Sugar Mommy

Sugar Mommy
39. Permainan orang jahat


__ADS_3

Nadira menghampiri sebuah meja dimana ada seorang pria sedang duduk disana, tapi pria itu bukan Juan atau Jefri. "udah datang daritadi?"


"Aku baru aja datang tadi." jawab pria di depan Nadira. Nadira mengangguk dan duduk. "maaf merepotkanmu, seharusnya aku yang kesana."


"Tidak apa-apa, kebetulan juga aku udah lama tidak mampir ke cafemu." pria itu memberikan sesuatu pada Nadira yang langsung wanita itu terima. "aku pikir kamu tidak butuh lagi obat."


"Aku sudah tidak mengkonsumsinya, tapi aku tetap butuh obat ini untuk jaga-jaga. Makasih karena sudah bersedia membawakan obat ini untukku dan maaf aku selalu merepotkanmu."


"Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu."


"Mau apa? aku akan mentraktirmu." pria yang tidak diketahui siapa itu terkekeh mendengar perkataan Nadira. "memang aku pernah bayar ya? pelayanmu saja sampai sungkan menagih bill padaku karena aku sering ditraktir olehmu."


"Kadang aku malu kesini, aku terlihat seperti orang yang datang untuk meminta traktiran."


"Tidah usah merendah, uangmu lebih banyak dariku." pria di depan Nadira kembali tertawa.


"Kamu tahu uangku lebih banyak, tapi kenapa kamu terus saja mentraktir ku?" tanya si pria.


"Kamu mau apa? aku akan meminta pelayan membuatkannya." ucap Nadira mengalihkan.


"Kamu masih belum berubah." kekeh si pria.


"Aku udah pesan sesuatu pada pelayan tadi."


"Oh, baiklah." Nadira memasukan obat yang si pria berikan padanya ke dalam saku, sebelum Juan melihat obat itu. Sebenarnya, Juan juga berada di cafe tapi Juan sedang pergi ke toilet.

__ADS_1


"Dimana anak itu?" si pria sepertinya mencari seseorang. "kamu tidak datang bersamanya?"


"Siapa, huh?" Nadira membalikan pertanyaan.


"Saingan bunda dan Jefri. Ah, itu dia anaknya."



Nadira melihat anak yang pria itu maksud dan ternyata yang dimaksud saingan adalah Juan.


"Kamu tidak tahu kan berisiknya bunda pulang dari pesta gara-gara dapet saingan baru lagi?"


Nadira tersenyum, tapi dengan tatapan sendu. "Padahal bunda tahu kalau aku pasien kamu."


"Karena bunda pernah ada diposisi kamu saat ini, jadi bunda bisa lebih menerima kondisimu."


Sangat sulit menemukan seseorang yang bisa menerima kondisi Nadira saat ini, bahkan Juan saja belum tentu menerimanya. Hanya wanita yang dipanggil bunda yang bisa menerimanya.


"Ingat yang aku katakan, berhenti mengingat hal-hal buruk dan kamu akan baik-baik saja."


"Iya, aku ingat." Nadira mengangkat wajahnya dan tersenyum. "tunggu sebentar, sepertinya anak yang kamu maksud sedang mencariku."


Pria itu hanya mengangguk, dan membiarkan Nadira pergi menghampiri anak yang menjadi saingan bundanya. "saingan aku kali ini lebih berat, karena dia berhasil mendapat hati Dira."


__ADS_1


Si pria -Naren menatap lurus pada Nadira yang menghampiri anak yang dianggap saingannya.


Naren datang ke cafe membawakan obat yang sudah diresepkan secara khusus untuk Nadira. Saingan Juan yang sesungguhnya bukan Jefri, tapi pria ini. Jefri bukan apa-apa dibandingkan Naren, karena Naren lebih tahu tentang Nadira.


Naren sahabat Nadira sama seperti Jefri. Tapi peran Naren dalam hidup Nadira lebih penting, karena Naren seorang dokter yang menangani kesehatan mental Nadira. Dan ada banyak hal yang Naren ketahui, tapi Jefri tidak tahu hal itu.


Jefri tahu Nadira depresi. Tapi Jefri tidak tahu kalau penyakit Nadira membuatnya tidak bisa mendapatkan hati wanita itu. Karena sebelum Nadira membuka hatinya, mamah Jefri sudah lebih dulu melarang Nadira mencintai anaknya.


Dan semua yang sudah Juan dengar dari Raka tidak tepat. Termasuk tentang restu orang tua Jefri. Sebenarnya restu itu tidak Nadira terima.


Raka tidak mengarang cerita, tapi memang itu yang Raka tahu dari orang tua Jefri. Raka tidak tahu kalau mamah Jefri hanya mengarangnya.


Sementara Naren, dia tahu segalanya. Bahkan Naren mengetahui semua yang tidak diketahui Jefri. Naren adalah saingan yang paling berat. Karena bunda Naren juga menyayangi Nadira dan bisa menerima kondisi mental wanita itu.


Naren tidak pernah jujur tentang perasaannya kepada Nadira dan bersembunyi dibalik nama sang bunda. Padahal Naren mencintai Nadira. Tapi Naren tetap menjadi saingan yang paling berat karena keluarga Naren menerima Nadira.


Nadira belum tentu diterima di keluarga Juan saat mereka tahu penyakit Nadira, tapi Naren memiliki keluarga yang bisa menerima Nadira. Menerima kondisi kesehatan mental wanita itu, tanpa memusingkan nama baik keluarga.


Bunda Naren pernah mengatakan. "jika nanti kamu tidak bertemu keluarga yang menerima kondisi mental kamu, jadilah menantu bunda."


"Kamu seperti ini karena kamu terluka, mereka yang takut dilukai olehmu adalah orang yang tidak pantas untuk menerima kebaikanmu dan tidak pantas hidup bersamamu. Mereka takut terluka, tapi tidak sadar sudah melukai orang."


Bunda Naren memiliki masa lalu yang hampir sama seperti Nadira dan memiliki sakit yang sama di masa lalu, makanya bisa menerima Nadira dan menerima kondisi Nadira saat ini.


"Tuan." suara itu memecahkan lamunan Naren. Seorang pelayan terlihat menaruh pesanannya keatas meja. "apa anda butuh yang lain, tuan?"

__ADS_1


"Tidak, terimakasih." tolak Naren sopan. Naren kembali melihat ke tempat Nadira setelahnya.


Naren melihat Nadira berbicara dengan anak yang diketahui bernama Juan dan Juan juga mencuri pandang padanya, sepertinya Nadira sedang membicarakan Naren sehingga Juan berkali-kali melihat Naren saat mereka bicara.


__ADS_2