Sugar Mommy

Sugar Mommy
21. Dejavu


__ADS_3

Rosa merasa dejavu melihat wanita muda di depannya. Apalagi keadaannya hampir sama seperti empat bulan yang lalu. Wanita muda bernama Nadira itu terluka dibagian dahinya.


Rosa terdiam setelah melihat Nadira karena sebuah alasan. Ternyata orang yang tinggal bersama Juan adalah orang yang selama ini Rosa cari, orang yang pernah menolongnya.


Empat bulan yang lalu, Rosa dihadang oleh orang tidak dikenal saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Kebetulan saat itu suami dan ketiga anaknya susah sekali dihubungi.


Rosa sudah pasrah waktu itu, tapi untungnya ada wanita muda yang menolong Rosa. Dan wanita muda itu Nadira. Kebetulan waktu itu Nadira melewati jalan dimana Rosa dihadang.


Nadira berhasil melumpuhkan banyak orang dengan tangannya sendiri. Tapi, salah satu dari mereka berhasil melukai Nadira sampai dahi wanita itu mengeluarkan banyak darah.


Rosa sudah mengajak Nadira untuk pergi ke rumah sakit, tapi Nadira menolak ajakannya. Padahal luka di dahi Nadira cukup parah, tapi Nadira tidak ingin diantarkan ke rumah sakit.


Nadira bahkan langsung mengendarai mobil, tanpa peduli darah yang keluar dari dahinya. Rosa tidak sempat berterimakasih, makanya selama ini Rosa mencari keberadaan Nadira.


Siapa sangka, ternyata Nadira juga menolong Juan dan memberi Juan tempat untuk tinggal. Bahkan, Nadira membela Juan saat ada yang membentak Juan dan membuat Juan terjatuh.


"Apa tidak sebaiknya kamu obati luka kamu?"


"Saya baik - baik saja." sama persis. Dulu juga Nadira mengatakan hal yang sama saat Rosa mengajaknya ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Bedanya dulu luka Nadira lebih parah.


"Kak Dira." Nadira menoleh melihat orang yang memanggil namanya. Ternyata orang itu Raka.


"Eoh, kakak luka?" Jefri langsung memeriksa keadaan Nadira mendengar wanita itu terluka.


"Kenapa kamu bisa luka?" tanya Jefri khawatir. "jawab! siapa yang udah bikin kamu luka gini?"


"Mending obati dulu luka kak Dira deh, bang."

__ADS_1


Jefri mengikuti saran Raka. Tanpa basa - basi pria itu pergi mencari obat. Nadira tidak akan mau diobati oleh pihak rumah sakit, makanya Jefri sendiri yang akan mengobati luka Nadira.


"Dimana Juan? emang bener Juan pingsan?"


"Iya, tadi pingsan. Sekarang masih diperiksa sama dokter." Raka menganggukkan kepala mengerti. Meskipun belum tahu yang terjadi.


"Tadi Juan minum wine, kayaknya dia alergi."


Nadira melihat kearah Rosa saat mengatakan itu, begitu juga Raka yang ikut menatap Rosa.


"Serius Juan minum wine?" tanya Raka tidak menyangka. Yang Raka tahu, Juan tidak suka minum alkohol. "kok bisa Juan minum wine?"


"Juan minum wine punya kakak." jelas Nadira.


"Kakak kenapa minum wine? bukannya kakak juga gak pernah minum minuman beralkohol?"


"Iya. Saya mamahnya." ucap Rosa menjawab pertanyaan dokter. "bagaimana kondisi anak saya? Juan baik-baik aja kan, dok?" desaknya.


"Anak anda baik-baik saja. Tapi masih belum sadarkan diri. Kalau boleh tahu, apa makanan dan minuman yang terakhir dikonsumsi oleh anak anda? sepertinya dia mengalami alergi."


Benar dugaan Nadira. Juan mengalami alergi.


Nadira tidak suka mengkonsumsi alkohol, tapi pernah membaca beberapa artikel di internet mengenai alkohol. Secara umum, alkohol akan bereaksi setelah kurang lebih sekitar satu jam.


Bisa lebih cepat kalau kadar alkoholnya tinggi. Tadi Juan baru beberapa menit, tapi langsung bereaksi. Ditambah ruam merah di kulit Juan.


"Juan meminum wine." Raka bantu menjawab karena Rosa terlihat ragu untuk menjawabnya.

__ADS_1


Dokter mengangguk mengerti. "sekarang saya belum bisa memastikan apa benar alergi atau bukan. Saya masih harus memeriksanya lebih lanjut untuk memastikannya." info sang dokter.


"Baiklah, saya percayakan semua pada dokter. tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Anda tidak perlu khawatir, itu sudah menjadi tugas saya." dokter itu tersenyum ramah. Dan tatapannya terkunci pada luka di dahi Nadira.


"Anda terluka?" dokter bertanya pada Nadira "kalau mau, saya bisa mengobati luka anda."


Sebenarnya itu hanya basa-basi. Karena tanpa ditanya, dahi Nadira memang terluka. Lukanya lumayan serius, banyak darah keluar dari dahi wanita itu. Bahkan tangannya juga berdarah.


Nadira kurang nyaman mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi masih berusaha untuk netral.


"Terimakasih. Saya bisa mengobatinya nanti."


"Oh, baiklah. Tapi sebaiknya luka anda segera anda obati supaya tidak infeksi." saran dokter.


"Saya mengerti. Makasih." Nadira tersenyum.


Dokter mengangguk singkat. Dan berpamitan untuk pergi. " kalau begitu saya permisi, kalian bisa memanggil saya atau memanggil suster yang bertugas kalau ada apa - apa." pamitnya.


Kewajiban dokter mengobati orang, tapi kalau orang itu tidak ingin diobati, dokter juga tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi Nadira terlihat enggan diobati, dokter tidak bisa memaksa.


Rosa ingin mengajak Nadira masuk ke dalam ruangan Juan dan melihat kondisi Juan, tapi Jefri datang diwaktu yang kurang tepat. Rosa akhirnya memasuki ruangan Juan sendirian.


"Maaf lama." Jefri kembali dengan membawa peralatan serta obat-obatan untuk mengobati luka Nadira. "aku bantu obatin luka kamu ya?"


Nadira tidak mungkin bisa menolak kalau Jefri yang mengobati lukanya. Sehingga dia hanya pasrah membiarkan Jefri mengobati lukanya.

__ADS_1


__ADS_2