Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 26. Sadarkah?


__ADS_3

Wine demi wine Nicko teguk tanpa tahu aturan. Entah kenapa hati dan pikirannya begitu kacau saat ini. Nicko emosi melihat Giara tengah melantai bersama pria tua yang menurut Nicko menyebalkan. Ingin rasanya Nicko melempar pria tua itu dengan sebotol wine yang tengah ia minum.


Kesadarannya mulai menurun, karena Nicko terlalu banyak minum alkohol. Ia tak sadar, jika besok Nicko harus mengajar di kampus. Akal sehat Nicko sudah hilang, karena teramat kesal pada Giara. Sebenarnya, kenapa Nicko harus bersusah payah melakukan hal tak bermanfaat begini? Kenapa Giara begitu berarti bagi Nicko? Mungkinkah hati Nicko telat bertaut pada Giara?


Melihat Nicko yang mulai teler, gadis kecil yang tadi Nicko suruh memanggil Giara, akhirnya mendekati Nicko lagi. Gadis itu bernama Melati, ia baru saja selesai melakukan pekerjaannya dengan Om-Om yang menyewanya. Tanpa sadar, pandangannya tertuju pada Nicko yang terlihat sempoyongan dan tak fokus lagi.


“Hi Om, ya ampun, ternyata Om masih di sini. Om mabuk berat nih kayaknya. Udah Om, kalau gak kuat jangan terus minum,” ucap Melati mencoba menghentikan Nicko yang terlihat mabuk parah.


“Aaaaah, aku benci tempat ini. Kenapa aku harus berada di sini demi wanita nakal itu? Kenapa aku harus memikirkan dia?” Nicko mulai tak fokus bicara, efek alkohol sudah merasuki tubuhnya.


Melati semakin bingung, karena sepertinya Nicko tak memiliki teman di tempat ini. Melati melihat ke sana ke mari, sepertinya Nicko ke sini hanya untuk menemui Giara saja. Karena Nicko telah memberi uang padanya, Melati jadi tak tega membiarkan Nicko seorang diri.


“Om, apa Om mau pulang? Biar aku pesankan kendaraan online agar mereka mengantar Om pulang?” seru Melati.


“Aku tak mau pulang, sebelum dia menjawab tawaranku!” Nicko berbicara sambil teler.


Melati merasa heran, entah apa yang terjadi pada pria dihadapannya ini. Haruskah Melati memanggil Giara kembali? Melati melihat Nicko menundukkan kepalanya pada meja bar. Nicko sepertinya sudah tak berdaya lagi, entah berapa alkohol yang terus ia teguk sejak tadi.


“Aduh, Om, harusnya kalau gak bisa minum banyak, jangan maksain diri, Om. Sepertinya Om ini belum terbiasa deh ke tempat seperti ini,” ucap Melati seorang diri.


Tiba-Tiba, saat Melati tengah membujuk Nicko agar segera pulang, Giara melihat adegan tersebut. Giara kaget bukan main, karena melihat Nicko masih berada di tempat ini. Giara kira, jika Nicko telah pulang dan tak membuntutinya lagi.


Giara pun meminta agar Om Hans menghentikan kegiatan berdansanya. Om Hans pun mengerti dan ia kembali ke sofa. Giara berkata pada Om Hans jika ada temannya di sini, dan Giara harus membantunya.


Giara berjalan cepat menuju meja bartender tempat Nicko duduk dengan Melati. Giara tak habis pikir, untuk apa Nicko masih di sini. Hal itu tentu saja hanya membuang-buang waktu Nicko saja. Giara menatap Nicko dari kejauhan, sepertinya Nicko tengah mabuk.


“Mel, kenapa dia masih ada di sini? Kamu nemenin dia?” tanya Giara pada Melati.


“Enggak, Kak. Aku gak tahu, kenapa dia masih ada di sini. Tadi, selesai aku service, aku liat Om ini masih di sini. Dia terlihat mabuk sekali. Awalnya aku suruh dia pulang, Kak. Tapi dia malah bicara takjeals, dan berkata tak mau pulang. Aku kasihan saja melihatnya, sepertinya dia belum terbiasa datang ke tempat seperti ini,” jelas Melati.

__ADS_1


Tentu saja dia tak biasa datang ke tempat seperti ini. Mungkin juga ini adalah kali pertamanya mabuk. Terlihat sekali jika dia tak siap, dan terpaksa mabuk. Kenapa sih dosen rese ini benar-benar keras kepala? Apa sih maunya? Batin Giara dalam hati.


Dengan terpaksa, akhirnya Giara meminta Melati menjaga Nicko sebentar, sementara ia harus pamit pada sugar daddy-nya. Giara akan pamit pada Om Hans, karena ia tak tega melihat Nicko yang tepar karena alkohol.


“Om, aku sepertinya harus cabut sekarang. Ada temen kampus yang mabuk berat, nih ... acara inti sudah selesai kan? Aku izin pulang lebih dulu, Om. Boleh ya?” rayu Giara pada Om Hans.


“Ah, sayang ... haruskah kamu pulang secepat ini? Sementara Om saja masih sangat merindukanmu ...” Om Hans refleks mencium pipi Giara.


“Maaf, Om, kasihan temanku. Tak apa-apa, kan? Pokoknya, selamat ulang tahun untuk Om, semoga panjang umur sehat selalu ya, Om. Aku akan doakan yang terbaik untuk Om. I love you ...” Giara memeluk Om Hans seperti yang sering ia lakukan.


“Kamu memang yang terbaik dan paling perhatian pada Om. Terima kasih atas ucapan dan kado-nya cantik,” Om Hans tersenyum senang.


“Sama-Sama, Om, aku ke sana dulu ya, temanku sudah menunggu ...” Giara pamit pada Om Hans dan segera berlalu.


“Bye sayang ...,”


“Kenapa lagi dia? Pingsan ya?” tanya Giara saat ia telah berada di dekat Melati dan Nicko.


“Ini kak, barusan dia ngigau terus. Terus juga dia ngamuk-ngamuk gitu, aku juga gak ngerti sih dia kenapa,” jawab Melati.


“Udah gak aneh, kalau orang yang jarang mabuk ya begini, norak jadinya!” pekik Giara.


“Dia teman Kakak?” tanya Melati.


“Bukan,”


“Pacar Kakak?”


“Astaga, mana mungkin! Ngaco aja kamu, Mel.” Giara sangat tak terima.

__ADS_1


“Dia pria yang Kakak tolak ya kalau begitu?” tebak Melati lagi.


“Ish, kamu apaan sih, sok tahu banget deh! Gak usah banyak tanya, yang jelas dia bukan siapa-siapa aku!” balas Giara.


“Habisnya tadi dia ngigau gini, kumohon terima aku, terima permintaanku gitu terus, Kak. Sama siapa lagi kalau bukan sama Kakak kan?” Melati kepo.


“Udah, kamu diam aja. Jangan kepo, jangan banyak bicara.” Giara memeriksa saku Nicko, ia harus memastikan Nicko membawa mobil apa motor saat ini.


Giara meraba saku jaket Nicko, ia melihat sebuah kunci mobil di sakujaketnya. Giara bisa menarik kesimpulan, jika Nicko pasti membawa mobil. Ia harus segera membawa Nicko pulang, tak mungkin Nicko akan terus ebrada di tempat ini, sementara Nicko hanya sendiri.


“Melati, kamu panggil security ya, biar membawa dia ke parkiran. Sepertinya dia membawa mobil, dia harus segera pulang,” ucap Giara.


“Baik, Kak Diva,” Melati segera menuju keluar bar.


Menatap Nicko membuat Giara sangat kesal. Bagaimana mungkin si dosen bon cabe ini bisa berada di bar dan sengaja menguntitnya? Sangat-Sangat menyebalkan. Giara tak suka jika Nicko perhatian seperti itu padanya. Apalagi, Nicko akan bertanggung jawab atas kehidupan Giara.


Giara akhirnya memegangi Nicko yang tengah mabuk, karena Melati kini pergi ke depan bar untuk memanggil security. Tubuh Nicko berat sekali, apalagi ketika mabuk seperti ini. Giara terus memaki Nicko dan berbicara sendiri.


“Dasar badak! Berat sekali Anda wahai Pak Dosen bermulut cabe!”


Giara menatap Nicko lagi, sembari berkata, “Dasar tukang membual. Cih, jika kau berkata akan bertanggung jawab atas kehidupanku, sekalian saja kau jadi suamiku kalau begitu! Ucapanmu benar-benar tak difilter,” Giara berbicara sendiri.


Tiba-Tiba, Nicko yang tengah mabuk sambil memejamkan mata pun menjawab, “Aku mau menjadi suamimu, tapi apa kau mau? Aku duda beranak satu. Apakah kamu mau menjadi Ibu pengganti untuk anakku?”


Deg. Giara kaget bukan main. Dilihatnya lagi, Nicko benar-benar memejamkan matanya. Ia terlihat mabuk, tak mungkin Nicko menjawab ucapan ini secara sadar.


“Gila, apa maksudnya ini? Ya Tuhan, kenapa mendengarnya berbicara seperti itu, membuat jantungku berdegup sangat kencang? Kenapa ini? Ada apa dengan hatiku?” Giara memegangi dadanya yang shock.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2