
"Suster yakin kak Dira keluar beli makanan?"
Sudah lebih dari satu jam sejak Juan bangun dan suster mengatakan Nadira sedang pergi membeli makan, Nadira belum juga kembali.
Juan ingin menghubungi Nadira dan bertanya dimana Nadira sebenarnya, tapi Juan bahkan tidak tahu dimana ponselnya berada sekarang.
"Iya, kakak kamu tadi bilangnya kayak gitu."
Suster yang diminta menjaga Juan hati - hati menjawab. Karena takut dirinya salah bicara. Nadira bukan hanya membeli makanan, tapi sedang menemui seseorang di rumah sakit.
"Bukan kakak aku. Kan udah aku kasih tahu tadi, kak Dira bukan kakak aku." tekan Juan.
Suster meringis. Baru ingat pasien ini tidak suka kalau wanita bernama Nadira disebut kakaknya. Karena nyatanya memang bukan.
Juan juga sudah memberitahu sang suster bahwa dirinya mencintai Nadira. Makanya Juan kesal Nadira disebut-sebut kakaknya.
Suster tidak bertanya siapa Nadira, tapi Juan sendiri yang sengaja memberitahu suster itu. Juan curhat karena bosan menunggu Nadira.
"Eum, iya. Bukan kakak kamu, tadi bilangnya mau keluar beli makan." pasrah sang suster.
Bukan begitu maksud Juan, tapi yasudahlah.
"Tapi kenapa kak Dira lama banget ya, sus?"
"Mungkin lagi antri, tuan." sahut suster asal. Berharap Juan berhenti menanyakan Nadira.
Juan mengangguk. Tapi kemudian mengingat kalau hari ini harusnya Nadira pergi ke rumah Jefri. "kak Dira ninggalin aku demi bang Jef?"
"Tuan baik-baik saja?" tanya suster menyadari Juan melamun. Juan bergumam menanggapi.
Suster tidak berani bertanya lagi setelahnya. Karena Juan mendadak diam, tidak seperti Juan yang tadi menanyakan kemana Nadira.
Tidak lama pintu ruangan Juan terbuka, Nadira masuk dengan membawa dua kantung plastik.
__ADS_1
"Kamu udah bangun?" tanya Nadira mendekati Juan sambil membawa kantung plastik. "kamu masih belum makan dan minum obatnya heh?"
"Aku nungguin kakak." jawaban Juan berhasil membuat yang lebih tua menghela nafasnya.
"Tuan Juan terus menerus menanyakan anda. Padahal udah saya kasih tahu lagi beli makan."
Nadira kemudian menatap pada suster yang diminta tolong olehnya untuk menjaga Juan.
Juan bukan anak kecil yang harus dijaga, tapi saat bangun Juan pasti akan mencari Nadira.
Dan benar saja, Juan bahkan terus menerus menanyakan Nadira meskipun sudah suster beritahu kalau Nadira keluar membeli makan.
Juan berdecak karena suster mengadukan itu pada Nadira. "kenapa ngadu ke kak Dira sih?!"
Nadira merasa tidak enak pada suster karena tahu Juan seperti apa. Juan pasti membuat suster pusing dengan semua pertanyaannya.
"Terimakasih sudah menjaga Juan. Maaf kalau Juan berisik dan membuat anda repot." suster tersenyum ramah dan berpamitan untuk pergi.
"Mau kakak suapin?" Nadira menyimpan kedua kantung plastik di meja nakas dan mengambil mangkuk makan yang disediakan rumah sakit untuk Juan. "kenapa kamu manja banget hm?"
"Aku gak minta disuapin, aku takut aja kakak ninggalin aku." jawab Juan membela dirinya.
"Kakak udah bilang ke suster, kalau kakak mau nyari makanan sebentar keluar." heran Nadira.
"Iya, tapi kakak lama banget nyari makannya."
"Yaudah, maaf. Sekarang kamu makan dulu." Nadira menyodorkan sendok berisi bubur di depan mulut Juan. "buka mulut kamu, Juan."
Nadira gregetan karena Juan menutup rapat mulutnya. Tidak menerima suapan darinya.
"Kakak gak ke rumah bang Jefri?" tanya Juan mengutarakan isi pikirannya. "karena aku ya?"
Juan tidak memakan buburnya dan membuat Nadira kembali menghela nafasnya. Apalagi, sekarang Juan malah bertanya tentang Jefri.
__ADS_1
"Kenapa?" Nadira membalikkan pertanyaaan.
"Kakak hari ini mau ke rumah bang Jefri, kan?"
"Iya, tadinya mau ke rumah Jefri tapi gak jadi."
"Karena aku?" Juan mengulang pertanyaannya karena Juan masih belum mendapat jawaban.
"Kakak pergi aja ke rumah bang Jefri, aku bisa sendirian disini. Lagian ada suster juga disini."
"Kalau kakak pergi ke rumah Jefri, kamu gak bisa cuddle. Yakin mau kakak ke rumah Jefri?"
Juan berdehem. Juan sedang serius, kenapa Nadira tiba-tiba membahas cuddle mereka?!
"Dokter bilang kamu udah boleh pulang, tapi kamu makan dan minum obat dulu. Cepetan!"
"Astaga. Iya, kak Dira. Kakak gak sabar banget sih?" Juan akhirnya menerima suapan Nadira.
"Lagian! kenapa kamu susah disuruh makan?"
"Kakak udahan ya ngomelnya? kan ini aku lagi makan." Juan memasang wajah memelasnya.
"Iya, makanya kamu tuh nurut." Nadira sedikit demi sedikit menyuapi Juan sampai buburnya habis. Dan setelahnya Juan juga minum obat.
"Kakak beneran gak mau ke rumah bang Jef? gimana kalau bang Jefri marah sama kakak?
"Kamu kenapa sih nanyain itu terus? emang kamu gak mau kakak ada disini? mau sama suster tadi ya?" Nadira mengangkat alisnya.
"Apa? suster tadi?" tanya Juan tidak mengerti.
"Suster tadi cantik kan, huh?" Juan mendesah pelan, terkoneksi dengan pembicaraan Nadira.
"Ya, cantik. Tapi menurut aku cantikan kakak."
__ADS_1