Sugar Mommy

Sugar Mommy
37. Salah paham


__ADS_3

Juan tersenyum melihat wanita yang berjalan disampingnya sambil makan es krim. Tadinya Juan ingin mengajak Nadira jalan-jalan seperti pasangan lain, tapi wanita ini berpikir lain dan berakhir mereka hanya berjalan-jalan di taman.


Nadira mengatakan tidak terlalu suka tempat hiburan yang biasa didatangi orang lain. Dan lebih suka tempat yang memiliki udara sejuk sekaligus menenangkan seperti puncak, tapi Nadira juga katanya sedang malas ke puncak.


Juan kadang tidak mengerti dengan pikiran wanita ini. Jika dibandingkan dengan rumus matematika atau mungkin fisika, sepertinya akan lebih sulit memahami pikiran wanita ini.


Sebenarnya, tindakan Nadira sederhana. Tapi dibalik kesederhanaannya itu selalu saja ada hal yang membuat Juan berpikir kenapa ada wanita seperti Nadira yang hidup di bumi ini?


Nadira terlalu sempurna dimata Juan. Nadira bukan hanya memiliki wajah cantik, tapi juga memiliki sesuatu yang susah ditemukan dari wanita lain. Nadira sempurna, setidaknya itu yang Juan lihat ketika memandang wanita ini.


Tidak peduli dari sudut manapun Juan melihat Nadira, wanita itu nampak sempurna. Bahkan meskipun Juan tahu sebagai manusia Nadira pasti memiliki banyak kekurangan. Tapi Juan tetap melihatnya sebagai wanita tanpa cacat.


"Kenapa?" tanya Nadira menyadari Juan terus menatapnya daritadi. "Kamu mau es krimnya?"


Juan tersenyum dan menggeleng. "kakak aja yang makan es krim nya. Aku gak terlalu suka."


"Karena kata mamah kamu gak boleh makan es krim ya?" tangan Juan bergerak mengacak gemas rambut Nadira mendengar pertanyaan wanita itu. "gak kok. Kali ini emang karena aku gak suka es krim. Jadi kakak aja yang makan."


Nadira mengangguk kepalanya dan kembali menatap ke depan sambil mencari tempat untuk duduk. "banyak orang juga disini eoh?"


"Iya, jam segini banyak orang pacaran disini."


"Kamu sering ngajak gebetan kamu kesini ya?"


"Gebetan apa? orang aku gak pernah pacaran."

__ADS_1


"Tapi sekedar gebetan pasti kamu punya lah."


"Iya, kakak gebetan aku. Aku gak pernah suka sama cewek lain selain kak Dira." jawab Juan.


"Jadi kakak first love kamu?" Nadira dan Juan menghentikan langkah mereka, dan bertukar tatapan. "iya, kakak first love aku. Aku sering bilang gitu ke kakak, tapi kakak lupa terus ya?"


"Aku tahu disini banyak orang pacaran karena sering lewat kesini, bukan karena suka ngajak pacar atau gebetan kesini." jelas Juan. Nadira hanya terkekeh saja mendengar ucapan Juan.


"Kak Juan." suara itu membuat Juan melihat kearah sumber suara. Begitupun Nadira ikut melihat kearah suara yang memanggil Juan.


"Oh sial!" umpat Juan saat melihat siapa yang memanggilnya. Nadira yang mendengar Juan mengumpat mengerutkan keningnya bingung.


"Siapa?" tanya Nadira sambil makan es krim.


"Adek tingkat di kampus." jawab Juan lemas. "kita pergi aja yuk, kak. Aku males sama dia."


"Huft." Juan tidak mampu membantah Nadira.


Juan memasang wajah datar saat sang junior menghampiri mereka. Juan sudah benar-benar malas berhadapan dengan juniornya, apalagi juniornya ini pernah mengajak Juan selingkuh.


"Aku denger kakak masuk rumah sakit, gimana keadaan kakak sekarang? kakak udah baikan?"


Juan benar-benar malas dengan juniornya ini, bahkan hanya menjawab pertanyaannya saja rasanya Juan malas. Tapi pinggangnya dicubit, dan pelakunya membisikan sesuatu padanya.


"Dia nanya sama kamu, Juandra." bisik Nadira.

__ADS_1


Junior Juan tersenyum. "keliatannya kak Juan baik-baik aja, lagi jalan sama pacar kakak ya?"


"Iya." ketus Juan saking malasnya. Juan bisa mendengar helaan nafas Nadira setelahnya.


Juan tebak setelah ini Nadira nanti pasti akan mengomel, tapi lebih baik mendengar Nadira mengomel daripada bicara dengan juniornya.


Juan akan mendengarkan omelan wanita yang dicintainya seperti alunan musik kesukaannya, asalkan juniornya bisa pergi dari hadapannya.


"Oh, kalau gitu aku duluan ya, kak." junior Juan pamit dan meninggalkan Juan yang sepertinya masabodoh dengan kepergiannya, pemuda itu bahkan tidak menanggapi ucapan sang junior.


Sebelum pergi junior Juan sempat berpamitan kepada Nadira, dan dibalas ramah oleh Nadira yang merasa tidak enak terhadap junior Juan.


"Apa tadi?" tanya Nadira setelah melihat junior Juan pergi. "maaf, aku ngakuin kakak pacar di kampus. Jadi dia mikir kalau kakak pacar aku."


"Bukan itu, kamu tadi ketus banget sama dia."


"Aku males sama dia, kak. Dia ngejar - ngejar aku terus dan itu bikin aku risih." jawab Juan.


"Kamu boleh gak suka sama dia, tapi jangan nyakitin hatinya. Dia ngasih kamu cinta, tapi kamu bales kebencian itu gak adil namanya."


"Tapi aku gak minta dia buat cinta sama aku."


Nadira kembali menghela nafas. "kalau kamu emang gak bisa bales perasaannya, buat dia merasa ada yang lebih pantes dapetin hatinya. Bukan bersikap seolah dia itu gak pantes cinta sama kamu. Dan kedua hal ini berbeda, Juan."


"Jadi ini alasan dibalik sikap kakak ke aku ya?"

__ADS_1


"Maksud kamu?" Juan menggelengkan kepala.


"Ayo, nyari tempat duduk." ajak Juan berjalan mendahului Nadira. Sepertinya Nadira sudah membuat Juan salah paham. Huft, lihat saja pemuda itu meninggalkan Nadira begitu saja.


__ADS_2