Sugar Mommy

Sugar Mommy
38. Terbalas


__ADS_3

Nadira paling tidak suka memberi penjelasan. Tapi Nadira juga tidak bisa membiarkan Juan salah paham. Juan tidak sampai menjauhinya dan masih bersikap seperti biasa, tapi rasanya ada yang mengganjal di hati Nadira sekarang.



Nadira berdiri disamping Juan dan menatap pemuda yang sedang mencuci piring bekas makan mereka. Nadira bingung bagaimana memulainya, karena sepertinya Juan sudah lupa dengan pembicaraan mereka di taman.


"Kakak duluan aja ke kamar. Nanti aku nyusul habis ini." Juan bicara tanpa menatap Nadira karena sedang mencuci piring bekas mereka.


"Kita ke kamar bareng, kakak tungguin kamu sampai selesai nyuci piringnya." seru Nadira.


Juan hanya melihat Nadira sebentar sebelum kembali pada piring kotor. "keliatannya kakak mau ngomong sesuatu? mau ngomong apa?"


"Nanti aja kita ngomong kalau udah selesai."


Juan tidak mengatakan apapun lagi dan sibuk mencuci piring. Mereka sudah sepakat, setiap malam Nadira yang memasak dan Juan yang mencuci semua bekas makan malam mereka.


Juan terlalu payah membantu Nadira masak, makanya Juan memilih untuk mencuci piring supaya mereka juga sama-sama melakukan pekerjaan dan supaya Nadira tidak kelelahan.


"Sekarang udah selesai, kakak mau ngomong apa hum?" Juan menghadapkan dirinya pada Nadira setelah selesai mencuci semua piring.


"Jangan salah paham." hanya itu yang Nadira katakan. Membuat Juan kebingungan disana.


"Jangan salah paham?" ulang Juan bingung.


"Yang di taman ..." Nadira menarik nafasnya sejenak sebelum kembali bicara. "ada yang perlu kakak omongin biar gak salah paham."


"Iya, tapi apa yang mau kakak omongin hum?"


"Ini soal sikap kakak sama kamu selama ini ..."

__ADS_1


Juan terdiam, menunggu Nadira selesai bicara karena masih belum mengerti maksud wanita itu. Tapi Nadira malah ikut diam, dan membuat mereka terjebak dalam suasana hening dalam seperkian detik sampai akhirnya Juan bicara.


"Kakak sebenernya mau ngomong apa, eoh?"


"Kakak bukan gak bisa balas perasaan kamu."


"Jadi kakak mau bilang suka sama aku, gitu?"


Juan terkekeh, berusaha menetralkan suasana yang mendadak aneh semenjak mereka mulai berbicara dan menyinggung kejadian di taman.


Juan sebenarnya tahu apa yang ingin Nadira bahas, tapi Juan sama sekali tidak mengerti setiap kalimat yang Nadira ucapkan padanya.


"Ayo, ke kamar." ajak Nadira tanpa menyangkal ataupun mengiyakan pertanyaan Juan. Nadira berniat pergi ke kamar, tapi Juan menahannya.


"Becanda, kak. Kakak mau ngomong apa hm?"


Tangan Juan melingkar di pinggang ramping Nadira supaya wanita itu tidak pergi ke kamar.


"Kakak gak perlu sungkan, aku janji bakal jadi pendengar yang baik buat kakak." tambahnya.


"Kakak cuma mau jelasin sesuatu, biar kamu gak salah paham sama sikap kakak." kalimat yang hanya bisa Nadira ucapkan dalam hati.


"Kakak kepikiran sama pertanyaan aku huh?"


Juan kembali terkekeh dan kali ini mengusak puncak kepala Nadira. "jangan dipikirin, kak. Aku nanya gitu karena kesel aja sama kakak."


"Gak ada yang salah sama sikap kakak ke aku selama ini, aku yang terbawa perasaan sama omongan kakak. Tapi kakak jangan khawatir, aku udah ngerti maksud kakak ngomong gitu."


"Kamu ngerti?" Juan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Iya, ngerti. Maaf, udah bikin kakak kepikiran."


"Apa yang kamu ngerti?" tanya Nadira dengan tangannya yang memegang lengan Juan yang melingkar di pinggangnya dan menatap mata Juan. "kamu bohong kan? kakak bisa jelasin-"


Nadira menghentikan ucapannya karena Juan tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membuat wanita itu duduk di meja dapur dengan mudah.


"Kakak gak perlu jelasin apapun, cukup jangan dorong aku buat suka sama cewek lain karena aku cuma sayang sama kakak. CUMA KAKAK."


Juan sengaja menekan dua kata terakhir. Juan pergi begitu saja saat di taman karena ucapan Nadira memang membuatnya kesal. Ada yang lebih pantes dapetin hatinya, Nadira berusaha mendorong Juan selama ini karena alasan itu.


"Kakak sayang sama kamu, tapi kamu pantes dapet yang lebih baik dari kakak." Juan ingat Nadira membisikan itu saat mereka menginap.


Nadira mengira Juan sudah tidur saat itu, tapi sebenarnya Juan belum tidur dan mendengar semuanya. Perasaan Juan terbalaskan, tapi wanita yang dicintainya merasa tidak pantas dicintai. Itu yang membuatnya merasa kesal.


Nadira meminta Juan supaya tidak cuek pada juniornya dan tidak melukai perasaannya, tapi bagaimana dengan perasaan Nadira sendiri?!


Nadira menyayangi Juan, artinya Nadira bisa terluka kalau Juan memperdulikan juniornya. Nadira mungkin berpikir juniornya lebih muda dan lebih pantas, tapi tidak berlaku bagi Juan.


Juan hanya mencintai Nadira dan akan tetap seperti itu. Tidak peduli sebaik apapun wanita lain diluaran sana, Nadira akan tetap menjadi yang terbaik dihati Juan sampai kapanpun itu.


"Aku tahu kakak udah bales perasaan aku, jadi kakak gak perlu jelasin apapun ke aku. Kakak juga bingung kan mau ngejelasinnya gimana?"


Juan tersenyum mengingat perkataan Nadira saat menginap di rumah orang tuanya, dan itu membuat dahi Nadira berkerut. "kenapa heh?"


Nadira ngeri melihat Juan tiba-tiba tersenyum sendiri, padahal tidak ada hal lucu bagi Nadira.


Nadira berniat menjelaskan pada Juan bahwa sikapnya tidak ada hubungannya dengan apa yang dirinya katakan pada Juan di taman, tapi Juan mengatakan hal yang sulit untuk dicerna dan tiba-tiba tersenyum. Sungguh mengerikan.


Juan menggelengkan kepala. "ayo, ke kamar."

__ADS_1


Nadira tersentak saat Juan menggendongnya seperti koala menuju kamar. Sepertinya Nadira terlalu ringan sampai Juan dengan mudahnya mengangkat tubuhnya menuju kamar mereka.


__ADS_2