Sugar Mommy

Sugar Mommy
16. Kegilaan Kirana


__ADS_3

Juan memegang tangan Nadira yang pas di genggamannya. Tadinya mereka berniat lari pagi, tapi yang lebih tua mengeluh tidak kuat berlari dan berakhir mereka hanya jalan pagi.


"Pantes kakak pendek, baru lari sebentar aja kakak udah ngeluh capek." ledek Juan. Lucu sekali melihat wajah Nadira yang kelelahan.


"Ck, kakak kan udah bilang gak suka olahraga. Kamu aja yang maksa-maksa kakak buat ikut."


Juan malah terkekeh mendengarnya. Lagipula Nadira tidak menakutkan saat marah - marah, wanita itu terlihat menggemaskan bagi Juan.


"Iya maaf, kak. Kakak mau aku beliin minum?"


"Hm, boleh." Nadira mencari uang di sakunya. Tapi sepertinya Nadira lupa membawa uang. Karena tidak ada sepersen pun uang disana.


"Kakak lupa bawa uang." ucap Nadira lemas, padahal sekarang Nadira sedang kehausan. Karena habis lari meskipun hanya sebentar.


"Aku bawa, kakak duduk dulu disini. Aku beli minum sebentar buat kakak." Juan bergegas membeli minuman untuk Nadira setelahnya.


Nadira melihat kearah bangku taman, namun enggan untuk duduk disana. Nadira memilih untuk tetap berdiri, menunggu Juan kembali.


Sudah sekitar satu bulan Nadira menampung Juan di rumahnya. Dan selama itu juga Nadira memberi uang sekaligus memenuhi keperluan Juan, termasuk keperluan Juan untuk kuliah.


Juan memakai uang Nadira saat benar - benar butuh, sementara sisanya Juan simpan. Juan tidak ingin bergantung pada uang yang Nadira kasih. Bahkan Juan juga mencari uang sendiri.


Juan diam - diam bekerja sebagai driver online tanpa Nadira ketahui, Nadira hanya tahu Juan membawa mobilnya sendiri untuk pergi kuliah.


Juan pergi membeli minuman di warung yang kebetulan jualan disekitar sana, dan jaraknya tidak jauh dari tempat Nadira berada saat ini.


Juan ingat Nadira tidak suka minuman soda, jadi Juan membeli satu air mineral dan satu minuman bersoda. Juan bangga pada dirinya sendiri, karena ingat hal kecil tentang Nadira.


Saat Juan kembali dan berniat menghampiri Nadira yang berada di sebrang jalan, terlihat mobil merah melaju kearah Nadira. Mobil itu sepertinya berusaha untuk menabrak Nadira.

__ADS_1


"Kak, awas!" Juan berteriak sekeras mungkin.


Beruntung Nadira masih sempat menghindari mobil itu, tapi tetap saja jantung Juan rasanya hampir copot melihat Nadira hampir tertabrak.


Juan berlari menghampiri Nadira. Memastikan wanita yang dicintainya tidak terluka. Ya, Juan sudah yakin perasaannya pada Nadira bukan hanya perasaan suka biasa, tapi Juan sudah jatuh cinta pada wanita yang lebih tua darinya.


"Kakak baik-baik aja kan? ada yang luka gak?"


Juan memeriksa tubuh Nadira barangkali ada bagian tubuh Nadira yang terluka atau sekedar lecet. "syukurlah kakak baik-baik aja. Aku udah minta kakak duduk di bangku, kenapa disini?!"


"Makasih minumnya." tanpa Juan duga, Nadira masih bisa terlihat tenang. Bahkan mengambil air minum dari tangan Juan dan meminumnya.


"Kenapa natap kakak kayak gitu? kamu bisa lihat sendiri kan kalau kakak baik - baik aja?"


Juan tidak menjawab. Hanya menarik Nadira ke dalam pelukannya untuk membuat hatinya sendiri tenang. "makasih udah baik - baik aja."


Nadira terkekeh. "kenapa malah kamu yang panik? padahal kakak yang hampir ketabrak."


"Kan baru hampir, belum ketabrak beneran."


"Kalau bener ketabrak, emang sempet panik?"


"Palingan juga kamu yang panik ngeliat kakak."


"Ck, lain kali kakak jangan nongkrong di jalan."


"Kakak cuma nunggu kamu beli minuman kok."


"Iya. Maksud aku jangan berdiri di jalan, kak."

__ADS_1


"Kakak berdiri dipinggir tadi, supir mobilnya aja yang sengaja mau nabrak kakak itu mah."


Juan membenarkan hal itu, tadi Juan melihat sendiri mobil merah itu sengaja melaju kearah Nadira. Dan Juan sepertinya tahu mobil siapa itu, mobil yang sering datang ke rumah Juan.


"Kita duduk dulu ya, kak?" Juan melepaskan pelukan mereka, dan menuntun Nadira untuk duduk di bangku taman. "kakak tenangin diri dulu disini. Kalau udah tenang, baru pulang."


Nadira mungkin terlihat tenang, tapi Juan bisa merasakan jantung wanita itu berdetak cepat saat mereka berpelukan. Nadira sebenarnya hanya berusaha untuk terlihat baik - baik saja.


Lagipula, siapa yang tidak akan shock hampir saja tertabrak mobil? Nadira tentu saja shock.


"Kak Ana keterlaluan. Aku gak bakal lepasin kakak gitu aja." ucap Juan di dalam hatinya.


Juan tahu pemilik mobil itu -Kirana -kekasih kakaknya yang selama ini terobsesi padanya.


Ini bukan pertama kalinya Kirana berniat jahat pada wanita yang dekat dengan Juan. Teman Juan saja pernah hampir dicelakai oleh Kirana.


Kirana benar-benar tidak waras hanya karena terobsesi pada Juan. Padahal Kirana memiliki Jericho yang selama ini sangat mencintainya.


"Maaf, gara-gara aku kakak hampir aja celaka."


"Nggak, Juan. Kakak yang gak hati - hati tadi."


"Kakak gak ngerti." gumam Juan dalam hati.


Nadira yang melihat yang lebih muda masih merasa bersalah, menghela nafas sejenak.


"Udah ya, yang penting sekarang kakak baik - baik aja. Kamu gak perlu ngerasa bersalah."


"Iya, kak." Juan menarik kepala Nadira untuk bersandar di bahunya. Juan berandai - andai tadi Nadira tidak menghindar, mungkin Juan akan melihat kesayangannya di rumah sakit.

__ADS_1



__ADS_2