Sugar Mommy

Sugar Mommy
51. Datangnya pengacau


__ADS_3

"Kenapa, Juan?" tanya Nadira melihat Juan terdiam di depan pintu. Seperti ada sesuatu yang menahan pemuda itu untuk keluar villa.


Juan menunjuk sesuatu. Tidak, dia menunjuk dua orang yang berdiri di depan villa mereka.


"Kakak kamu kan?" tanya Nadira lagi. Melihat punggung orang yang kini membelakanginya.


Juan mengangguk lemas. "iya, kak Richo dan kak Ana. Gak tahu deh mereka mau ngapain."


"Mereka berdua mau liburan disini, mungkin?"


Juan terdiam. Mungkin benar mereka liburan, tapi kenapa mereka harus liburan ke puncak?!


Maksud Juan, masih banyak tempat lain kan? kenapa mereka memilih dipuncak yang sama?


Juan merasa mereka tidak benar-benar ingin liburan, dan mungkin mereka ingin mengacau.


"Kenapa lagi? ayo, bukannya mau jalan-jalan?"


Hari terakhir di puncak, Juan mengajak Nadira untuk jalan-jalan. Hanya disekitar villa mereka.


Juan tidak bosan di villa bersama Nadira, tapi akan lebih baik kalau mereka jalan-jalan keluar.


Juan ingin mereka menikmati liburan, seperti yang biasa pasangan lain lakukan. Hanya itu.


Bagi Nadira mungkin ketenangan itu adalah liburannya, tapi Juan ingin memberi hal lain.


"Hm, iya." Juan menggandeng tangan Nadira.


"Tunggu." Nadira menahan langkahnya ketika mulai menyadari sesuatu. "sedang apa kalian disini? dan darimana kalian tahu kami disini?"


Juan menatap Nadira. Sepertinya wanita itu baru menyadari maksudnya. Juan juga tidak tahu kenapa Jericho dan Kirana bisa disana.


Juan memang ijin liburan ke puncak, tapi dia tidak memberitahu orang tuanya tempatnya. Bagaimana Jericho dan Kirana bisa disana?


Nadira baru bangun. Mungkin kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul tadi dan baru berhasil terkumpul sekian menit setelahnya.


Kedua orang yang semula sedang menikmati pemandangan itu berbalik menghadap Nadira.


"Benar kalian disini?" Kirana tersenyum saat melihat Juan berdiri di hadapannya sekarang.


Nadira mendecih pelan. Kirana terlalu jelas menunjukkan bahwa dirinya menyukai Juan.

__ADS_1


Nadira kemudian menatap Jericho. Rasanya ingin sekali memaki pemuda itu, karena tidak menyadari Kirana menyukai adiknya sendiri.


"Kenapa natap gue kaya gitu?" tanya Jericho melihat tatapan tidak biasa Nadira padanya.


"Kalian belum jawab pertanyaannya saya."


Jericho menghela nafas. "kita liburan disini."


Nadira melipat tangannya menatap Jericho. "liburan ya?" ulangnya. "okey, kalian liburan disini. Tapi kenapa kalian ada di villa saya?!"


"Gaada lagi villa disini, kalau boleh kita mau ikut nginap disini." Kirana berbohong karena sebenarnya mereka sengaja datang kesana.


Jericho awalnya menolak, tapi karena Kirana terus memohon akhirnya mereka ke puncak dan mereka mencaritahu dimana villa Nadira.


"Saya bisa carikan villa lain kalau kalian mau."


"Gak." tolak Kirana. "maksud gue, gak perlu repot-repot nyari villa buat kita." tambahnya.


"Terus kalian mau menginap di villa saya huh?"


"Boleh ya, Juan?" bukannya menjawab, Kirana malah meminta persetujuan Juan. "kalian juga cuma berdua kan? gapapa kali nambah orang."


Juan tidak menjawab. Karena selain villanya milik Nadira, Juan malas berbicara dengan wanita yang berstatus kekasih kakaknya itu.


Nadira menarik paksa tangan Juan untuk pergi dari sana, membiarkan Kirana maupun Jericho melakukan apapun yang mereka ingin lakukan.


Juan pasrah tangannya ditarik Nadira. Tidak ada hal lucu yang terjadi, tapi sudut bibirnya tertarik saat memandangi punggung Nadira.


"Tuh cewek pasti sengaja mau ganggu kita."


"Udah punya pacar, masih aja ngejar kamu."


"Kamu lihat kan gimana muka Kirana tadi?"


"Kelihatan banget dia masih ngarepin kamu."


Sudut bibir Juan semakin tertarik mendengar perkataan Nadira. Apalagi tahu Nadira kesal.


"Dia sesuka itu ya sama kamu sampe nyusul kesini?" Nadira menghentikan langkah saat mendengar pemuda di belakangnya tertawa.


"Kenapa ketawa?" Nadira memicing menatap yang lebih muda darinya. "ada yang lucu hoh?"

__ADS_1


Juan berdehem dan berhenti tertawa. "maaf."


"Kamu keliatan seneng Kirana nyusul kesini."


"Siapa bilang? aku biasa aja kok." elak Juan.


Tapi, karena Juan tidak berhenti tersenyum, Nadira berpikir Juan senang Kirana datang.


"Yakin biasa aja?" tanya Nadira ketus. "terus kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?!"



Juan berusaha untuk berhenti tersenyum, tapi gagal. Juan tidak bisa menahan senyumnya.


"Berhenti senyum, Juan." Nadira mulai kesal.


"Iya-iya, aku berhenti senyum. Tapi kak Dira berhenti dulu bikin aku gemes. Aku gak kuat."


"Kakak daritadi diem aja." balas Nadira datar.


Memang dasarnya Juan bucinnya sudah tidak tertolong, alias bucin akut. Melihat wajah datar Nadira saja Juan gemas dan tersenyum lebar.


"Udah ya, kak. Aku beneran gak kuat ngeliat kakak." Juan menarik Nadira ke pelukannya.


"Aku senyum bukan karena kak Ana nyusul kesini, tapi kak Dira lucu kalau lagi cemburu."


Nadira terdiam dalam pelukan Juan. Memang terlihat jelas sedang cemburu ya? tapi Nadira tidak cemburu, hanya agak kesal pada Kirana.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka -di depan villa -Kirana melihat semuanya dan tangannya terkepal melihat mereka pelukan.


Jericho menyadari itu, sepertinya sekarang sudah jelas alasan kekasihnya memintanya menyusul Juan ke puncak, Kirana menyukai Juan. Kenapa Jericho baru menyadarinya?!


Selama ini, Kirana sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya peduli pada Juan, seharusnya dari dulu Jericho menyadari perasaan Kirana.


Kirana juga peduli pada Javier, tapi kepedulian yang Kirana tunjukan terhadap Javier berbeda dengan kepeduliannya terhadap Juan selama ini. Dan bodohnya Jericho baru menyadarinya.


"Sayang, kita pulang aja ya? Nadira juga gak mungkin ngijinin kita buat nginap di villa nya."


"Kita udah disini, masa langsung pulang sih?"


"Tapi Nadira-"

__ADS_1


"Persetan sama Nadira." ucap Kirana menyela Jericho. "aku gak bisa pergi gitu aja dari sini."


Well, bukankah semua semakin jelas? Kirana itu hanya tidak ingin Juan berduaan dengan Nadira, bukan takut Nadira macam - macam.


__ADS_2