Sugar Mommy

Sugar Mommy
25. Tidak wajar


__ADS_3

"Kakak tahu gak handphone aku dimana? apa ketinggalan di rumah kali ya?" Juan menatap Nadira yang sedang fokus mengendarai mobil.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Juan diperbolehkan pulang oleh dokter seperti kata Nadira. Karena keadaan Juan sudah membaik.


Juan dinyatakan alergi alkohol oleh dokter tapi untungnya Nadira buru - buru membawanya ke rumah sakit sehingga keadaannya tidak parah.


Kulit Juan terdapat banyak ruam merah karena alerginya. Tapi untungnya Juan masih tampan.


"Gak tahu, mungkin iya ketinggalan di rumah."


"Aku gak inget terakhir nyimpen dimana. Apa bener ya ketinggalan di rumah? gimana kalau ilang?" Juan berusaha mengingat terakhir kali dirinya memegang ponselnya, tapi tidak ingat.


"Yaudah kita beli aja kalau emang kamu lupa." Nadira dengan entengnya bicara. Malah Juan yang merasa ngeri mendengar Nadira bicara.


Baru lupa saja Nadira sudah ingin membelikan ponsel. Bagaimana kalau benar-benar hilang?!


Nadira bukan sekali ini saja seperti ini. Setiap Juan memuji sesuatu pun, Nadira pasti akan menawarkan untuk membelinya. Nadira tidak terlihat kaya, tapi mampu membeli segalanya.


Dan yang menakjubkan lagi, Nadira tidak suka membawa dompet dan hanya membawa uang seadanya. Yang Nadira perlukan ketika keluar hanya ponsel, karena semua ada di ponselnya.


Nadira sangat memanfaatkan perkembangan teknologi sehingga semua hal mudah baginya.


"Hehe. Gak usah, kak. Kayaknya emang ada di rumah deh. Mungkin ada di kamar." seru Juan.


"Kalau gak ada di rumah gimana? kakak beliin kamu handphone sekarang aja biar sekalian."


"Kalau emang gak ada di rumah juga gak usah beli. Kakak udah sering keluar uang buat aku."


"Ya gapapa, kakak gak merasa keberatan kok."

__ADS_1


"Kakak gak keberatan, tapi aku yang gak enak."


"Yaudah. Kita lihat dulu handphone kamu ada di rumah gak, kalau gak ada baru kakak beliin."


"Kakak kenapa?" tanya Juan. Nadira tiba - tiba menepikan mobil dan memejamkan matanya.


"Kakak baik-baik aja?" Juan memegang wajah Nadira, dan mengarahkan supaya menghadap kearahnya. "kakak bisa denger suara aku kan?"


"Kak Dira, tolong jawab. Kakak kenapa?" Juan panik, Nadira sama sekali tidak meresponnya. Apalagi mata wanita itu juga hampir terpejam.


Juan bergegas turun dari mobil dan membuka pintu kemudi untuk memindahkan Nadira yang sudah benar - benar kehilangan kesadarannya.


"Tahan sebentar ya, kak." Juan melepas sabuk pengaman Nadira dengan tangan yang sedikit gemetar. Karena sekarang Juan kelewat panik.


Saat Juan akan mengangkat tubuh Nadira dan memindahkan Nadira, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Nadira. "kamu mau ngapain eoh?"


"Tadi kakak cuma pusing sedikit, tapi gapapa. Kamu duduk lagi aja." ucap Nadira tidak ingin membuat Juan khawatir. Sebenarnya, Nadira merasakan kesadarannya hampir saja hilang.


"Kalau mau cuddle nanti di rumah." Juan tidak habis pikir, bisa - bisanya sekarang wanita ini tertawa. Setelah membuat Juan sangat panik.


"Aku serius, kakak baik-baik aja?" tanya Juan membuat Nadira berhenti tertawa karenanya.


"Iya, kakak juga serius. Kakak baik - baik aja."


Juan menghela nafasnya. Nadira masih saja menyembunyikan yang sedang dirasakannya.


"Oke. Tapi biar aku aja yang nyetir mobilnya."


Nadira agak takut melihat wajah serius Juan. Kalau sudah begini, tidak ada lagi Juan yang menggemaskan. Yang ada sekarang berbeda jauh dari Juan yang biasa membuat gemas.

__ADS_1


"Kamu minggir dulu, kakak mau pindah." Juan tidak menuruti perkataan Nadira, pemuda itu malah semakin menempelkan tubuh mereka.


Posisi mereka saling berdekatan karena Juan sebelumnya Juan berniat untuk menggendong dan memindahkan Nadira dari kursih kemudi.


Tapi Nadira mendapat kesadarannya kembali, dan membuat Juan membatalkan niatnya tapi masih dengan mereka yang saling berdekatan.


"Kamu ngapain?" Nadira terkejut Juan tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan menggendong nya.


Juan menggendong Nadira tanpa mengatakan apapun. Dan semakin membuat Nadira takut. Sebenarnya apa yang terjadi pada pemuda ini?


"Muka kakak kenapa kayak gitu? astaga!" Juan tertawa setelah berhasil memindahkan Nadira.


"Emang aku bikin kakak takut ya?" tanya Juan disela tawanya. Karena wajah Nadira sekarang terlalu lucu baginya. Nadira memutar matanya.


"Seneng banget ya kamu?" cibir Nadira kesal.


"Hehe. Maaf, kak. Tapi muka kakak lucu tadi."


"Jangan ngeledek! masuk mobil sana!" Nadira mendorong tubuh Juan supaya menjauh. Tapi tidak berefek apapun untuk tubuh tegap Juan.


"Minggir, Juan!" Juan kembali tertawa. Kali ini karena yang lebih tua mendorongnya dengan tanpa tenaga. Bahkan tubuh Juan sama sekali tidak bergerak setelah Nadira mendorongnya.


"Perasaan di rumah sakit kakak udah makan banyak. Kenapa sekarang lemes banget sih?"


Juan mengacak-acak rambut Nadira. Ada hal yang mengganggu pikiran Juan sekarang, tapi Juan tidak terlalu menunjukan itu pada Nadira.


Juan jelas-jelas melihat wajah Nadira sangat pucat. Tapi sekarang wajahnya sudah tidak pucat dan Nadira juga terlihat baik-baik saja.


Sebenarnya, sekeras apa wanita itu dididik?

__ADS_1


__ADS_2