
"Kak Dira beneran lagi tidur kan?" tanya Juan menatap Nadira yang sepertinya masih betah berada di alam mimpi. Bahkan Nadira sampai melewatkan makan siangnya karena tertidur.
"Raihan datang ke mimpi kakak ya sampe gak mau bangun? atau kakak udah terlalu capek?"
Nadira hanya tidur. Tapi tidurnya terlalu lama dan membuat Juan khawatir. Karena terlalu lama tidur tidak baik untuk kesehatan Nadira.
Juan tidak mengerti tentang medis, tapi dokter yang pernah merawat Javier -kakak Juan- dulu mengatakan tidur bisa berdampak serius pada kesehatan seseorang, makanya Juan khawatir.
"Sebentar lagi waktunya makan malam, masa kakak gak makan lagi sih?" Juan terus bicara seolah Nadira mendengar semua ucapannya.
Juan sudah mencoba membangunkan Nadira, bahkan sampai berkali-kali dan Nadira hanya mengatakan akan bangun sebentar lagi. Tapi sampai sekarang Nadira masih belum bangun.
"Kak Dira." Juan menepuk pelan lengan Nadira. Berharap Nadira akan membuka matanya, dan hasilnya nihil. Nadira sama sekali tidak terusik.
Juan memikirkan cara supaya Nadira bangun. Nadira belum makan seharian, perutnya pasti akan sakit kalau dibiarkan tidur tanpa makan.
"Kak, bangun. Kita makan dulu ya?" ujar Juan lembut. Tangannya bergerak mengusap surai Nadira. "kakak tidur lagi nanti setelah makan."
"Kak Dira." Juan begitu sabar membangunkan Nadira. Meskipun Nadira susah dibangunkan.
"Hm?" akhirnya usaha Juan membangunkan Nadira berbuah hasil. Nadira membuka mata dan langsung mengambil posisi untuk duduk.
Juan tersenyum melihat Nadira menggaruki kepalanya yang Juan yakini tidak gatal. "aku temenin cuci muka mau? kali ini jangan tidur lagi, aku udah daritadi loh bangunin kak Dira."
Nadira menatap Juan dengan matanya yang masih mengantuk. Nadira sudah lama tidur, tapi badannya masih membutuhkan istirahat.
"Iya, bawel!" Nadira turun dari tempat tidurnya dan berniat mencuci muka. Tapi Nadira oleng karena tubuhnya masih lemas dan menabrak Juan sampai posisi keduanya sedikit ambigu.
Nadira berada diatas tubuh Juan dengan bibir yang saling bersentuhan. Mereka cukup lama dalam posisi itu karena sama - sama terkejut.
__ADS_1
Mata mengantuk Nadira menghilang, matanya menjadi sangat lebar saking terkejutnya. Juan juga sama terkejutnya, matanya membulat dan jantung pemuda itu rasanya hampir melompat.
"Maaf ..." Nadira bangun dari atas tubuh Juan, bersikap seolah tidak terjadi apapun dan pergi untuk mencuci muka. Sangat berbeda dengan Juan yang wajahnya kini mirip kepiting rebus.
"Kak Dira sadar gak kalau kita ciuman?" Juan bermonolog melihat Nadira yang menghilang dibalik pintu kamar mandi. "gak bisa dibilang ciuman sih, tapi tadi bibir aku dan kak Dira ..."
"Argghhh, jantung aku." Juan histeris dengan tangannya yang memegang dadanya dimana jantungnya berada. "kenapa gak bisa tenang sih? padahal kak Dira nya keliatan biasa aja!"
Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, Nadira keluar dari sana dan menghampiri Juan yang masih berbaring diatas ranjang. "ayo, bangun."
"Kamu mau makan, kan? ayo!" Juan menatap tangan Nadira yang terurur kearahnya. Tanpa menyambut tangan itu, Juan akhirnya bangun.
"Kakak gak bakalan kuat bantuin aku bangun."
"Ck. Udah bagus ya kakak mau bantuin kamu."
Mereka tetap Nadira dan Juan. Apapun yang terjadi, tidak akan mampu mengubah mereka. Bahkan mereka bersikap seolah tidak terjadi apapun, dan melupakan tragedi ciuman tadi.
Kejadian itu mungkin masih membekas dalam ingatan Juan dan Nadira, tapi tidak membuat mereka canggung. Mereka masih saling bicara dan kejadian tadi hanya dianggap kecelakaan.
"Kakak mau masak?" Juan mengekori Nadira yang sedang mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. "kakak beneran mau masak huh?"
"Kamu lapar kan?" tanya balik Nadira. "karena kakak males nyetir, kita makan di rumah aja."
"Gak minta tolong Bu Ijah buat masak? kakak kan baru aja bangun. Masa masak sih?" Juan mengambil sayuran hijau dari tangan Nadira.
"Kamu gak suka sama masakan kakak, hoh?"
"Suka kok." jawab Juan cepat. "aku cuma takut kakak Kenapa-kenapa kalau langsung masak."
__ADS_1
Nadira menghela nafas mendengarnya. "kakak cuma mau masak, Juan. Lagian, Bu Ijah kerja disini cuma buat beresin rumah bukan masak."
"Ya, gapapa. Aku yakin Bu Ijah gak keberatan."
Nadira menatap yang lebih tinggi darinya, dan membuat mereka saling bertukar pandangan.
"Yaudah, aku bantuin kakak masak ya? jangan natap aku kayak gitu. Mata kakak bisa keluar."
Nadira mengalihkan pandangannya dari Juan dan kembali mengambil bahan makanan dari kulkas. "jangan bikin dapur kakak berantakan."
"Iya, aku tahu kok." sahut Juan. "kakak paling gak suka kalau dapur kakak berantakan kan?"
"Kakak juga gak suka kalau kamu udah mulai berlebihan." sambung Nadira. Berlebihan yang Nadira maksud adalah cara Juan menjaganya.
Karena,
"Hati - hati sama pisau, nanti kakak bisa luka."
"Awas minyak, bahaya kalau kena kulit kakak."
"Aku bilang juga hati - hati, kak Dira. Astaga!"
"Kakak duduk aja, biar aku yang goreng ikan."
Begitu yang akan Nadira dengar setiap Juan membantunya memasak. Dan dapur Nadira pasti akan berantakan karena Nadira terlalu pusing dengan segala ocehan Juan di dapur.
Mereka pasangan yang akan membuat orang lain iri, meskipun kenyataannya mereka belum terikat status seperti pasangan diluaran sana.
Lagipula, status hanyalah tanda kepemilikan.
__ADS_1