
Ciuman hangat itu membuat jantung Nicko berdesir sangat hebat. Seakan aaliran darah dalam tubuhnya mengalir begitu cepat, ia tak mampu lagi berucap apa-apa.
Seakan mulutnya terkunci, Giara menguncinya dengan sentuhan hebat yang luar biasa. Kecupan itu, entahlah ... Giara sendiri tak mengerti, kenapa ia harus mengetes Nicko dengan ciuman yang hangat ini?
Apakah sebenarnya Giara juga merasakan getaran itu? Apa sebenarnya hati Giara juga merasakan apa yang dirasakan oleh Nicko? Tak mungkin Giara berani mencium Nicko untuk yang kedua kalinya, jika Giara tak tertarik pada Nicko.
Ini hanya persoalan tentang kegengsian dan harga diri. Mereka hanya mementingkan harga diri dan ego mereka. Padahal, keduanya sama-sama memiliki perasaan yang sama. Hati yabg tergetar ketika bersama seperti ini.
"Kenapa menciumku?" tanya Nicko, seakan ia tak terenyuh dengan perlakuan Giara.
"Pak Nicko memintaku agar membuatmu jatuh cinta padaku, kan? Apa dengan ciuman yang aku lakukan, jantungmu bisa berdebar? Atau bereaksi sebagaimana mestinya?"
"Menurutmu, aku bagaimana?" Nicko malah bertanya balik.
"Menurutku Pak Nicko biasa saja. Seperti tidak serius dengan ucapannya. Jadi, kurasa permintaan Anda itu hanya gurauan saja, Pak," jawab Giara.
"Tentu saja tidak. Ternyata jantungku berdebar sangat cepat ketika kamu mendekatiku. Aku juga serius saat mengatakannya. Aku hanya ingin tahu, apakah hatiku ini sudah mati, atau belum. Selama ini, aku terlalu menutup diriku, dan tak pernah membuka hati. Kali ini, aku ingin mencoba membuka diriku, untuk seorang wanita." jelas Nicko.
"Tentu saja itu hal yang baik. Tapi kurasa, aku tak pantas menjadi wanita itu. Pak Nicko berhak mendapatkan wanita yang sama denganmu. Wanita yang hebat, sarat akan prestasi-prestasi."
"Kenapa harus yang seperti itu?" tanya Nicko.
"Karena sesuai dengan Anda, Pak. Pak Nicko orang yang berpendidikan tinggi, dan tentu saja Bapak harus mendapatkan wanita yang setara dengan Bapak juga." jelas Giara.
"Kalau aku tak mau, bagaimana?"
"Kenapa harus tak mau? Jangan berbelit-belit, Pak. Jika Pak Nicko ingin memulai lagi, carilah wanita yang bisa membahagiakanmu. Wanita yang hebat, dan pantas mendampingi Bapak. Wanita yang pintar dan bisa menjadi sosok Ibu yang baik untuk anak Pak Nicko." ucap Giara menjelaskan.
"Menurutmu, siapa yang cocok untukku? Kenapa terkesan kamu terus ingin menjodohkanku?"
__ADS_1
Giara terdiam. Ia belum mampu menjawab ucapan Nicko. Ada satu hal yang membuat Giara takut. Takut Nicko tak bisa menerimanya dan memarahi dirinya. Di saat-saat romantis seperti ini, selalu saja ada keisengan Giara yang pasti membuat Nicko marah.
"Menurutku, yang cocok untuk Pak Nicko itu ...," Giara belum melanjutkan ucapannya.
"Siapa? Kenapa berhenti? Jangan bilang mantan istriku!"
"Bukan, bukan, mantan istri Pak Nicko kan tak tahu ada di mana," ucap Giara.
"Ya terus siapa?"
"Bu Sinta, Bu Sinta Maharani, Dosen perfect yang tentu saja cocok dengan Pak Nicko," Giara tak kuasa ingin tertawa terbahak-bahak.
Sontak saja Nicko tersedak, karena kebetulan ia tengah memakan cemilan yang ia bawa. Nicko tak mengerti, kenapa tiba-tiba Giara malah refleks membicarakan Bu Sinta padanya.
Tentu saja Nicko tak terima, karena mana mungkin Nicko mau bersama Bu Sinta. Nicko tak habis pikir di saat permintaan seriusnya pada Giara, selalu saja Giara masih sempat-sempatnya mengejeknya.
"Keterlaluan kamu!"
Nicko sudah tak bisa lagi menoleransi ucapan Giara. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan. Semakin dibiarkan, semakin Giara berulah dan ucapannya semakin tak jelas.
"Ibumu mana?" tanya Nicko.
"Ibu udah istirahat jam segini. Tadi aku udah anterin beliau ke kamarnya. Ibu kan struk setengah badan, karena darah tingginya, jadi dia tak akan bisa bangun sendiri jika aku tak membantunya."
“Benarkah?" seakan Nicko memiliki sebuah ide untuk melakukan sesuatu.
"Memangnya kenapa, Pak? Pak Nicko ingin bertemu dengan Ibu?"
"Tidak. Aku akan melakukan ini ..."
__ADS_1
Nicko sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Rupanya, Ibunda Giara tak akan mungkin keluar dari kamarnya. Tanpa sepengetahuan Giara, Nicko refleks kembali membalas ciuman yang tadi Giara lakukan.
Giara kaget bukan main, karena ternyata Nicko sangat agresif kali ini. Nicko memegang bahu dan pinggang Giara, mencoba membuat pisisinya nyaman agar bisa terus mencumbu Giara.
Ini balasan untuk Giara, yang terus saja memainkan perasaan Nicko. Nicko terus mencium Giara yang tak siap dengan perbuatannya. Perbuatan Nicko kini lebih berani. Bukan hanya sekadar ciuman biasa, melainkan ciuman penuh gairah dengan permainan lidah.
Lidah Nicko terus menyusuri bibir Giara, hingga Giara kesulitan bernapas, karena Nicko tak memberinya kesempatan untuk berbicara. Beberapa saat kemudian, perlahan Nicko melepaskan bibirnya. Ia memberikan kesempatan Giara untuk bernapas.
"Ini hukuman untukmu karena terus saja membicarakan wanita lain untukku!" terka Nicko.
Giara terdiam. Rasanya Giara malu sekaligus tak nyaman karena perlakuan Nicko saat ini. Rupanya, Nicko tak sepolos yang ia pikirkan. Nicko amat dewasa dan ternyata berani juga.
"Giara, tak perlu memberikan wanita lain untukku, aku tak akan menggubrisnya. Karena apa? Karena sulit bagiku untuk dekat dengan seorang wanita, selain kamu! Setelah mantan istriku pergi, aku tak pernah lagi dekat dengan seorang wanita. Hanya kamu lah, wanita pertama yang dekat denganku, walau awalnya hanyalah pertengkaran dan sebuah ketidaksengajaan. Tahukah kamu, kamu membuat suasana hatiku lebih berwarna. Entahlah, aku sendiri tak memahami perasaan macam apa ini. Hanya saja, walau aku tahu kamu wanita seperti apa, anehnya aku enggan menjauhimu. Karena aku sadar, kamu adalah wanita baik-baik, yang hanya kehilangan arah." jelas Nicko.
"Pak Nicko ..." Giara malu bukan main.
"Giara, tak perlu repot-repot mencarikan wanita untukku. Aku hanya ingin kamu, walau sebenarnya aku tahu, siapa kamu sebenarnya."
Giara masih terdiam ....
"Kenapa diam? Aku tak peduli jika kamu tak mau. Aku hanya peduli dengan hatiku, yang rupanya terganggu karenamu. Giara, buka lembaranmu, buka kehidupanmu yang baru. Tinggalkan kehidupan nakalmu itu. Aku akan membantumu, dan memberikan kehidupan yang lebih bermakna untukmu." jelas Nicko.
"Kenapa Pak Nicko harus memilihku? Aku bahkan tak layak untuk berada disisimu! Aku sadar dengan siapa diriku dan juga profesiku. Aku malu, karena aku tak pantas, Pak. Cukuplah, jangan seperti ini. Aku sungguh tak nyaman karena ucapan itu."
"Kamu ingin tahu alasannya?" tanya Nicko.
"Tentu saja."
"Karena hatiku bergetar saat aku berada didekatmu! Perasaanku begitu aneh saat kita bersama. Setelah sekian lama, baru kali ini aku merasa hatiku hidup kembali karena selalu terlibat bersamamu. Tak peduli dengan profesimu dan pekerjaan nakalmu itu. Karena aku tak hanya melihatmu dari sisi negatifmu. Perlu kamu tahu, ada juga hal positif dari dirimu, yang sepertinya kamu sendiri pun tak menyadarinya. Cinta itu bodoh, seperti aku yang kamu bilang bodoh, karena mencintai wanita sepertimu. Padahal, kamu pantas dan layak untuk dicintai. Bukalah hatimu, Giara! Aku menunggumu ...."
__ADS_1
*Bersambung*