
Villa mewah di tengah hutan, disinilah Nadira dan Juan berada sekarang. Mereka liburan ke puncak sesuai dengan waktu yang dijanjikan.
Nadira sudah sering liburan di villa ini karena kebetulan villanya milik Naren. Selain bekerja sebagai dokter, keluarga Naren juga memiliki usaha properti. Salah satunya villa di puncak.
Nadira selalu liburan disini setiap kali merasa jenuh dengan kehidupannya di kota. Biasanya Nadira akan menyendiri disini selama liburan, tapi sekarang ada Juan menemaninya liburan.
"Jadi ini tempat yang kakak suka?" tanya Juan mengamati villa mereka. Bukan hanya mewah, pemandangan disekitar villa ini juga luar biasa.
"Hm, gimana menurut kamu? kamu suka gak?"
"Suka!" jawab Juan bersemangat. Tentu Juan suka berada di tempat indah bersama Nadira.
"Syukur deh. Kamu langsung ke kamar aja ya?langsung beres-beres dan langsung istirahat."
"Kakak mau kemana?" tanya Juan menyadari Nadira seperti tidak akan masuk bersamanya.
"Gak ke mana-mana, mau duduk aja di depan."
"Kamu masuk duluan ya? nanti kakak nyusul."
"Emangnya kakak gak capek huh?" tanya Juan.
"Capek, makanya kakak mau duduk di depan."
"Yaudah, sini tas kakak." Juan mengambil alih tas milik Nadira, membawanya masuk ke villa.
"Tapi aku gak tahu kamar kita yang mana, kak."
"Terserah yang mana aja." Nadira melanjutkan perkataannya dalam hati. "lagian juga kan kita cuma berdua disini kenapa harus bingung hh?"
"Tapi kita satu kamar kan? aku gak mau tidur sendirian! kakak inget kan kalau aku gak bisa-"
__ADS_1
"Iya, Juandra. Udah sana kamu masuk duluan."
"Hehe." Juan menyengir, lalu bergegas masuk ke dalam villa. Hanya sekedar menyimpan tas.
Juan tidak menuruti Nadira untuk beres-beres dan istirahat. Karena pripsip Juan akan selalu berada di dekat Nadira selama mereka liburan.
"Eoh?" Juan tidak melihat Nadira saat dirinya kembali ke tempat mereka sebelumnya. "kak Dira bilang ke depan maksudnya kemana ya?"
Kursih di teras villa kosong, padahal kursih itu satu-satunya tempat duduk yang ada di depan villa. "kak Dira cepet banget perginya. Astaga!"
Juan tidak bisa jauh-jauh dari Nadira, apalagi di tempat asing seperti sekarang. Juan panik ketika tidak menemukan Nadira di depan villa.
"Kenapa lari-lari?" Juan berlari menuruni anak tangga menghentikan langkahnya. "hey! kamu baik-baik aja kan? kenapa kamu lari-lari, huh?"
Juan menggeleng dan kembali melangkahkan kakinya menghampiri Nadira. "kok gak bilang kalau kak Dira mau duduk disini?" protes Juan.
"Loh? tadi kan kakak udah bilang sama kamu-"
Beginilah kira - kira gambaran villanya, mereka harus melewati tangga untuk sampai ke teras villa. Juan mengira Nadira duduk di teras, tapi ternyata wanita itu malah duduk di tempat lain.
"Kakak beneran gak capek? gak mau istirahat, eh?" Nadira mendapat kesan Juan mengomel padahal Juan yang salah paham terhadapnya.
"Kamu sendiri kenapa kesini? kan kakak udah nyuruh kamu buat beres-beres, terus istirahat."
"Aku bakal istirahat kalau kakak juga istirahat."
"Yaudah, duduk sini." Nadira sudah terlalu lelah karena perjalanan, tidak memiliki tenaga untuk berdebat. "oh ya, kamu lapar gak? kamu belum makan kan? mau kakak masakin sesuatu hm?"
"Aku bisa makan nanti, kakak juga capek kan?"
__ADS_1
"Kakak masih bisa masak buat kamu. Emang capek, tapi kamu harus tetep makan Juandra."
"Gak ada restoran dan gak disediain makanan disini. Kakak harus masak buat kamu makan."
"Iya, tapi masaknya bisa nanti. Kakak istirahat dulu aja. Aku belum lapar." balas Juan tenang.
Berhadapan dengan orang yang bawel karena menaruh perhatian harus tenang supaya tidak mendapat kesan kita tidak suka diperhatikan.
Juan suka dan berterimakasih karena Nadira perhatian terhadapnya. Tapi Juan tidak ingin merepotkan Nadira, apalagi Juan tahu Nadira sekarang juga kelelahan sama seperti dirinya.
"Yaudah, istirahat sebentar nanti kakak masak buat kamu." Juan mengangguk menyetujuinya.
"Tapi kita kan gak bawa bahan makanan, mau beli dulu atau gimana?" tanya Juan mengingat mereka hanya membawa pakaian saja kesana.
Mereka membeli snack dan minuman kaleng, hanya itu saja yang mereka beli diperjalanan.
"Udah ada kok, kakak udah minta orang buat menuhin isi kulkas buat empat hari ke depan."
Ah, Juan lupa kalau Nadira kaya. Pantas Juan hanya diminta membawa pakaian, sepertinya Nadira sudah mengatur semuanya. Termasuk persediaan makan untuk empat hari ke depan.
"Kayaknya aku harus belajar masak biar gak nyusahin kakak." Juan mendapatkan tatapan tajam setelah mengatakan itu. "dapur kakak bisa hancur kalau kamu belajar masak! gak!"
"Tapi kalau aku belajar-"
"Enggak, Juan. Kakak gak ijinin kamu belajar masak. Kamu itu ceroboh, jadi diem aja udah."
"Iya-iya. Bawel banget sih, kak. Astaga." Juan tidak habis pikir dengan respon Nadira hanya karena dirinya ingin belajar masak. "Tapi aku gak ceroboh loh, malah kakak yang ceroboh."
"Udah, diem. Lima menit lagi kakak masak."
__ADS_1
Juan tertawa, dengan begitu Nadira mengakui dirinya ceroboh. Tapi kenyataanya selama ini memang Nadira ceroboh saat bersama Juan.