
Nadira menoleh saat minuman di tangannya direbut oleh Juan. Yang lebih muda menatap sebentar gelas berisi minuman beralkohol itu.
"Emang alkohol enak ya? kenapa kakak mau minum ini?" Juan kemudian menatap Nadira.
"Gak tahu." Nadira berbicara seadanya karena sebelumnya Nadira belum pernah meminum alkohol. "kakak cuma haus, makanya minum."
"Tapi jangan minuman beralkohol juga, kak."
"Males ngambil, yang ada di meja cuma itu."
Juan menghela nafasnya dan meneguk habis minuman beralkohol milik Nadira. "sebentar, aku ambilin minuman lain buat kakak minum."
Juan beranjak pergi mengambil minuman lain untuk Nadira. Hanya tersisa mereka di meja itu karena Raka dan Jefri sedang memiliki urusan.
Juan dan Nadira saling terdiam setelah Raka dan Jefri pergi. Baru bicara sekarang karena Juan melihat Nadira ingin meminum alkohol.
Nadira ingin protes karena malah Juan yang meminum alkohol, tapi Juan sudah lebih dulu pergi dan membuat Nadira tidak bisa protes.
"Jangan ngelamun, kak. Nanti kesambet loh."
Juan memberi segelas minuman jeruk pada Nadira. Yang langsung diterima oleh Nadira meskipun dengan pikiran yang masih blank.
"Jangan bikin aku khawatir. Kakak kenapa?"
"Maaf ..." Nadira menatap lurus mata Juan.
Juan terkekeh. "kenapa minta maaf? emang kakak udah ngelakuin kesalahan apa, hum?"
Nadira tidak menjawab. Hanya terus menatap Juan dan membuat pemuda itu salah tingkah.
"Kenapa sih, kak? astaga!" pekik Juan gemas sendiri melihat tatapan Nadira. Apalagi, Juan juga melihat Nadira mengembungkan pipinya.
Nadira boleh lebih tua dari Juan. Dan selalu memperlakukan Juan seperti Nadira sedang memperlakukan anak kecil. Tapi Nadira tidak pernah sadar sering membuat Juan gemas.
__ADS_1
"Gimana kalau pulang? kita cuddle di rumah sepuasnya." Nadira berdecak mendengarnya.
"Kenapa yang ada di otak kamu cuma itu? ck!"
"Karena aku suka cuddle sama kakak." jawab Juan polos. "kakak satu - satunya orang yang selalu bikin aku ngerasa nyaman." tambahnya.
"Kamu mabuk ya?" tanya Nadira melihat mata yang sedikit memerah. Juan menggeleng dan terkekeh pelan mendengar pertanyaan Nadira.
"Apa menurut kakak omongan aku ngelantur?"
"Emang kamu pernah ngomong bener?" Nadira meletakan minuman di tangannya diatas meja dan membantu Juan untuk duduk di kursihnya.
"Kamu gak biasa minum alkohol kan? kenapa tadi kamu malah minum minuman kakak hoh?"
"Hehe. Maaf." Juan menangkup wajah Nadira. "jangan marah ya, kakak kalau marah gemesin soalnya. Gak baik buat jantung aku tahu gak?"
"Badan kamu gede, Juan. Gimana kita pulang kalau kamu mabuk kayak gini?" kesal Nadira.
"Kakak tenang aja, aku bisa jalan sendiri kok."
"Aku masih bisa jalan sendiri, gak perlu minta bantuan." Juan berdiri untuk membuat Nadira yakin dirinya masih bisa berjalan. "kakak lihat? aku gak mabuk. Aku masih bisa jalan sendiri."
Nadira menghela nafas. "yaudah, ayo pulang."
Juan mengangguk. Mereka berjalan bersama dan berniat pamit sebelum pergi dari tempat itu. Namun tiba - tiba ada yang menghadang.
"Lihat apa yang wanita ini lakukan pada Juan?"
Nadira menatap Kirana dan wanita setengah baya yang datang bersamanya. Nadira tidak mengenal wanita itu. Tapi wajahnya terlihat tidak asing. Nadira mungkin pernah bertemu dengannya, tapi Nadira tidak mengingatnya.
"Juan selama ini gak pulang ke rumah karena tinggal sama tante - tante yang haus belaian."
__ADS_1
"Maaf?" Nadira tidak terima disebut seperti itu.
"Kenapa? gak terima? emang kenyataan kan?"
"Kenapa mamah ada disini?" perkataan Juan membuat Nadira menatap pemuda tinggi itu.
"Kak Ana udah bilang apa sama mamah eoh?" Juan menatap Kirana sejenak. "mamah jangan terpengaruh sama kak Ana, kak Dira baik kok."
"Iya, baik. Karena emang ada maunya." sahut Kirana. Yang secara tidak langsung menyela mamah Juan yang akan membuka mulutnya.
"Kakak bisa diem dulu gak? aku lagi ngomong sama mamah!" ucap Juan nyaris membentak.
Lagipula Kirana memang tidak sopan menyela pembicaraan orang lain seperti itu. Juan saja geram dengan kelakuan kekasih kakaknya itu.
"Apa nih? kamu barusan bentak pacar kakak?"
Jericho datang dan menatap sang adik marah.
"Ya, kenapa? kakak gak suka aku bentak dia?!"
Jericho meradang saat Juan menunjuk wajah Kirana. "singkirin tangan kamu! kakak bilang-"
"Kamu yang singkirin tangan kamu! bedebah!"
Jericho menatap marah wanita yang baru saja menepis kasar tangannya. "lo ngomong apa?! bedebah? lo barusan bilang gue bedebah ha?!"
Nadira menjilat bagian dalam pipinya sebelum bicara. "ya, kamu bedebah. Kamu bentak adik kamu cuma buat belain temen ranjang kamu!"
Jericho tidak bisa berkata - kata lagi. Rasanya ingin memukul Nadira, tapi sayang sekali ada mamahnya disana. Jericho tidak ingin sampai membuat sang mamah kecewa lagi padanya.
"Kamu gak lihat kondisi adik kamu sekarang?!"
"Juan mabuk gara - gara perbuatan lo. Sialan."
__ADS_1
Saat Nadira akan menanggapi, Juan tiba - tiba memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepala di bahu wanita itu. "kita pulang aja ya?"