
"Ho.. bintangnya udah gak ada?" gumam Juan saat matanya terbuka, tapi sudah tidak adalagi bintang di kamar Raihan. "karena udah siang?"
Juan melihat matahari sudah terik, Juan tebak mereka bangun kesiangan. Iya, mereka. Nadira belum bangun, masih tertidur disamping Juan.
Juan mengubah posisinya menjadi duduk, dan terdiam sebentar karena harus mengumpulkan nyawanya. Setelah terkumpul, Juan turun dari tempat tidur dan memperbaiki selimut Nadira.
"Aku ke kamar kakak bentar ya." pamit Juan, meski tahu Nadira tidak akan mendengarnya.
Juan kemudian keluar dari kamar Raihan dan pergi ke kamar Nadira yang terletak disebelah kamar Raihan. Juan memasuki kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Di kamar Raihan ada kamar mandi, tapi sabun cuci muka dan sikat gigi Juan berada di kamar Nadira. Sehingga Juan pergi ke kamar Nadira.
Setelah Juan selesai mencuci muka dan juga menggosok giginya, Juan mendengar ponsel Nadira berdering. Suaranya berisik, membuat Juan penasaran siapa yang menelpon Nadira.
Jefri incoming call...
Juan menatap layar ponsel Nadira yang saat ini menampilkan panggilan masuk dari Jefri sampai layar itu mati. Tapi tidak lama ponsel itu kembali berdering, dan orang yang sama menelpon Nadira seolah menuntut diangkat.
"Udah mau tunangan, kenapa masih nelpon kak Dira?" gumam Juan. Juan tidak cemburu atau apapun, tapi Jefri sudah memiliki calon tunangan dan seharusnya Jefri tahu batasan.
Jefri menelpon Nadira sampai ada dua puluh dua panggilan tidak terjawab dari Jefri. Yang artinya Jefri menghabiskan paginya dengan menelpon Nadira. Apa Jefri tidak berlebihan?!
Juan menghela nafasnya, mendengar ponsel Nadira berdering untuk yang kesekian kalinya. Dan masih dengan penelpon yang sama juga. "mending aku matiin aja deh, biar gak berisik."
Juan benar - benar mematikan ponsel Nadira, supaya ponsel itu berhenti berdering. Setelah ponselnya mati, Juan mengembalikan ponsel itu dan menyimpannya di tempat yang sama.
"Maaf..." Juan menggumamkan kata itu dalam hatinya. Juan tidak bermaksud apa - apa, tapi bukankah ada hati yang harus Jefri jaga? Jefri akan membuat Nadira berada dalam masalah kalau Jefri dibiarkan terus - terusan seperti ini.
__ADS_1
Juan kembali ke kamar Raihan, melihat wanita yang masih tertidur pulas diatas kasur. Karena jam sarapan sudah lewat dan perut Juan lapar, Juan kembali keluar kamar mencari makanan
"Tuan baru bangun? mau sarapan?" Ibu Endah menyapa Juan saat pemuda itu pergi ke dapur.
"Iya. Ada makanan apa, bu? aku laper banget."
"Ada pancake, mau? atau tuan mau yang lain?"
"Pancake kak Dira ya? kalau gak salah kemarin kak Dira minta dibuatin banana pancake, kan?"
"Iya. Pancake nona Dira, tapi Ibu bikin banyak."
"Tapi itu punya kak Dira, aku makan buah aja."
"Nona Dira tidak akan marah pancakenya tuan makan." Juan tersenyum mendengarnya. Juan tahu Nadira tidak akan marah, tapi Nadira saja belum memakan pancake yang diinginkannya.
Ibu Endah tersenyum melihat Juan memakan buah apel di meja makan. Melihat Juan, tidak mungkin pemuda itu menjamah tubuh Nadira.
Tapi, Ibu Endah menemukan benda yang biasa digunakan pasangan saat melakukan kegiatan panas di ranjang di tempat sampah bulan lalu.
Ibu Endah tidak ingin berpikiran buruk tentang Juan, tapi Ibu Endah pernah memergoki Juan mencium dan menggendong Nadira ke kamar.
"Kenapa, bu?" tanya Juan menyadari Ibu Endah terus menatapnya. Ibu Endah menggeleng dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena kehadiran Juan. "aku disini untuk bekerja, tidak perlu dipikirkan, fokus saja dengan pekerjaan."
Juan bingung, merasa tatapan Ibu Endah tadi berbeda dari biasanya. Seperti ada yang salah dari Juan saat ini, tapi Juan tidak tahu apa itu.
"Selamat pagi." sapa Nadira membuat pikiran Juan teralihkan, wanita itu mengambil air dari kulkas dan meminumnya. Tapi Nadira terlihat belum mengumpulkan nyawa sampai Nadira salah mengambil minum dan meminum soda.
__ADS_1
Juan terkekeh melihat Nadira berekspresi lucu setelah meminum soda. Kulkas dekat dengan meja makan dan posisi Juan sekarang sedang menghadap kearah kulkas, sehingga Juan bisa melihat wajah wanita itu. "ada-ada aja sih kak."
Juan menghampiri Nadira yang masih berdiri di depan kulkas dan merebut minuman soda dari tangan wanita itu. "lain kali gak usah beli lagi, kak Dira kan gak suka minuman bersoda."
"Kakak beli buat kamu, bukannya kamu bilang enak?" Juan tidak langsung menjawab, malah mengangkat Nadira, membuatnya terduduk di meja makan. "emang enak, tapi gak usah beli."
"Kenapa?" Juan dan Nadira saling melempar pandangan, tanpa sadar ada Ibu Endah yang diam-diam memperhatikan mereka dari dapur.
"Kakak haus kan? aku ambil minum dulu buat kakak." Juan mengambil minum untuk Nadira.
"Kakak baru Bangun, jangan minum air dingin."
Juan memberikan air dari galon pada Nadira yang langsung diterima oleh wanita itu. Juan itu selalu memastikan Nadira memperhatikan kesehatannya dan bawel untuk hal seperti ini.
"Kata mamah kamu lagi?" tanya Nadira, tapi tetap menuruti Juan dan meminum air putih dari Juan tanpa menunggu Juan menjawab.
"Iya. Kata calon mertua kakak baru bangun gak boleh minum air dingin, karena gak baik buat kesehatan." Juan memperjelas. "kakak harus dengerin, demi kesehatan kakak juga."
Kalau Nadira wanita lain, mungkin wanita itu sudah blushing sekarang. Tapi Nadira terlihat biasa saja dan masih minum dengan tenang.
"Kakak belum cuci muka dan gosok gigi kan?"
"Iya. Bangun tidur kakak haus, jadi langsung kesini." jawab Nadira dengan muka bantalnya.
"Kalau gitu aku anter kakak ke kamar buat cuci muka dan gosok gigi, setelah itu kita sarapan. Bu Endah bikin banana pancake buat kak Dira."
Juan kembali mengangkat tubuh Nadira dan menggendongnya ala koala ke kamar mereka. Sangat wajar kalau Ibu Endah sampai berpikir macam-macam tentang mereka, karena yang terlihat memang membuat orang lain curiga.
__ADS_1
Juan dan Nadira pasti pernah tidur bersama.