
Proyektor glow in the dark yang terpasang di kamar Raihan menyala ketika lampu di kamar itu mati. Raihan memasang proyektor dengan konsep langit di kamar. Sehingga saat lampu kamar mati akan terlihat bintang di kamarnya.
Raihan menyukai bintang dan segala hal yang bersangkutan dengan langit, tidak heran kalau kamarnya saja sampai memiliki konsep langit.
"Semesta indah, yang buruk orang-orangnya."
Sebulir air mata menetes saat ucapan Raihan terdengar di telinga Nadira. Semesta memang indah, Nadira mengakuinya. Meskipun selama ini Nadira tidak memperhatikan keindahannya.
"Bintang di malam hari indah, dan aku sengaja membawa bintang ke kamar untuk kakak lihat. Nanti, kalau kakak merasa kacau datanglah ke kamar. Melihat bintang bisa membuat tenang."
Nadira datang ke kamar Raihan bukan karena merasa kacau, tapi karena merindukan Raihan. Kebetulan Juan sedang pergi menemui Javier dan bocah itu belum pulang sampai sekarang.
"Kakak terlalu bekerja keras di siang hari dan harus istirahat di malam hari, kakak mungkin tidak memiliki waktu untuk melihat indahnya semesta. Jadi aku membuatnya untuk kakak."
Nadira memasuki kamar Raihan dan menutup pintu kamar itu. Bintang buatan Raihan indah. Nadira tidak memperhatikan bintang di langit karena terlalu sibuk dan Raihan membuatnya.
Nadira bersyukur memiliki adik seperti Raihan, yang Nadira sesali Raihan harus pergi secepat ini. Raihan meninggal sebelum ulang tahunnya yang ke dua puluh dua tahun. Tepat satu bulan sebelum ulang tahun, Raihan meninggal dunia.
Raihan meninggalkan Nadira sendiri di dunia yang kejam ini karena ulah seseorang. Nadira tidak tahu apa salah adiknya sampai dibunuh dengan sangat kejam saat perjalanan pulang.
__ADS_1
"Aku terpaksa membunuh karena keluargaku butuh makan dan dia tidak mau menyerahkan motornya." Nadira menggeram mengingatnya.
Bisa-bisanya seorang pembunuh menyalahkan Raihan setelah melakukan dosa besar. Apakah dengan membunuh Raihan perutnya kenyang?! kalau masalahnya karena motor, apa motor itu bisa membuatnya kenyang seumur hidupnya?!
Butuh makan bukan alasan untuk melakukan kejahatan, apalagi sampai membunuh orang. Semua orang butuh makan, makanya banyak orang yang sampai gila dengan pekerjaannya.
Sangat tidak masuk akal jika ada orang yang mengatasnamakan butuh makan membunuh orang yang juga berusaha mencari makanan. Raihan saja yang adik dari pemilik cafe tetap bekerja supaya bisa mendapatkan makanan.
Raihan bekerja di cafe Nadira, karena merasa tidak enak kalau terus bergantung pada uang kakaknya. Lagipula, yang seharusnya menjadi tulang punggung Raihan, bukan malah Nadira.
Nadira anak pertama, tapi Nadira perempuan. Dan perempuan tidak pantas menjadi tulang punggung keluarga, kecuali memang ada hal yang membuatnya tidak memiliki pilihan lain.
Nadira juga dulunya tidak memiliki pilihan lain, menjadi tulang punggung keluarga disaat yang lain mengejar mimpi mereka. Makanya Raihan berusaha untuk tidak bergantung pada Nadira.
Nadira meringis saat mengingat perkataannya waktu itu. Kalau kekenyangan bisa membunuh orang, dan kalau Nadira berniat balas dendam, pasti keluarga pembunuh itu sudah meninggal.
Nadira tidak takut akan apapun, atau terhadap siapapun. Dan mungkin saja membunuh orang yang sudah membunuh Raihan, tapi sayang itu tidak akan membuat Raihan kembali padanya.
"Kak Dira!" suara Juan yang memanggil nama Nadira membuat bayangannya tentang masa lalu memudar. Nadira melangkahkan kakinya kearah pintu. Tepat saat Nadira membukakan pintu itu, Juan berjalan di depan kamar Raihan.
"Oh, kak Dira ada disini." Juan tersenyum dan menghampiri Nadira. "kak Dira belum makan kan? aku udah beliin nasi goreng buat kakak."
__ADS_1
"Ayo, makan. Eoh?" fokus Juan teralihkan saat tanpa sengaja melihat ke dalam kamar Raihan. "woah, keren. Kamar yang ini ada bintangnya."
Juan menatap takjup kamar Raihan. Kakinya tanpa sadar membawanya memasuki kamar Raihan. Kenapa aku baru tahu kamar ini ada bintangnya? itu yang Juan pikirkan sekarang.
Juan berbalik menatap Nadira yang berdiri di belakangnya. "kenapa kakak gak bilang disini ada bintang? aku suka sama bintang loh, kak."
"Kamu suka bintang?" Juan menganggukkan kepalanya dengan excited. "kalau aku tahu di kamar ini ada bintangnya, aku gak nolak tidur disini. Aku pasti bakal betah tidur di kamar ini."
Nadira mengangguk-anggukan kepalanya. "oh, yaudah. Mulai malam ini kamu tidur disini aja."
"Eh?" mata Juan mengerjap lucu. Yang tadinya excited tiba-tiba saja diam. "aku gak mau tidur sendirian disini. Aku tidur di kamar kakak aja."
"Barusan kamu bilang kamu suka bintangnya."
"Aku lebih suka kakak daripada sama bintang."
"Dasar, labil." Nadira pergi meninggalkan Juan disana. Juan terlihat enggan pergi dari kamar yang dipenuhi bintang itu, tapi Juan juga tidak mungkin membiarkan Nadira pergi begitu saja.
"Kak Dira, tunggu!" Juan akhirnya memutuskan mengejar Nadira dan meninggalkan bintang di kamar Raihan. Bintangnya memang keren, tapi Juan lebih menyukai Nadira daripada bintang.
"Kak, aku gak mau tidur di kamar itu. Aku mau tidur sama kakak aja." ucap Juan saat berjalan dibelakang Nadira. "aku serius, aku lebih suka kakak daripada bintang-bintang di kamar tadi."
__ADS_1
Nadira tidak menanggapi dan terus berjalan menuju ruang makan karena ingin menikmati nasi goreng yang Juan beli untuknya. Nadira tidak sesedih dulu saat mengingat masa lalu karena Juan yang selalu ada di sampingnya.
Nadira baru tahu, Juan sama seperti Raihan.