pak Handoko, bahwa Giara bukan wanita panggilan yang sengaja melakukan pekerjaan itu.
Nicko sudah berjanji, jika ia akan mengajak Bu Sinta berjalan-jalan, dan memberikan apapun yang Bu Sinta inginkan. Hal ini tentu saja membuat Bu Sinta merasa bahagia dan diperhatikan.
Selepas itu, Bu Sinta kembali mengajar di kelas lain. Nicko pun pamit padanya, dan berniat untuk segera menemui Giara. Nicko harus berbicara dengan Giara. Ini adalah masalah serius, dan Giara harus segera mengetahuinya.
Nasib Giara kini ada di tangan Nicko. Bagaimana Nicko meyakinkan dosen penasehat agar tak memberhentikan Giara. Beberapa saat berlalu, akjirnya Giara membalas pesan Nicko. Giara mau diajak bertemu dengan Nicko namun tentu saja di tempat yang jauh dari kampus.
Kebetulan, Nicko membawa mobil. Akhirnya, Nicko menjemput Giara dan mengajaknya ke suatu tempat. Namun, Nicko rupanya lebih nyaman jika berbicara dengan Giara di mobilnya.
Ditatapnya wajah Giara. Wajah yang sangat disayangkan jika harus melakukan pekerjaan hina seperti itu. Wajah yang begitu cantik dan anggun, yang selalu Giara perjual-belikan pada pria tua yang haus akan belaiannya.
Membayangkannya, membuat Nicko kesal, dan tak rela jika Giara harus terus melakukan hal tersebut. Giara mulai tak nyaman, karena Nicko memerhatikannya dengan begitu tajam, dan tanpa berkedip sedikitpun.
"Pak Nicko, kenapa sih? Ada apa?" Giara heran.
"Apa kamu tahu, kabar terbaru tentang dirimu di kampus? Kenapa kamu terlihat santai dan leha-leha saja?"
“Kabar tentangku? Maksudnya bagaimana, Pak? Jujur, aku tak paham sama sekali,"
__ADS_1
"Kamu ini masih saja sok polos, Giara. Kamu ingat tidak, saat ada yang melaporkanmu dan kamu terancam akan diberhentikan?" Nicko mencoba mengingatkan.
"Iya, iya, aku ingat. Tapi kan bukannya masalah itu sudah Bapak atasi?"
"Atasi kamu bilang? Atasi hal itu, tapi kamu membohongiku dan jalan-jalan lagi dengan pria sugar daddy-mu itu, iya? Bagaimana aku mau mengurusi hal itu! Aku pun emosi padamu, jadi aku membiarkan hal itu begitu saja! Sekarang, bukannya mereda, tapi kamu dalam keadaan terancam, Giara!" sentak Nicko.
Giara tercengang mendengar penjelasan Nicko. Apa maksudnya? Ada perasaan was-was dalam dirinya dan merasa takut karena Nicko berkata terancam. Bagaimana Giara menghentikan isu tentang dirinya?
"Jadi, apa yang membuatku terancam?"
“Kamu terancam diberhentikan dari kampus, Giara!"
“Apa? Ya Tuhan, gak mungkin, Pak! Jangan sampai hal itu terjadi, aku gak bisa bayangin gimana sakit hatinya Ibu kalau tahu aku aku diberhentikan dari kampus. Astaga, bagaimana ini? Pak Nicko, tolong aku, bantu aku, Pak. Aku gak mau di DO. Aku gak mau ..."
Refleks air mata Giara mengalir saking kagetnya. Giara tak pernah menyangka jika profesi ini membuatnya akan diberhentikan dari kampus. Nicko merasa tak tega melihat Giara menangis. Hatinya ikut sakit, karena Giara begitu terluka saat ini.
"Sudah kubilang bukan? Ikuti aku, patuhi aku. Aku akan membawamu ke jalan yang benar. Aku telah mengerahkan semuanya untukmu kali ini. Dan untuk yang terakhir kalinya aku mohon padamu, jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan padamu ... Giara, menurutlah. Aku telah mengorbankan jabatanku untukmu. Aku akan membantumu, dan membuatmu tetap berada di kampus. Namun aku mohon ..., jangan kecewakan aku lagi, apalagi ..., membohongiku ....x
Giara benar-benar terenyuh mendengar apa yang Nicko katakan. Pria itu memang luar biasa dan bisa membuat Giara tenang. Benarkah Nicko berjuang untuknya? Atas dasar apa Nicko melakukannya?
"Pak Nicko ... maafkan aku ...," Giara refleks menyentuh tangan Nicko, yang berada di dekat kemudi.
*Bersambung*
__ADS_1