Sugar Mommy

Sugar Mommy
28. Demam


__ADS_3

Juan membuka mata saat merasakan Nadira bergerak gelisah di sampingnya. Juan melihat Nadira menggigil dengan kening berkeringat.


"Kak ..." panggil Juan lembut. Tapi Nadira tidak meresponnya. Juan akhirnya mendekat pada Nadira, dan menyapu keringat pada keningnya.


"Badan kakak panas." pekik Juan saat telapak tangannya menyentuh permukaan kulit Nadira.


Juan turun dari tempat tidur mereka, dan pergi mengambil air hangat serta handuk yang bisa digunakan untuk mengkompres kening Nadira.


Juan belum pernah berhadapan dengan orang sakit sebelumnya, tapi mamah Juan biasanya mengkompres kening Juan saat Juan demam.


Juan membawa wadah berisi air dan handuk ke dalam kamar. Juan hati-hati mengkompres Nadira. Selain ini pertama kalinya, Juan juga tidak ingin sampai mengusik tidur wanita itu.


Juan selalu menghebohkan seluruh penghuni rumah saat sedang sakit, tapi sekarang Juan heboh karena wanita yang disayanginya sakit.


Nadira terlihat damai dalam tidurnya, berbeda dengan Juan saat sedang sakit. Tubuh Nadira masih menggigil, tapi Nadira tetap saja damai.


Nadira mungkin sudah biasa mengatasi rasa sakitnya sendiri, makanya Nadira biasa saja sekarang. Tidak sampai heboh seperti Juan.


Juan merapikan selimut putih yang menutupi sebagian tubuh Nadira setelah mengkompres wanita itu. "kenapa kakak bisa tidur pulas sih? kalau aku pasti udah berisik kedinginan gini."


"Kakak sakit bukan gara-gara stres kan?" Juan menggerutu setelah menanyakan itu. "kenapa gue ngomong sendiri?! kak Dira kan lagi tidur!"


Juan kemudian terdiam sambil memandangi wajah Nadira yang masih damai dan terlelap. "tapi serius deh, kenapa kak Dira kuat banget?"


"Kak Dira pasti udah ngerasain sakit yang lebih dari ini, makanya sakit demam aja udah biasa. Tapi aku beneran salut banget sama kak Dira."


Juan terus mengucapkan kekagumannya pada Nadira sepanjang malam, bahkan sampai dia kembali tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepala yang bersandar di samping Nadira.

__ADS_1


Paginya, Juan bingung karena bangun dengan posisi berbaring di kasur. Juan ingat jelas tadi malam dirinya tidak sempat pindah ke ranjang, makanya Juan bingung tiba-tiba tidur di kasur.


"Loh? kak Dira mana?" Juan semakin bingung melihat Nadira sudah tidak ada di tempatnya. "masa sih kak Dira yang mindahin aku kesini?"


Tidak mungkin kalau Nadira. Kakak Juan saja yang badannya berotot kadang tidak sanggup menggendong Juan ketika Juan sedang sakit. Alasannya karena Juan yang terlewat bongsor.


Nadira badannya lebih kecil dari kakak - kakak Juan, sangat tidak mungkin kalau Nadira yang menggendong Juan ke kasur. Tapi di rumah itu setiap malam hanya ada mereka berdua saja.


Tidak ada orang selain mereka yang tinggal di rumah itu. Nadira memiliki dua pembantu, tapi keduanya tidak tinggal di rumah Nadira. Satu pulang - pergi, satunya lagi tinggal di paviliun.


Juan tidak tahu kenapa tidak ada yang tinggal di rumah Nadira, padahal rumah Nadira besar dan bisa menampung banyak orang. Mungkin Nadira memang nyaman sendiri di rumahnya.


"Kamu udah bangun?" saat Juan masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Nadira memasuki kamar dengan membawa secangkir kopi dan keripik kentang kesukaan Juan. "mau ini gak?"


Juan mengamati wanita yang dengan santai menawarkan keripik kentang. Nadira terlihat baik - baik saja, bahkan wajahnya juga segar.


Juan memposisikan dirinya untuk duduk dan membuat mereka saling berhadapan. Tanpa mengatakan apapun, Juan mengecek suhu tubuh Nadira dengan punggung tangannya.


"Kakak udah sembuh?" tanya Juan spontan.


Nadira mengerutkan keningnya dan perlahan menurunkan tangan Juan. "emang siapa yang sakit? yang baru pulang dari rumah sakit kan kamu, Juandra. Kenapa nanyain itu ke kakak?"



"Kenapa senyum heh?" kening Nadira semakin berkerut melihat senyum mencurigakan Juan.


Senyuman Juan semakin lebar dengan wajah dan telinga yang terlihat merah. Dan sekarang giliran Nadira yang menempelkan tangannya di kening Juan. "gak panas, tapi kenapa kamu tiba-tiba senyum? kamu gak sakit kan, Juan?"

__ADS_1


"Kak." Juan menahan tangan Nadira kemudian menggengam tangan itu. "jangan bikin gemes bisa? kakak gak kasihan sama jantung orang?"


"Apaan sih? dasar gak jelas!" Nadira menarik tangannya dari genggaman yang lebih muda.


"Kakak gemesin banget bisa inget nama aku."


Nadira melongo. Hanya karena Nadira ingat nama Juan saja reaksinya sudah berlebihan.


"Tapi yang harus inget nama buat ijab kabul nanti kan aku, kak." Juan terkekeh setelahnya.


Nadira sudah tidak bisa mengontrol wajahnya sekarang. Apalagi Nadira melihat Juan salah tingkah setelah mengatakan hal menggelikan.


"Hehe." Juan mengusap puncak kepala Nadira dan menatap teduh mata Nadira. "tadi malem kakak demam, kepala kakak pusing gak hum?"


Juan mengalihkan pembicaraan mereka. Tidak ingin berlama-lama dalam suasana yang aneh.


"Berkat kamu kepala kakak gak pusing." jawab Nadira. "Makasih ya, udah ngompresin kakak."


Juan mengangguk singkat untuk menanggapi Nadira. Sebenarnya, Juan tidak perlu ucapan terimakasih. Tapi Juan tahu kalau ucapan itu adalah cara Nadira menghargai bantuan Juan.


Juan tidak menganggapnya sebagai bantuan, melainkan bentuk kasih sayangnya terhadap Nadira. Kata bantuan terlalu asing untuk Juan. Tapi bagi Nadira, itu tetaplah sebuah bantuan.


"Oh ya, siapa yang mindahin aku kesini? bukan kakak kan? kakak gak mungkin ngangkat aku."


Nadira terdiam sejenak mendengar perkataan Juan. "iya, emang bukan kakak. Kamu pindah sendiri ke kasur tadi malem. Kamu gak inget?"


"Eoh?" benarkah tadi malam Juan yang pindah sendiri ke kasur? tapi kenapa Juan tidak ingat?

__ADS_1


__ADS_2