Sugar Mommy

Sugar Mommy
07. Mobil untuk Juan


__ADS_3

Nadira bisa melihat ada sesuatu yang sedang Juan pikirkan. Sejak Nadira menjemput Juan di kampus, Juan banyak melamun. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini.


"Kenapa?" Nadira menoleh sekilas pada Juan.


Mereka sudah mencari makanan, dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Nadira tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya alasan Juan melamun sepanjang perjalanan.


Juan menjatuhkan kepalanya dibahu Nadira. "masa ada yang bilang kakak sugar mommy?"


"Kakak lagi nyetir, Juan. Duduk yang bener!"


Juan tidak mendengarkan perkataan Nadira, dan malah sengaja memejamkan matanya.


"Kamu mau kita kecelakaan?!" kesal Nadira.


"Hush! gak baik ngomong kayak gitu, kak."


"Tapi kamu bikin kakak gak fokus, Juan!"


Nadira menghela nafas. Juan sama sekali tidak mendengarkan ucapannya. "ngeyel!"


"Jangan tidur! kakak gak sanggup gendong kamu." Juan hanya terkekeh mendengarnya.


"Kamu lagi ada masalah hm?" tanya Nadira membiarkan kepala Juan berada dibahunya. "kakak perhatikan ngelamun terus daritadi."


"Gak kok. Aku cuma capek." jawab Juan asal.


Juan sudah tahu apa itu sugar mommy dari internet, ternyata istilah untuk wanita dewasa kaya yang menghabiskan uangnya untuk memenuhi kebutuhan kekasih simpanannya.


Juan melamun karena memikirkan apakah dirinya kekasih simpanan. Ah, tidak. Juan memikirkan apa Nadira memiliki kekasih?


"Sebentar lagi nyampe, nanti kamu langsung istiharat aja kalau capek." Nadira mengusap kepala Juan sebentar memberikan semangat.

__ADS_1


"Kak, boleh aku nanya sesuatu sama kakak?"


"Apa?" Nadira menunggu Juan bertanya, dan menunggu satpam membuka pintu gerbang.


"Kakak punya pacar?" Nadira tidak menjawab karena sedang fokus menyendarai mobilnya masuk ke halaman rumah yang lumayan luas.


"Nanti kakak jawab, sekarang turun dulu. Ada sesuatu buat kamu." Nadira menepuk lengan Juan supaya pemuda itu turun dari mobilnya.


"Kenapa gak langsung dijawab aja sih, kak?"


Nadira terkejut karena Juan berbicara dengan nada merajuk. Ditambah ekpsresi Juan yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


Lagi - lagi Nadira bersyukur sudah mengajak Juan ke rumahnya. Juan tidak harus bertemu tante haus belaian diluar sana berkat dirinya.


"Gak punya, kakak gak punya pacar." akhirnya Juan bisa merasa lebih lega mendengarnya.



"Kenapa senyum?" Juan menggeleng cepat.


Juan keluar dari mobil setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Juan benar - benar senang karena Nadira tidak memiliki kekasih.


"Dih! jelas-jelas tadi Juan senyum, dasar aneh." cibir Nadira. Mengikuti Juan keluar dari mobil.


Nadira menghentikan langkah melihat Juan sedang memandangi mobil sport berwarna hitam di depan rumahnya. Mobil itu sengaja dibeli untuk menjadi kendaraan pribadi Juan.


Juan tidak memintanya, tapi Juan akan lebih mudah pergi kemana-mana dengan mobil itu termasuk ke kampus. Karena Nadira tidak bisa terus mengantar jemput Juan ke kampusnya.


"Suka gak? kakak beli mobil ini buat kamu."


"Kakak beli mobil buat aku?" Juan menganga melihat mobil sport berwarna hitam di depan rumah Nadira. Tadinya Juan berpikir Nadira membeli mobil baru, ternyata itu untuk Juan.

__ADS_1


Ya memang mobil itu dibeli dari uang Nadira, tapi siapa sangka mobil itu dibeli untuk Juan.


"Gimana? kamu suka gak sama mobilnya?"


"Kenapa kakak repot - repot beli mobil buat aku? mana mobil tipe ini mahal banget lagi."


"Tapi kamu suka gak?" Nadira mengulangi pertanyaan yang tidak kunjung Juan jawab.


"Aku gak bisa nerima mobil semahal ini, kak."


"Kamu gak suka sama mobilnya ya?" Nadira sedikit kecewa mendengar Juan tidak bisa menerima mobilnya. "yaudah kalo gak suka."


Juan merasa bersalah. Tapi dia benar-benar tidak bisa menerima mobilnya. Juan hanya meminta Nadira memberinya tempat tinggal, bukan malah merepotkan Nadira seperti ini.


Juan tahu Nadira kaya, tapi Juan lebih tahu mencari uang itu susah. Apalagi untuk Nadira yang kata Ibu Endah tidak terlahir kaya, pasti Nadira sudah menghadapi banyak kesulitan sebelum wanita itu menjadi seperti sekarang.


"Kak Dira!" Juan mengejar Nadira yang masuk ke dalam rumah. "kenapa kakak suka banget ninggalin aku? aku belum selesai ngomong."


Nadira tidak menggubrisnya. Bukan karena Juan menolak mobil itu, tapi Nadira merasa dirinya bodoh karena membeli mobil impian adiknya untuk Juan dengan embel - embel Juan butuh kendaraan pribadi untuk kuliah.


"Kak, kakak marah aku gak nerima mobilnya?" Juan terus mengikuti Nadira sampai Nadira masuk ke kamarnya. "maaf, jangan marah."


Nadira menarik nafas, berusaha menetralkan emosinya. Juan tidak salah, dan Juan tidak boleh mengenal kepribadian Nadira yang lain.


"Kakak gak marah kok." Nadira bicara tanpa menatap lawan bicaranya karena Juan tepat berada di belakang tubuhnya. "tadi kamu bilang capek, sana istirahat di kamar kamu."


"Sini lihat mata aku kalau kakak gak marah."


Nadira memutar tubuhnya menghadap Juan, wajahnya yang semula menunduk terangkat dan matanya kini tepat menatap mata Juan.


"Udah, kan? sana istirahat ke kamar kamu."

__ADS_1


Juan menggeleng. "Aku istirahat disini aja."



__ADS_2