Sugar Mommy

Sugar Mommy
47. Polos meresahkan


__ADS_3

Juan bersandar pada tembok yang menjadi pemisah antara ruang TV dan ruang makan. Juan mendengar semua yang dibicarakan di ruang makan, karena sebenarnya Juan tidak benar-benar pergi dan masih berada disana.


Juan sadar dirinya kekanak-kanakan, tapi itu membuat Juan tahu Nadira memiliki trauma. Meskipun belum detail, tapi setidaknya Juan mengetahui hal lain tentang Nadira sekarang.


Juan kemudian memutuskan pergi ke kamar, memberi ruang untuk Nadira dan Jefri bicara. Juan duduk di sofa kamar dan bermain game sambil menunggu Nadira bicara dengan Jefri.


Setelah sekitar lima belas menit Juan bermain game online di ponselnya, pintu kamar terbuka disusul oleh seseorang yang memasuki kamar.


"Juan." Juan hanya melihat sekilas pada orang yang memanggil namanya. "hm? kenapa, kak?"


"Kamu marah sama kakak huh?" tanya Nadira.


"Kenapa harus marah?" tanya balik Juan tanpa melihat lawan bicaranya karena fokus bermain game online. "bang Jefri udah pulang ya, kak?"


"Hm." Nadira hanya bergumam menjawabnya.


Juan kembali menatap Nadira sekilas. Terlihat mata wanita itu merah, tapi Juan berpura-pura tidak tahu apapun. "duduk sini, kak. Aku maen game sebentar, nanti habis ini kita jalan-jalan."


Juan tersenyum saat melihat Nadira terduduk disampingnya dengan wajahnya yang ditekuk. Juan akhirnya menyerah dengan gamenya dan memberikan seluruh atensinya kepada Nadira.


"Kakak hobi banget sih bikin aku gemes." Juan memeluk Nadira, membuktikan bahwa dirinya tidak marah. "aku gak marah sama kakak kok."


"Terus kenapa tadi kamu gak balik lagi, hum?"


"Keasikan maen game." jawab Juan, sebisanya memberi Nadira alasan yang masuk akal. "aku gak marah dan gak bisa marah sama kak Dira."


Nadira berhedem pelan saat sadar bagaimana Juan memeluknya, pantas Naren berpikir Juan bisa menghilangkan traumanya, Naren pernah melihat mereka dalam posisi seperti sekarang.


Juan menyandarkan kepalanya di bahu Nadira dengan tangannya yang melingkar di pinggang dan kaki yang diletakkan diatas kaki wanita itu.


Naren tahu Nadira tidak suka skinship, apalagi dengan lawan jenis. Pasti Naren berpikir Juan bisa menghilangkan traumanya karena pernah melihatnya melakukan skinship dengan Juan.

__ADS_1


"Juan ..."


"Hm?"


"Kamu kebiasaan banget ya meluk kayak gini?"


"Iya, soalnya badan kakak pas buat aku peluk."


"Tapi gak gini juga, Juan. Kamu lihat kakak gak bisa gerak?!" Juan terkekeh, sadar pelukannya sudah membuat Nadira susah untuk bergerak.


"Kenapa kamu gak pacaran sama adek tingkat kamu biar ada yang bisa kamu peluk?" pelukan Juan melongkar mendengar perkataan Nadira.


Juan yang awalnya tertawa sekarang berubah masam. Juan tidak suka membahas juniornya, apalagi kalau Juan menjadi kekasih wanita itu.


"Kok kakak ngomongnya gitu sih?" tanya Juan tidak suka. Tapi bukannya menjauh, dia malah semakin lengket pada Nadira. Bahkan kembali memeluk wanita itu dengan posisi yang sama.


"Aku udah bilang cuma suka sama kakak, aku gak suka dan gak bakal suka sama cewek itu."


"Ya udah, maaf. Tapi jangan kayak gini bisa?"


"Juan!" tegur Nadira karena Juan sama sekali tidak mendengarkannya. Juan malah semakin bertingkah, bahkan menciumi tengkuk Nadira.


Nadira bukannya tidak berusaha terlepas dari Juan, tapi tenaga Nadira tidak cukup untuk itu. Nadira sudah berusaha untuk melepaskan diri, tapi semakin berontak malah membuat posisi mereka ambigu. Juan nyaris menindih Nadira.


"Mck. Kamu sadar gak sih kalau kamu berat?!"


Juan tidak menjawab, malah mengatakan hal yang membuat Nadira semakin pusing. "leher kakak merah, padahal cuma aku hisap sedikit."


"Kamu ngapain ngehisap leher kakak, Juan?!"


"Iya, maaf. Gak sengaja. Leher kakak sakit ya?"

__ADS_1


Nadira menatap Juan yang saat ini menatap polos padanya. Nadira harus sabar, bocah di depannya ini memang polosnya agak kurang ajar. Bahkan Juan sering menanyakan hal-hal yang membuat Nadira bingung menjawabnya.


"Aku ambil salep sebentar, buat leher kakak."


Nadira hanya pasrah. Membiarkan Juan pergi mencari salep yang dimaksud. Lelah rasanya menghadapi sikap polos dan manja bocah itu.


Setelah Jefri pulang, Nadira buru-buru pergi ke kamar karena mengira Juan marah. Juan tidak kembali ke ruang makan, makanya Nadira pikir Juan benar-benar marah seperti dugaan Jefri.


Nadira mungkin membela Juan di depan Jefri, tapi sebenarnya Nadira juga kepikiran. Nadira khawatir Juan marah karena kedatangan Jefri.


Juan kembali dengan membawa salep untuk luka dan mengoleskannya pada leher Nadira.


"Aku baru tahu, ngehisap kulit bisa merah gini."


Juan berbicara sambil mengoleskan salep ke leher Nadira. Sementara Nadira memilih tidak ambil pusing dan membiarkan Juan berbicara apapun sesukanya, karena sudah terlalu lelah.


Nadira memejamkan matanya sejenak. Tidak terjadi apapun pada jantungnya, setelah Juan melakukan hal intim padanya. Mungkin benar mati rasa sampai jantungnya tidak merespon.


"Kak ..."


"Hm?" Nadira menatap Juan yang baru selesai mengoleskan salep pada lehernya. "ada apa?"


"Aku penasaran sama sesuatu." Juan menatap Nadira serius dan membuat yang ditatap ikut memasang wajah serius. "kalau aku ngehisap bibir kakak, bakal merah gak?" tanyanya polos.


"Pertanyaan kamu gak bisa normal dikit hoh?"


"Kenapa? aku cuma penasaran, gimana kalau-"


"Sumpah, kalau kamu nanya itu ke cewek lain pasti bibir kamu bakalan habis sama mereka!"


__ADS_1


Juan reflek memegang bibirnya dan tertawa pelan. Bukan karena perkataan Nadira, tapi ekpresi Nadira yang membuat Juan tertawa.


__ADS_2