
"Kamu yakin mau tidur disana?" tanya Nadira melihat Juan yang sudah bersiap untuk tidur.
Juan berniat tidur di sofa karena mamahnya melarangnya tidur seranjang dengan wanita yang belum resmi menjadi istrinya. Dan Juan dengan berat hati menurut pada mamahnya.
"Iya." jawab Juan cuek. Padahal sebenarnya Juan ingin tidur bersama Nadira di kasurnya.
"Kakak aja yang tidur di sofa, kamu di kasur."
"Gak usah, kak. Kakak aja yang tidur di kasur."
Nadira menghampiri pemuda yang sepertinya sedang badmood itu. "ayo, pindah. Kamu bete kan gara - gara gak boleh tidur bareng kakak?"
"Aku gak bete. Kakak tidur aja sana di kasur."
Nadira berjongkok di dekat sofa dan menatap Juan yang katanya tidak bete itu. "yakin kamu gak bete? terus kenapa muka kamu gitu hoh?"
"Aku cuma kesel gak bisa cuddle sama kakak."
Nadira tertawa karena gemas. "makanya, ayo cuddle. Kamu jelek tahu cemberut kayak gitu."
Juan menggeleng dan menatap mata Nadira. "aku sayang sama kakak, jadi mulai sekarang kita gak usah cuddle. Aku gak mau ngerusak kakak. Kita cuddle setelah nikah aja." jelasnya.
Nadira terdiam. Padahal mereka saja belum sepakat untuk menikah, tapi Juan berbicara seperti itu. Tidak ingin merusak? tapi selama ini mereka tidak pernah melakukan hal aneh.
"Kakak tidur sana, aku gak marah gara - gara kakak tidur di kasur aku kok." Juan meminta Nadira tidur, tapi tangan Juan menggenggam tangan Nadira. "tapi besok kita jalan-jalan ya?"
"Iya, besok kita jalan-jalan." Nadira mengusap tangan Juan yang menggenggam tangannya. "tapi kamu yakin mau tidur di sofa?" tanyanya.
"Aku gak bakal tega biarin kakak tidur di sofa."
__ADS_1
"Kita tidur berdua di kasur, yang penting kan kita gak macem-macem. Cuma tidur bareng."
"Tapi, kak-"
"Kamu gak bakal ngerusak kakak cuma karena kita tidur bareng. Kecuali tidurnya sambil lepas baju." ucap Nadira memotong perkataan Juan.
"Astaga, kak." Juan menutup matanya dengan telapak tangannya, merasa malu mendengar perkataan Nadira. "jangan terlalu blak-blakan."
"Tapi emang bener, ngerusak itu kalau kamu-"
Juan menutup mulut Nadira sebelum Nadira menyelesaikan ucapannya. Juan ngeri kalau Nadira sudah bicara berdasarkan logikanya.
"Iya, kak. Udah gak usah dilanjutin, aku ngerti."
Nadira menurunkan tangan Juan. "ngerti apa?"
Juan menarik Nadira dan membuat wanita itu dalam sekejap berada diatas tubuhnya. Juan tidak sanggup menanggapi perkataan Nadira, dan mungkin cara itu akan membuatnya diam.
"Gimana kakak tidur kalau kayak gini?" Nadira menatap Juan kesal. Jantungnya hampir saja copot karena Juan tiba-tiba menarik tubuhnya.
"Aku kesel, mamah mikirnya aku sama kayak kakak-kakak aku." curhat Juan pada akhirnya.
Juan tahu mamahnya berniat baik, dan tidak ingin Juan sampai seperti kakak - kakaknya. Tapi cara berbicara mamahnya kurang tepat.
Rosa terus saja menasehati Juan tanpa ingin mendengarkan penjelasan Juan dan membuat Juan kesal. Sampai Juan harus masuk kamar dalam keadaan emosi dan cuek pada Nadira.
"Aku sayang sama kakak." bisik Juan ditelinga Nadira setelah kepala wanita itu bersandar di dadanya. "aku serius sayang sama kakak, dan aku gak mungkin ngerusak kakak." tambahnya.
"Iya, tapi lepasin dulu. Kakak gak bisa nafas."
Juan melonggarkan tangannya yang memeluk tubuh Nadira, tapi tidak benar - benar melepas wanita itu. "gimana kalau kita menikah besok?"
__ADS_1
"Kamu aja belum lulus kuliah, Juandra." Cibir Nadira kesal karena Juan mengajak menikah sudah seperti mengajaknya membeli permen.
Juan terkekeh melihat wajah kesal Nadira "jadi kalau udah lulus, kakak mau diajak nikah hm?"
"Kamu lulus dulu aja, nanti kakak pikirin lagi."
"Oke, aku bakal secepatnya lulus buat kakak."
Nadira mengangguk. Dalam hatinya berkata. "tapi kita gak tahu kan hati kamu tetep buat kakak atau nggak setelah kamu lulus nanti?"
Juan memegang wajah Nadira dengan ibu jari yang dengan lembut menyapu bibir bawahnya. Juan perlahan mendekatkan wajahnya, dan ...
Chup ... Juan mengecup singkat bibir Nadira.
Nadira terkejut karena Juan mencium bibirnya, tapi kemudian Nadira sendiri mengecup bibir Juan. Sedikit lebih lama, anggap saja ciuman mereka malam ini sebagai tanda kesepakatan.
"Kakak bakal nunggu kamu lulus." ucap Nadira.
"Dan aku bakal nungguin jawaban dari kakak setelah aku lulus kuliah nanti." sambung Juan.
"Ayo, tidur." Nadira berniat bangun, tapi Juan menahan tubuhnya dan kembali memeluknya.
"Tidur disini aja, aku udah terlanjur janji sama mamah gak bakal tidur di kasur sama kakak."
"Badan kamu bisa sakit kalau tidur kayak gini."
"Badan kakak ringan kok, aku gak bakal sakit."
"Yaudah deh, terserah." Nadira menyamankan posisinya di dada Juan. Sekarang Nadira bisa merasakan detak jantung Juan, dan membuat bibirnya terangkat saat merasakan jantung itu.
"Kakak juga sayang sama kamu, Juan." Nadira hanya bisa mengatakan hal itu dalam hatinya.
__ADS_1
Nadira memang menyayangi Juan, tapi Juan berhak mendapatkan wanita yang lebih baik bukan? wanita yang tanpa cacat sepertinya.