Sugar Mommy

Sugar Mommy
33. Menginap


__ADS_3

"Kenapa, mah? aku perhatiin daritadi kayaknya ada yang mau mamah omongin?" tanya Juan setelah melihat Nadira pergi dari ruang makan.


"Maaf, aku gak bermaksud ngelarang mamah ngomong. Mamah boleh ngomong, aku cuma minta kalian jangan bahas orang tua kak Dira."


"Iya, mamah ngerti." sahut Rosa. "tapi apa Dira pernah kecelakaan ya? sampe hilang ingatan?"


"Ha? maksudnya?" Juan menatap satu persatu keluarganya dan akhirnya menatap pada Rosa.


"Dira kayaknya gak inget sama mamah." ucap Rosa membuat Juan terkekeh mendengarnya.


"Kalau kak Dira kecelakaan, gak mungkin kak Dira ada disini sekarang. Mamah ada-ada aja."


"Maksud mamah, Dira gak inget kalau mamah orang yang pernah ditolongnya." koreksi Rosa.


Rosa belum memberitahu Juan bahwa Nadira orang yang sudah menolongnya empat bulan yang lalu, pantas saja mereka tidak nyambung.


"Kak Dira pernah nolong mamah? kapan heh?"


"Kita omongin nanti, fokus dulu sama makan malamnya. Kita harus bikin Dira nyaman kan?"


"Iya ..." Juan berdiri menghampiri mamahnya dan memeluknya dari belakang. "maafin Juan ya, mamah boleh kok ngobrol sama kak Dira."


"Mamah juga ngerti. Kamu duduk lagi sana."


Juan mencium pipi Rosa sebelum kembali ke tempat duduknya. Dan Nadira tanpa sengaja melihat momen itu, momen hangat yang tidak pernah Nadira rasakan di dalam keluarganya.

__ADS_1


"Oh... kakak udah ke kamar mandinya?" tanya Juan menyadari kehadiran Nadira di ruangan itu. "kenapa berdiri disana? ayo, duduk disini."


"Kak Dira." panggil Juan lembut karena Nadira masih terdiam di tempatnya. "kakak baik-baik aja kan? ayo, duduk. Kakak lanjutin makannya."


Nadira akhirnya kembali ke tempat duduknya, tapi untuk melanjutkan makan rasanya Nadira tidak sanggup. Makanan rasanya sulit ditelan.


Inilah alasan Nadira selalu bersikap sok kuat. Karena Nadira menyadari apa yang menjadi kelemahannya. Saat sedih, Nadira tidak bisa menelan makanan dan dadanya akan sesak.


Nadira bisa menahan tangis, tapi tidak bisa mengendalikan sesak di dadanya. Dan bagi Nadira itu adalah hal yang melemahkannya.


Nadira tidak tahu kenapa dirinya begitu lemah melihat keharmonisan keluarga Juan. Nadira ikut senang karena Juan terlahir dari keluarga yang harmonis, tapi itu juga menyakiti hatinya.


"Kenapa, kak? tenggorokan kakak sakit? ini minum dulu, baru nanti makan lagi." Nadira hanya menuruti Juan dan meminum airnya.


"Terimakasih." ucap Nadira setelah meminum air yang Juan berikan kepadanya. Juan hanya tersenyum merespon Nadira dan menyimpan kembali gelas minum miliknya itu diatas meja.


Adrian memperlakukan Rosa dengan sangat spesial, hanya tidak terlalu menunjukkannya karena sekarang mereka sudah tua dan anak mereka juga sekarang sudah tumbuh dewasa.


Bukan cinta Rosa dan Adrian yang berkurang, tapi mereka juga harus berbagi kasih sayang dengan anak-anak mereka. Karena orang tua bukan sekedar membuat anak lahir ke dunia.


"Gimana kalau kamu dan Dira nginap? malam ini saja, kamu dan Dira nginap disini ya?" Juan belum menikah, namun Rosa seperti meminta anak dan menantunya menginap di rumahnya.


Tapi, Rosa sudah mengijinkan Juan tinggal bersama Nadira dan itu artinya Rosa harus meminta persetujuan Juan untuk menginap.


"Nanti mamah minta bibi buat beresin kamar-"

__ADS_1


"Kak Dira tidur di kamar aku aja." Juan dengan cepat bersuara. "kak Javier tidur di kamar kak Richo. Aku tidur di kamar aku sama kak Dira."


"Tapi kak Dira mau gak nginap disini?" Juan mengabaikan wajah speechless keluarganya dan bertanya pada Nadira. "kalau kakak gak mau, aku gak bakal maksa. Kita pulang aja."


Sepertinya Juan lupa dimana rumahnya. Juan bicara seolah rumah Nadira tempatnya untuk pulang dan rumah orang tuanya tempat asing.


Javier menatap tajam sang adik. Bisa-bisanya Juan bicara seperti itu. Dan apaan tadi? Javier harus tidur di kamar Jericho? dasar tidak tahu diri! Juan membuang Javier gara-gara wanita.


"Iya, tidak apa-apa kalau memang tidak mau."


"Gimana? kakak mau nginep gak?" tanya Juan lagi. Tanpa tahu kalau seperti itu, Nadira tidak memiliki pilihan lain selain menginap. Karena Nadira tipe orang yang segan untuk menolak.


"Iya, kita nginep." jawab Nadira pada akhirnya.


"Beneran? gapapa nginep?" Juan memastikan.


Nadira mengangguk. "iya, Juan. Kenapa sih?"


Juan menggeleng dan tersenyum. "nanti aku telpon orang rumah, ngabarin kalau kak Dira nginep disini. Biar orang rumah gak khawatir."


"Bu Ijah sama Pak Asep pasti khawatir kalau kakak gak pulang dan mereka gak dikabarin."


Juan benar-benar menelpon Bu Ijah dan Pak Asep. Entah darimana pemuda itu memiliki nomor ponsel mereka. Karena Nadira belum pernah memberi nomor mereka pada Juan.


Rosa, Adrian maupun Javier hanya menonton disana. Juan berubah karena seorang wanita dan mereka masih belum terbiasa dengan itu.

__ADS_1


"Aku udah ngabarin mereka, jadi kakak bisa nginep sekarang." ucap Juan setelah selesai menelpon. "nanti kakak pake baju aku, buat ganti. Semoga aja ada yang pas buat kakak."


__ADS_2