
Juan tahu mencari uang itu susah, tapi Juan belum pernah merasakan sensasi mencari uang. Karena Juan memang belum bekerja.
Sekarang, Juan baru tahu susahnya mencari uang setelah seharian membantu Nadira di cafe. Sekujur tubuh Juan sekarang rasanya remuk setelah seharian melayani pelanggan.
Kebetulan saat Juan dan Nadira tiba di cafe, ada pelayan yang tidak masuk karena sakit. Nadira menggantikan pelayan itu. Dan Juan membantu menjadi pelayan dadakan di cafe.
"Capek ya?" Juan menoleh pada Nadira yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut dengan handuknya. "mandi dulu sana."
Juan tersenyum menyadari Nadira memakai piyama couple mereka. "kegedean ya, kak?"
Nadira mengangkat bahunya acuh kemudian keluar dari kamar. Nadira perhatian terhadap orang lain, tapi cuek terhadap dirinya sendiri.
"Lucu." pekik Juan setelah Nadira menghilang dibalik pintu. Selain Nadira pendek, wajahnya juga terlihat lebih muda dari usianya sampai Juan saja mengira Nadira lebih muda darinya.
Juan pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang bau keringat, dan memakai piyama couple mereka setelahnya. Nadira katanya iseng membeli piyama couple itu.
Juan tidak melihat Nadira di kamar setelah selesai mandi, dan membawa kakinya keluar kamar mereka mencari keberadaan Nadira.
"Lagi ngapain, kak?" tanya Juan saat melihat Nadira melakukan sesuatu di dapur. Nadira sedang memasak, dan Juan hanya bertanya karena ingin bukan karena Juan tidak tahu.
"Masak mie. Kamu mau gak?" tawar Nadira.
"Kata mamah aku gak boleh terlalu banyak makan mie. Gak baik buat kesehatan, kak."
Nadira menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kita tadi udah makan, kakak masih lapar?"
Sebelum pulang ke rumah, mereka makan di cafe. Karena Juan yang tidak terbiasa makan makanan yang di beli online dan Nadira yang tidak mungkin memasak makanan untuk Juan.
__ADS_1
"Gak lapar, tapi kakak lagi pengen makan mie."
Juan membentuk bibirnya menjadi huruf O dan mengikuti Nadira yang pergi ke ruang makan.
"Kamu gak capek?" Nadira menatap Juan yang terduduk di hadapannya dan juga menatapnya.
"Capek sih, tapi kakak tenang aja aku strong."
Mereka terhalang meja, kalau tidak mungkin Nadira sudah mengacak - acak rambut Juan karena gemas mendengar jawaban pemuda itu. "Terimakasih ya udah bantu kakak tadi."
Bukankah harusnya Juan yang berterimakasih karena Nadira memberi Juan tempat tinggal?
Ya, Juan memang harus berterimakasih. Tapi Nadira juga harus berterimakasih pada Juan. Karena Juan sudah membantu di cafe Nadira.
"Iya sama-sama, kak." Juan tersenyum manis.
"Kenapa?" tanya Nadira merasa tatapan Juan berubah sekarang, apalagi Juan juga terkekeh.
Maksud Juan, sekarang Nadira sedang berada dihadapan orang yang menyukai Nadira. Tapi Nadira tidak memperhatikan penampilannya, bahkan rambut Nadira basah dan berantakan.
"Kakak lagi makan, jangan sampe mie di mulut kakak nyembur ke muka kamu!" serka Nadira.
"Kuliah dulu yang bener, baru deh suka sama orang." nasehat Nadira sambil terus makan.
"Jadi aku harus lulus kuliah dulu baru boleh suka sama kakak, gitu?" tanya Juan polos.
"Suka sama cewek lain. Kakak udah tua kalau kamu lulus kuliah." koreksi Nadira tanpa tahu Juan berubah sedih setelah mendengarnya.
"Lagian, kakak gak tertarik punya hubungan."
__ADS_1
Juan berusaha mencerna perkataan Nadira. Sepertinya wanita di depan Juan ini memang tidak tertarik untuk menjalin suatu hubungan.
"Emang kakak gak mau nikah?" tanya Juan. Merasa penasaran dengan jawaban Nadira.
Nadira mengangkat wajahnya dan menatap Juan karenanya. "kamu ngajak kakak nikah?"
"Emangnya kakak mau kalau aku ajak nikah?"
Suasana di ruangan itu berubah aneh, entah siapa yang membuat suasanya seperti itu.
"Tidur duluan sana! bukannya besok kamu ada kelas pagi?" Nadira mengalihkan seperti biasa.
Juan tidak menjawab, dia beranjak dari tempat duduknya tapi tidak pergi ke kamar. Melainkan menghampiri Nadira dan meraih handuk kecil yang berada leher di wanita itu. "Aku nunggu kakak selesai makan, habis itu baru kita tidur."
Nadira terdiam sesaat ketika Juan membantu mengeringkan rambutnya, tapi hanya sebentar. Karena setelahnya Nadira bersikap biasa saja.
"Kamu takut tidur sendiri?" ucapnya meledek.
Juan tidak menyangkalnya meskipun dirinya tidak takut tidur sendirian. Juan membiarkan Nadira berpikir apapun yang Nadira inginkan.
Mungkin dengan begitu Nadira tidak akan lagi mengusir Juan dari kamarnya dan Juan bisa tidur bersama Nadira selama yang Juan mau.
"Besok kakak mau ke cafe lagi, kamu gapapa berangkat ke kampus sendiri?" tanya Nadira di sela-sela makannya. "Bisa sih kakak anter dulu kamu baru ke cafe, kalau kamu mau dianterin."
"Karyawan kakak masih sakit?" Juan bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nadira terlebih dahulu. Sebenarnya Juan juga bisa berangkat sendiri Juan hanya ingin manja pada Nadira dan meminta Nadira mengantarnya kemarin.
"Iya, katanya dia barusan masuk rumah sakit."
"Yaudah, aku berangkat sendiri aja. Cafe sama kampus aku juga kan beda arah." timpal Juan.
__ADS_1