Sugar Mommy

Sugar Mommy
41. Sakit, tersakiti dan menyakiti


__ADS_3

Juan yang biasa berisik saat Nadira tidak ada di kamar malam itu terlihat tenang, meskipun Nadira sudah lebih dari satu jam tidak ada di kamar. Bahkan, Juan tidak berusaha mencari Nadira dan hanya berdiam diri di dalam kamar.


Juan sedang merenungkan kesalahannya. Dia benar-benar merasa bersalah karena berteriak pada Nadira. Seumur hidupnya, baru pertama kali Juan berteriak pada orang lain dan orang itu merupakan wanita yang sangat Juan cintai.


Ah, tidak. Juan pernah sekali berteriak pada mamahnya saat kecil dan mamahnya bilang berteriak pada seseorang adalah perbuatan tidak baik. Sejak itu Juan sudah tidak pernah lagi berteriak pada seseorang, siapapun itu.


Rosa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Meskipun tidak semua anaknya dapat mendengar nasehat darinya, tapi Rosa telah menjalankan tugasnya sebagai ibu yang baik.


Juan anak yang berhasil dididik, berbeda dari dua kakaknya yang gagal dididik. Rosa tidak membedakan dalam hal mendidik anak, yang membedakan hanyalah bagaimana anaknya menampung setiap nasehat dan didikannya.


"Kamu bisa melukai perasaan orang lain kalau berteriak seperti ini, jangan diulangi lagi oke?"


Juan teringat perkataan mamahnya saat kecil, sehingga Juan merasa bersalah saat ini. Juan tahu Nadira tidak mempermasalahkannya, tapi dia tetap tidak bisa berhenti merasa bersalah.


Dulu Juan sampai menangis karena berteriak dan melukai perasaan mamahnya. Tapi Juan tidak mungkin melakukan itu sekarang. Juan tidak mungkin menangis di depan wanitanya.


"Juan, ayo makan." Juan menoleh pada Nadira yang nampak repot membawa banyak jajanan. Dengan sigap Juan membantu membawakan jajanan Nadira dan diletakkannya keatas meja.


Nadira itu suka jajan dan tidak pernah kira-kira kalau membeli jajanan, katanya ada Juan yang akan menghabiskannya. Dan tentu Juan hanya pasrah. Juan tidak akan tega menolak Nadira.


"Kakak beli online?" tanya Juan karena daritadi Juan tidak mendengar ada suara mobil keluar.


"Gak. Kakak beli keluar kok tadi." jawab Nadira.


"Kapan? daritadi aku gak denger suara mobil."

__ADS_1


"Ya, kan kakak pake motor." Nadira membuka semua jajanannya diatas meja dan berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Padahal Juan terus memandangi Nadira yang sibuk dengan jajanannya. "kakak naek motor? emang bisa?"


"Maksud aku, aku baru tahu kakak bisa naek motor." Juan mengkoreksi ucapannya. Tidak ingin perkataannya tadi menyinggung Nadira.


Nadira menatap Juan dan terkekeh. "kamu kan emang gak pernah ngelihat kakak naek motor."


Nadira terlihat bingung saat Juan hanya diam sambil menatapnya. Nadira sudah menyadari ada yang berbeda dari Juan semenjak mereka pulang dari cafe. Dan sekarang Juan semakin berbeda. "kenapa? kamu lagi mikirin sesuatu?"


Juan mengangguk singkat. "iya, aku gak bisa berhenti mikirin kakak." jawab Juan seadanya.


"Kenapa mikirin kakak, huh?" kening Nadira berkerut. "oh, kamu mau gombalin kakak ya?"



Juan menatap yang lebih tua intens, wanita ini malah berpikir Juan berniat menggombalinya.


"Maaf ..."


"Maaf aku udah teriak sama kakak." ucap Juan melanjutkan ucapannya. "aku gak bisa tenang sebelum mastiin kalau aku gak nyakitin kakak."


Makanan yang akan Nadira masukan ke dalam mulutnya kembali diletakan karena mendengar perkataan Juan. "udah berapa kali kamu minta maaf huh? kakak udah bilang, jangan dipikirin."


"Tapi aku gak bisa berhenti mikirin, kak. Kakak mungkin -ah nggak, aku pasti udah bikin kakak terluka. Aku gak bisa ngeliat luka dihati kakak, makanya aku gak bisa berhenti mikirin ini, kak."


Nadira menghela nafasnya. "luka dihati kakak emang gak bisa dilihat, tapi kakak udah bilang gapapa. Kenapa kamu harus terus mikirin itu?"

__ADS_1


"Makasih udah mikirin perasaan kakak, tapi kamu juga gak perlu nyiksa perasaan kamu sendiri. Setiap orang pasti akan melakukan kesalahan dan itu bukanlah hal besar, Juan."


Juan dan Nadira saling menatap, tanpa saling bicara untuk beberapa saat sampai salah satu dari mereka kembali berbicara dengan lembut.


"Manusia itu hidup antara sakit, tersakiti dan menyakiti, dan kamu masuk ke dalam orang yang menyakiti diri sendiri. Dan menyakiti diri sendiri itu gak baik, jadi kamu harus berhenti."


"Aku cuma mau mastiin kak Dira gak terluka gara-gara aku. Bukan menyakiti diri sendiri."


"Orang yang hidupnya gak mau nyakitin orang lain, biasanya gak akan sadar lagi nyakitin diri sendiri." Nadira mengusap punggung tangan Juan. "jangan kayak gitu, kamu akan terluka."


Juan tidak bisa berkata-kata lagi, pemuda itu memeluk Nadira dan menenggelamkan wajah antara perpotongan tengkuk dan leher Nadira.


"Aku gak ngerti kakak ngomong apa, kenapa omongan kakak susah banget buat dicerna?"


Juan mengerti, sangat mengerti. Juan hanya berpura-pura tidak mengerti supaya mereka tidak berlarut dalam obrolan yang serius itu.


Dan Juan sekarang berpikir apakah Nadira dulu termasuk dalam golongan orang itu? orang yang tidak ingin menyakiti orang lain, tapi menyakiti dirinya. Atau, Nadira masih seperti itu sampai saat ini? Juan juga belum tahu jawabannya.


Nadira terkekeh dan membalas pelukan Juan. "yaudah, gak usah kamu pikirin. Ayo, makan."


"Iya, sebentar." Juan mencium aroma tubuh Nadira yang sangat disukainya. "eoh? kakak ganti parfum? wangi kakak beda sekarang."


"Gak kok, malah sekarang gak pake parfum."


"Serius, kak?" Juan mengendus aroma tubuh Nadira untuk memastikan aroma wanita itu berbeda dari biasanya. "tapi kakak wangi loh."

__ADS_1


"Hm, mungkin bau dari sabun mandi kakak."


"Kakak ganti sabun mandi?" Juan terus saja mengendus aroma tubuh Nadira. Orang lain mungkin akan merasakan sensasi aneh, tapi Nadira biasa-biasa saja saat Juan seperti itu.


__ADS_2