
Suasana di ruang keluarga Adhiwijaya tidak bersahabat. Penyebabnya karena pemegang tahta tertinggi di keluarga itu terlihat marah.
"Mah, sebenarnya ada apa?" salah satu dari mereka bertanya alasan satu-satunya wanita disana bisa terlihat sangat marah sekarang.
"Iya, papah sama Javier sampai buru - buru pesan tiket pulang setelah dengar mamah marah-marah di telpon." timpal sang papah.
"Jericho mau bunuh orang." pernyataan itu membuat kedua pasang mata membulat.
"Mah!" Jericho -dalang yang membuat sang mamah marah protes karena tidak merasa berniat membunuh siapapun. Termasuk itu Nadira. "mamah percaya sama wanita itu?"
"Ya, mamah percaya! mamah lebih percaya Nadira daripada kamu!" jawab Rosa cepat.
"Mamah lebih percaya orang asing daripada anak mamah sendiri?!" tanya Jericho tidak menyangka. "mamah pasti bercanda, kan?!"
"Kalau kamu aja lebih membela orang asing daripada mamah. Kenapa mamah gak bisa?"
"Kirana pacar aku, mah. Bukan orang asing."
"Tapi bagi mamah Kirana cuma orang asing."
"Kirana gak seburuk yang mamah pikirkan!"
"Tapi Kirana juga gak sebaik yang kamu kira!"
"Mamah tenang dulu ya, aku takut nanti darah tinggi mamah kambuh." Javier menenangkan mamahnya yang sudah terlihat sangat emosi.
"Emang gak ada gunanya mamah lahirin anak. Kamu dan Jericho sama aja, kalian udah bikin mamah kecewa." ucap Rosa mulai menangis.
Rosa merasa gagal melahirkan Jericho dan Javier. Mereka sudah membuatnya kecewa.
Javier sudah berubah menjadi lebih baik, tapi itu juga setelah Javier merasakan kehilangan kekasihnya yang meninggal karena penyakit.
Javier sama seperti Jericho, pernah membuat mamah mereka kecewa karena kelakuannya.
"Aku gak niat ngebunuh wanita itu, mah. Apa mamah gak bisa percaya sama aku kali ini?"
__ADS_1
Nada bicara Jericho berubah lembut setelah melihat sang mamah menangis. "aku emang mau nabrak dia, tapi aku gak niat ngebunuh."
Javier menjambak rambutnya. Tidak mengerti dengan pemikiran kembarannya. Bisa-bisanya Jericho mengatakan tidak berniat membunuh, setelah mengakui ingin menabrak seseorang.
"Lo jenius darimananya sih gue tanya, Rich?"
"Kebanyakan maen di ranjang sama pacarnya, makanya otaknya gak beres." Rosa menimpali.
"Heran, ada gitu wanita yang pasrah dirusak?! oh, pacar kamu kan emang butuh uang juga!"
Adrian -selaku kepala rumah tangga di rumah Adhiwijaya hanya mampu menghela nafasnya.
Hal seperti ini sudah sering terjadi di rumah itu karena anak kembar mereka sering membuat masalah. Sangat beda dengan si bungsu Juan.
"Mah, bisa gak sih jangan bawa Kirana disini?"
"Kenapa?! kamu bisa kepikiran buat ngebunuh orang juga pasti karena pacar kamu itu kan?!"
"Gak salah kamu bilang hah?!" Rosa berteriak di depan wajah Jericho. "Kirana udah hampir ngebunuh Nadira? jangan bilang kamu lupa?!"
"Sebenarnya Nadira siapa? tolong bicarakan ini baik-baik. Jangan saling emosi bisa kan?"
"Nadira-"
"Dia wanita yang udah menyelamatkan nyawa mamah!" Rosa mendahului Jericho menjawab.
"A-apa?!" Jericho menatap Rosa tidak percaya.
"Empat bulan yang lalu, waktu kalian gak bisa mamah hubungi. Waktu mamah hampir mati, Nadira yang menyelamatkan nyawa mamah!"
"Mamah selalu berpikir, apakah wanita yang sudah menyelamatkan mamah masih hidup? lukanya parah, apa dia masih bisa pulang ke rumah waktu itu? dia tidak pingsan di jalan?"
Rosa memejamkan mata melihat bayangan Nadira yang terluka. "untungnya dia masih hidup, tapi Jericho berusaha membunuhnya."
__ADS_1
Adrian menatap Jericho yang ikut menangis setelah mendengar cerita mamahnya. "kamu ke ruangan papah, tunggu papah disana. Kita perlu bicara, sebelum papah ngehajar kamu."
"Pah-"
"Kalau kamu tidak berniat membunuh orang, seharusnya kamu juga tidak pernah berniat menabrak orang itu! kamu paham, Jericho?!"
"Tapi-"
"Javier, tolong telpon Juan. Cuma Juan yang bisa bikin mamah kamu tenang." titah Adrian.
"Baik, pah." Javier mengikuti perintah sang papah dan berusaha menghubungi adiknya.
Adrian menarik istrinya ke dalam pelukannya, karena hanya itu yang akan membuat Rosa tenang. Selain kehadiran Juan disampingnya.
"Papah bilang ke ruangan papah! sekarang!"
Jericho langsung pergi ke ruangan papahnya. Adrian jarang marah dibandingkan Rosa, tapi akan sangat menakutkan saat sedang marah.
Adrian beralih pada istrinya setelah melihat anaknya pergi. "mamah bisa istirahat kalau mamah capek. Biar papah yang urus Richo."
"Mamah gak perlu berdebat lagi sama Richo, papah bakal nasehatin Richo mulai sekarang."
"Oh ya, Nadira dimana sekarang? dia baik-baik aja kan? kapan-kapan kita ajak ke rumah ya?"
Begitulah cara Adrian menenangkan istrinya, hanya dengan perlakuan sederhana. Adrian selalu sibuk dengan pekerjaan. Adrian jarang memiliki waktu untuk bersama keluarganya.
Tapi setiap ada masalah keluarga, Adrian akan mengambil perannya layaknya seorang papah untuk ketiga anaknya dan suami untuk istrinya.
Rosa ibu rumah tangga. Rosa tidak memiliki pekerjaan lain selain mengurus anak dan juga rumah. Tapi Adrian tidak melimpahkan urusan mendidik anak pada Rosa yang ada di rumah.
Adrian menyuruh Jericho ke ruangan kerjanya bukan semata-mata untuk memarahi Jericho.
Adrian hanya tidak ingin istrinya terlalu stress berhadapan dengan Jericho yang tidak pernah sejalan pikirannya dengan sang ibu. Hanya itu.
__ADS_1