Sugar Mommy

Sugar Mommy
40. Tidak terkendali


__ADS_3


Naren tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pemuda yang saat ini sedang sibuk melayani pelanggan. Pulang kuliah langsung membantu Nadira di cafe, sungguh luar biasa pemuda itu.


"Kenapa kamu melihat dia terus daritadi, eoh?"


"Dia tampan." jawab Naren membuat Nadira memicing padanya. Sungguh suatu hal yang tidak biasa mendengar pria memuji pria lain.


"Kamu tidak belok kan?" tanya Nadira curiga.


Naren menyentil kening Nadira karenanya. "ini pasti karena kamu keseringan baca novel BL."


"Ck. Aku hanya bercanda." sahut Nadira kesal. "lagipula apa hubungannya dengan membaca novel? aku membacanya hanya untuk hiburan."


Sebenarnya Nadira tidak suka membaca novel, karena kadang emosinya tidak terkendali saat membaca novel. Tapi Nadira sudah beberapa kali membaca novel boys love. Nadira merasa kisah dalam novel boys love tidak masuk akal, tapi lebih menarik daripada bergenre romantis.


Nadira tidak menyukai konflik yang sering ada di novel romantis. Apalagi novel romantis yang pemeran wanitanya selalu terima saat disakiti. Meskipun berakhir saling mencintai, tapi novel yang seperti itu hanya membuat Nadira emosi.


Nadira tidak suka dengan novel yang pemeran prianya terlewat sempurna, tampan, kaya dan memberikan segalanya pada pemeran wanita. Karena Nadira tahu pria seperti itu hanya ada di novel, dan susah ditemukan di dunia nyata.


Hey! Nadira normal. Nadira merasa aneh saat tahu ada karyawannya yang gay. Dan tentang membaca novel boys love, itu sebatas hiburan. Nadira saja membeli saham karena pria, tidak mungkin kalau Nadira mencintai sesama jenis.


"Kamu juga pernah mengira Jericho menyukai Juan kan?" Nadira tidak bisa membantahnya.


Well, alasan Nadira mengetahui siapa Jericho dan tahu Jericho ingin mencelakainya karena campur tangan Naren yang mencari informasi.


Nadira memiliki uang untuk membayar orang yang bisa mencari informasi, tapi Naren yang mengetahui siapa yang bisa memberi mereka informasi dan mengenalkannya pada Nadira.


Naren benar-benar pria yang bisa diandalkan dan selalu membantu Nadira dalam banyak hal. Sosok yang pantas berada disamping Nadira.


"Kamu tidak mau kembali ke rumah sakit ya?"

__ADS_1


Bukan apa-apa, tapi jam makan siang Naren sudah lewat daritadi. Naren anak dari pemilik rumah sakit, tapi dia tetap memiliki tanggung jawab terhadap pasien-pasien di rumah sakit.


"Kamu mengusirku, huh?" tepat disaat Naren dan Nadira saling bertukar pandangan, Juan melihat kearah mereka. Nadira memberitahu Juan siapa Naren, tapi Juan masih cemburu.


Penjelasan Nadira tentang Naren sama sekali tidak bisa mengatasi rasa cemburu Juan saat melihat mereka saling memandang seperti itu.


"Pasienmu pasti sedang menunggumu, tuan."


"Iya iya, aku kembali ke rumah sakit sekarang."


"Hati-hati dijalan." Naren menatap Nadira tidak percaya karena sikap manisnya. "astaga, lihat. Kamu terlihat mengerikan bersikap seperti itu."


Nadira mengeraskan rahang menatap Naren karena Naren selalu saja seperti itu padanya. Naren dokter yang baik untuknya, tapi Naren juga sering bersikap menyebalkan seperti ini.


"Bercanda." ucap Naren mengacak-acak poni Nadira. "aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik."


"Hm. Kamu juga." Naren hanya mengangguk sebelum melangkahkan kakinya keluar cafe.


Juan kembali sibuk melayani pelanggan cafe, kebetulan ada pelanggan yang memanggilnya dan meminta menambah pesanan pada Juan.


Nadira melihat Juan yang sibuk melayani dan meminta pelayan lain untuk menggantikannya. Tidak lama Juan datang menghampiri Nadira.


"Kenapa, kak?" tanya Juan saat menghampiri Nadira. Juan sama sekali tidak menunjukkan dirinya sempat dibuat cemburu karena Naren.


"Ayo, pulang. Kamu capek kan?" Juan bahkan masih bisa menunjukkan senyumannya saat Nadira bicara padanya. Tidak seperti laki-laki lain yang sedang cemburu pada pasangannya.


"Sebentar, aku ambil tas dulu." Juan kemudian berlari pergi mengambil tasnya yang disimpan di meja kasir. Tidak lama Juan kembali dengan membawa tas dan menyambar tangan Nadira.


"Ayo." ajak Juan menggandeng tangan Nadira.


Juan tanpa sengaja membuat botol obat dari saku hoodie Nadira terjatuh saat mereka akan melangkah keluar dari cafe. Nadira buru-buru mengambil obatnya dan memasukan obat itu ke dalam sakunya lagi sebelum Juan melihat.

__ADS_1


"Kak ..."


"Ayo, pulang." Nadira berjalan lebih dulu keluar dari cafe untuk menghindari pertanyaan Juan.


Juan yang melihatnya bergegas mengejarnya. "kak, tadi obat kan? kakak sakit? kak Dira ...!?"


Nadira menghentikan langkahnya mendengar Juan berteriak. Baru kali ini Juan meninggikan suara dan itu membuat Nadira sedikit terkejut.


Nadira tidak ingin Juan mengetahui obat itu, tapi Nadira juga tidak mungkin menghindari Juan. Nadira tidak akan bisa melakukannya.


Juan mendekati Nadira dan kembali meraih tangan wanita itu. "maaf ya, tadi aku teriak."


Nadira berusaha mengatur emosinya sendiri dan berbalik menatap Juan. "kakak gak sakit, ini cuma vitamin. Bisa kita pulang sekarang?"


Nadira tidak bisa mendengar suara keras dan bentakan. Hampir saja emosinya naik karena mendengar Juan berteriak tadi, tapi emosinya seketika mereda hanya dengan melihat Juan.


Juan dengan cepat mengangguk. "iya, ayok pulang. Sekali lagi maaf, karena aku teriak."


Juan berteriak karena Nadira berjalan sangat cepat dan tidak mendengarkan perkataannya. Sebenarnya Juan bisa bertanya di mobil, tapi Juan tidak kuasa menahan rasa khawatirnya.


Juan melihat botol yang berisi banyak obat, bagaimana bisa Juan tidak khawatir? Juan saja baru melihat seseorang memiliki obat sebanyak itu disaat orang itu terlihat sehat.


Juan tidak terkendali sampai berteriak pada Nadira, dan Juan sangat menyesali itu. Juan tidak berniat berteriak, tapi itulah yang terjadi.


"Hm." Nadira menyatukan jemari mereka dan menarik Juan untuk berjalan kearah parkiran.


Juan tidak salah, Nadira yang terlalu sensitif terhadap suara keras. Karena suara-suara itu membuatnya mengingat bentakan papahnya.


Nadira ingin sekali berteriak saat mendengar suara-suara keras, tapi Nadira menahan diri. Karena tidak akan ada yang memakluminya.


Juan menatap Nadira yang menatap lurus ke depan. Juan pasti sudah menyakiti perasaan Nadira, dan itu membuatnya menyesal sudah meninggikan suaranya. "maafin aku ya, kak."

__ADS_1


__ADS_2