
Juan berbaring sambil menatap langit - langit kamar. Kemudian menoleh pada wanita yang berbaring di sampingnya, yang sedang scroll media sosial. Tepatnya media sosial idolanya.
"Kak." panggil Juan membuat Nadira menoleh.
"Kenapa?" tanya Nadira melihat Juan terdiam setelah memanggilnya. "cuddle? sini deketan."
Sebenarnya Juan hanya memanggil, tapi tetap mendekati Nadira karena Nadira memintanya.
"Kakak tidur lama banget tadi siang." keluhnya.
"Biasanya juga kakak tidur kamu tetep cuddle."
Juan terdiam. Tidak salah, Juan biasa cuddle meskipun Nadira dalam keadaan mengantuk atau bahkan ketika Nadira tidur. Tapi sebelum cuddle, Juan selalu meminta ijin pada Nadira.
Tidak mungkin Juan meminta ijin saat Nadira tidur, Juan akan ijin sebelum Nadira ketiduran.
"Aku udah minta mamah ngelamar kakak buat aku." ucap Juan setelah sekian lama terdiam.
Nadira hampir melupakan mamah Juan. Saat Juan dirawat di rumah sakit, wanita cantik itu meminta pada Nadira untuk menjaga anaknya.
Nadira bingung. Bagaimana bisa mamah Juan meminta Nadira menjaga Juan setelah Nadira membuat Juan minum wine. Tapi Nadira tidak ambil pusing dan tidak memikirkan alasannya.
Kadang memikirkan alasan terhadap tindakan orang lain akan membuat kepala Nadira sakit, makanya Nadira memilih tidak memikirkannya.
"Tadinya aku mau ngajak kakak ketemu papah, tapi kakak malah tidur." Juan memeluk Nadira, dengan kepala yang bersandar pada dadanya.
Posisi yang paling nyaman untuk Juan adalah ketika kepalanya bersandar pada dada Nadira. Karena Juan bisa mendengarkan nafas Nadira sekaligus merasakan jantung Nadira berdetak.
"Kalau becanda jangan bawa-bawa orang tua."
Nadira memainkan rambut Juan, dan menutup layar ponselnya karena tidak ada yang menarik di ponselnya, belum ada postingan baru Bryan.
__ADS_1
"Aku serius, kakak!" Juan mengangkat sedikit kepalanya dan menatap Nadira. "mamah juga setuju aku ngelamar kakak, tapi nunggu lulus."
"Gimana kalau kamu lulus kakak udah nikah?"
"Emang ada cowok yang ngajak kakak nikah?"
"Gak ada. Tapi siapa tahu Bryan ngajak nikah."
"Dasar jomblo!" maki Juan kesal. Dan kembali bersandar pada dada Nadira. "Bryan juga gak bakalan mau tuh nikah sama kakak." rajuknya.
Nadira hanya bisa tertawa mendengar rajukan Juan. Sepertinya Juan sangat kesal sekarang.
"Kakak bakal ngejar Bryan terus sampe dapet."
"Gak usah halu deh, kak. Ada aku yang sayang sama kakak juga. Ngapain ngarepin si Bryan?"
Nadira semakin tertawa dibuatnya. Dan tanpa sadar mencium puncak kepala Juan, memeluk gemas tubuh pria yang lebih besar darinya itu.
"Tapi mending kamu jangan mikirin nikah deh, kakak umur segini aja belum mikir buat nikah."
"Makanya mulai sekarang kakak harus pikirin."
"Ngapain dipikirin? nikah itu bikin pusing tahu!"
"Kak Dira udah pernah nikah, huh?" tanya Juan.
"Mending kamu tidur, daripada ngomongin itu."
"Aku gak bisa tidur." Juan memeluk erat Nadira dan menyamankan posisinya. "aku belum siap ditinggal nikah sama kakak, jangan nikah dulu ya sebelum aku bisa ikhlasin kakak?" pintanya.
"Iya, kakak juga gak bakal nikah." seru Nadira.
__ADS_1
"Kakak harus nikah. Gapapa kalau kakak gak mau nikah sama aku, tapi kakak harus nikah."
Nadira tidak menjawab. Dan hanya berbicara dalam hati. "apa kita gak bisa kayak gini terus tanpa harus nikah? kamu gak ngerti, Juandra. Nikah cuma mimpi buruk buat kakak." lirihnya.
"Kakak bukan gak mau nikah sama kamu, tapi kakak emang gak mau nikah." Nadira kembali berbicara dalam hatinya. Entah kenapa Nadira merasa tidak sanggup untuk bicara sekarang.
"Kak Dira pasti cantik pake gaun pernikahan."
Juan sadar sedekat apapun mereka sekarang, pada akhirnya Nadira akan bertemu pria yang nantinya akan menjadi tujuan dalam hidupnya.
Juan juga sadar jantung Nadira tidak berdetak untuknya. Juan bisa merasakannya saat Juan memeluknya seperti saat ini. Tapi, Juan tetap berharap Nadira bisa membalas perasaannya.
Juan tidak tahu kapan waktu itu datang, yang bisa Juan lakukan hanya menunggu. Seperti Jefri yang bertahun-tahun menunggu Nadira.
"Aku bakal jadi salah satu orang yang ngeliat kakak pake gaun pernikahan, entah sebagai mempelai atau saksi." Juan sedikit terkecat ketika mengucapkan kalimat terakhirnya itu.
"Aku pasti bahagia kalau kakak juga bahagia."
Nadira menghela nafasnya. "kakak gak bakal nikah kecuali nikah sama kamu, jadi udah ya?"
"Kakak kayak lagi ngehibur anak kecil aja. Ish."
"Kamu emang anak kecil buat kakak, Juandra." tanggap Nadira mengacak-acak rambut Juan.
Juan menahan tangan Nadira yang ada diatas kepalanya kemudian menggenggamnya. Juan tidak keberatan Nadira menganggapnya anak kecil, kenyataannya Nadira lebih tua dari Juan.
"Kakak tahu gak?" Juan kembali mengangkat wajahnya dan menatap mata Nadira. Mereka berdua sudah biasa dengan jarak sedekat itu. Meskipun kurang wajar, tapi begitulah mereka.
"Apa? jangan aneh-aneh, nanti kakak tendang."
"Aku suka denger kakak manggil aku Juandra."
__ADS_1
Nadira tidak memberi tanggapan, sudah lelah mendengar kata suka keluar dari mulut Juan.