
Nadira terbangun saat merasakan hempusan angin menerpa permukaan kulitnya. Matanya perlahan terbuka, dan pemandangan pertama yang Nadira lihat adalah wajah tampan Juan.
"Pagi, Juan." Nadira setengah sadar menyapa.
Tidak lama Nadira menyadari ada yang salah disini. Nadira terlonjak saat sepenuhnya sadar. Terlebih melihat Juan berada disampingnya.
"Pagi, kak." balas Juan dengan wajah polos.
"Kenapa aku tidur disini?" tanya Nadira pada dirinya sendiri. Tadi malam, Nadira berniat tidur di sofa setelah selesai menonton Bryan. Tapi kenapa sekarang Nadira tidur di kasur?
"Ini kan emang kamar kakak." Juan menimpali.
"Terus kenapa tadi malam kamu tidur disini kalau tahu kamar kakak?" tanya Nadira kesal.
Nadira mungkin akan disalahkan karena tidur bersama berondong. Apalagi Juan ini anak mamah, Nadira bisa dituduh macam-macam.
"Aku biasa tidur sama kakak aku di rumah."
Nadira pusing mendengar jawaban Juan, dan memilih untuk pergi ke kamar mandi mencuci muka. Juan hanya memandangi Nadira yang masuk kamar mandi sampai Nadira kembali ke kamar sambil memasang wajah polosnya.
"Kak, hari ini aku ada kelas siang. Anterin ya?"
Nadira mengabaikan Juan dan memilih duduk di sofa yang berada di kamarnya. Juan yang merasa diabaikan langsung mendekati Nadira.
"Kakak, anter aku ke kampus ya?" rengek Juan.
Kira-kira seperti ini saat Juan merengek, wajah Juan menempel di bahu Nadira dan membuat Nadira lemah seketika. "iya, nanti kakak anter."
__ADS_1
"Serius, kak?" Nadira hanya mengangguk saja.
"Kamu emang kayak gini ya ke semua orang?"
"Hah?" Juan mendongak menatap yang lebih tua. Nampaknya Juan tidak mengerti maksud Nadira. "kayak gini gimana maksudnya, kak?"
"Ck, nempel-nempel gini. Juan, kamu cowok."
"Ya, emang kenapa kalo aku cowok?" Nadira menghela nafas mendengar perkataan Juan.
"Kamu tahu gak sih kalo cewek hatinya mudah tersentuh? orang lain bisa salah paham nanti."
"Kenapa jadi bahas orang lain? aku nempelnya cuma ke kakak, karena aku suka sama kakak."
"Juan, kamu gak boleh nempel gini ke cewek karena dia bisa ngira kamu suka sama dia."
"Kan udah aku bilang, aku suka sama kakak." Sudut bibir Nadira terangkat mendengarnya sampai matanya tanpa sengaja melihat leher Juan dan membuat mata Nadira membulat.
Nadira memutar otak, berusaha mengingat apa saja yang terjadi tadi malam. Tapi yang Nadira ingat hanya dirinya yang ketiduran.
Juan terkekeh, padahal Nadira sedang panik. "Cuma digigit nyamuk, gak perlu segitunya."
Nadira mengerjap lucu, setidaknya begitu yang Juan lihat. "kenapa aku ngerasa kakak lebih muda dari aku ya? kakak lucu banget soalnya."
Nadira tidak tahu lucu yang Juan maksud, tapi sekarang dia malu dengan pikirannya sendiri.
"Ayo, turun. Kamu belum sarapan kan?" Nadira mengalihkan dan lebih dulu keluar dari kamar.
Juan yang pada dasarnya penurut, hanya pada Nadira. Mengekori wanita itu ke ruang makan.
__ADS_1
"Kak, tadi malam ..." Juan menggantungkan ucapannya karena Nadira yang dengan cepat membalikkan tubuh menghadap Juan. "Tadi malam kakak ketiduran sambil nonton Bryan. Kakak hampir jatuh, untung aja aku bangun."
Nadira menghembuskan nafas lega. Syukurlah tadi malam Nadira ketiduran. Itu artinya tidak terjadi apapun diantara mereka tadi malam.
Padahal,
"Kak Dira pasti mimpi makan daging sampe leher aku digigit." Juan bergumam dalam hati.
Sebenarnya yang menggigit leher Juan bukan nyamuk, tapi Nadira. Juan berniat membantu Nadira berbaring di kasur dan Nadira tiba-tiba menggigit leher Juan sampai memberi tanda di leher Juan. Tapi mungkin Nadira tidak ingat.
"Nona Dira udah bangun? mau sarapan apa?"
Perhatian keduanya teralihkan karena wanita setengah baya tiba-tiba menghampiri mereka.
"Eh? lagi ada tamu ya?" wanita setengah baya itu tersenyum ramah pada Juan. Yang dibalas hal serupa oleh pemuda kelebihan kalsium itu.
Nadira memiliki empat orang yang mengurus rumahnya. Ada satu satpam, satu orang yang bertugas di kebun, dan dua orang pembantu.
Ibu Endah -wanita setengah baya itu tidak full bekerja di rumah Nadira. Siang beliau sudah pulang. Makanya baru bertemu dengan Juan.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Nadira pada Juan. Ibu Endah terlihat menunggu jawaban. Tapi Juan terlalu lama berpikir dan membuat Nadira kesal. "Kenapa diem? apa cepetan?!"
Juan menyengir. "terserah kak Dira aja deh."
Nadira berdecak sebal. "Apa aja katanya, bu."
Ibu Endah mengangguk mengerti. Diam-diam wanita itu tersenyum melihat tanpa merah di leher Juan. "akhirnya nona Dira punya pacar."
Dahi Nadira berkerut menatap punggung Ibu Endah. Merasa ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1