Sugar Mommy

Sugar Mommy
08. Perbedatan kecil


__ADS_3


"Kakak kan nyuruh kamu istirahat, bukan main handphone." Nadira mengingatkan barangkali Juan lupa. "kamu denger kakak gak sih, Juan?"


"Hehe." Juan menyengir, bukannya menjawab pertanyaan Nadira. "kakak kayak mamah aja."


Nadira merotasi matanya. "main handphone di kamar kamu sana. Kamu ganggu kakak tahu?"


"Aku daritadi cuma main handphone loh, kak."


"Kamu ganggu privasi kakak. Sana ke kamar."


"Kakak masih marah gara-gara aku gak nerima mobil dari kakak? ayo, ngaku!" interogasi Juan.


"Kan tadi kakak udah bilang, kakak gak marah."


"Terus kenapa kakak usir aku huh? kemarin aja kan kita tidur bareng. Ngaku aja kakak marah."


"Terserah kamu, kakak pusing." ketus Nadira.


"Tuh kan! bener kakak marah sama aku!" Juan menyimpan ponselnya dan mendekati Nadira.


"Gimana kalau gini aja, mobilnya punya kakak tapi nanti sesekali aku pinjem mobilnya? aku gak mau kakak marah kayak gini dan usir aku."


"Kamu mau kita terus-terusan tidur bareng?"


"Ya, emang kenapa? kasurnya muat kok, kan kakak kecil." Nadira memijat pelipis pening.


"Kakak beneran pusing? sini aku bantu pijitin."


Nadira menolak dengan halus saat Juan akan memijat kepalanya. "gak usah, terimakasih."


"Juan, kakak gak marah. Tapi kita emang gak bisa tidur bareng terus. Kamu harus ngerti."

__ADS_1


"Tapi aku gak biasa tidur sendirian, kak Dira."


"Kalau gak bisa, kenapa kabur dari rumah?"


"Aku diusir, kak. Astaga." Juan putus asa.


"Siapa suruh kamu sok - sok an balapan?"


Juan memelas. Menunjukkan mata kucingnya yang seolah meminta diberi makan. "Ayolah, kak. Aku bener-bener gak biasa tidur sendiri."


"Kamu gak takut kakak apa - apain kamu?"


"Emang kakak mau ngapain aku?" sudahlah, bicara dengan Juan hanya membuat lelah.


"Aku percaya kakak orang baik, kakak gak bakal apa - apain aku." Juan terlihat yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.


"Kakak tetep mau ngusir aku dari sini, huh?"


"Ayo, tidur." tutup Nadira yang berarti Nadira membiarkan Juan kembali tidur di kamarnya.


"Aku boleh tidur disini?" tanya Juan antusias yang hanya dijawab gumaman oleh Nadira.


"Sebenernya kakak yang takut aku apa - apain kan?" tanya Juan membuat Nadira membuka kembali matanya, dan menoleh kearah Juan yang sudah membarikan tubuh disebelahnya.


"Kakak tidurnya mepet banget kesana. Kakak gak takut jatuh? sini deketan. Aku gak bakal apa - apain kakak kok." Juan menarik Nadira supaya mendekat. "kakak bisa percaya sama aku, aku gak bakal berani apa - apain kakak."


"Besok kamu ada jadwal ke kampus?" seperti biasa, Nadira mengalihkan pembicaraan. Dan itu berarti Nadira sudah tidak ingin membahas topik sebelumnya. Atau menghindari topik itu.


"Gaada. Kenapa hm?" Juan menatap Nadira.


"Besok kakak mau ke cafe, kamu mau ikut?"


"Hm, boleh?" Nadira mengusak rambut Juan.

__ADS_1


"Ya, boleh. Kan kakak nawarin." kekeh Nadira.


Juan ikut tersenyum melihat Nadira tertawa. "maaf, kak. Aku takut kangen kalau jauh dari kakak. Aku janji gak bakal macem-macem."


Juan tidak sepolos itu, dan dia cukup mengerti maksud Nadira. Tapi Nadira orang paling tulus yang pernah Juan temui setelah keluarganya, Nadira tidak akan melakukan apapun padanya.


Juan memiliki kakak kembar, kedua kakaknya sering berganti-ganti pasangan. Bahkan Juan pernah tanpa sengaja melihat adegan panas salah satu kakaknya bersama sang kekasih.


Juan juga pernah hampir di apa-apain wanita, lebih tepatnya kekasih kakaknya sendiri. Tapi wanita itu dan Nadira sangat berbeda. Sangat kecil kemungkinan Nadira melakukan hal itu.


Juan memang belum lama mengenal Nadira, dan mungkin Juan terlalu cepat menilai wanita itu. Tapi Juan yakin pandangannya terhadap Nadira tidak salah. Nadira wanita yang baik.


"Kamu gak kepikiran buat pulang ke rumah?"


"Sekarang kakak mau usir aku dari rumah ini?"


"Kakak cuma nanya, siapa tahu kamu kangen sama mamah kamu." jawab Nadira seadanya.


"Kangen sih, tapi aku gak mau jauh dari kakak." Juan ingin sekali mengatakan itu pada Nadira, tapi kalimat itu hanya terucap dalam hatinya.


"Baru kemarin aku pergi, masa pulang? lagian kan posisi aku diusir, bukan kabur dari rumah."


"Tapi mungkin mamah kamu kangen sama kamu." mereka cukup lama saling menatap sampai akhirnya Juan memberi tanggapan.


"Mamah kalau kangen pasti minta aku pulang, tapi mamah gak ngehubungi aku sama sekali."


"Tapi mamah kamu pasti seneng kalau kamu pulang." Juan merasa ini pengusiran secara halus. Dan Juan benar-benar kesal dibuatnya.


"Aku istirahat duluan, biar besok ikut kakak ke cafe." setelahnya Juan memunggungi Nadira.


Juan masih bisa merasakan Nadira memberi pembatas diantara mereka, dan menyimpan bantal guling ditengah tempat tidur mereka.


"Selamat malam, Juan." Nadira bicara pelan setelah menarik selimut menutupi sebagian tubuh mereka dan mematikan lampu kamar.

__ADS_1



__ADS_2