
"Kak, aku mau pulang. Disini gak bisa cuddle."
"Disini kasurnya juga sempit, gak bakal muat buat kita tidur. Nanti kita dempet-dempetan."
"Aku gak sakit, aku cuma butuh cuddle sama kakak. Kita belum cuddle seharian loh, kak."
"Aku kangen cuddle sama kakak." Juan terus merengek meminta cuddle. Padahal sedang ada suster di ruangannya. "kak ... pulang ya?"
"Suster, bisa kasih dia obat tidur gak? kepala saya pusing dengerin dia ngomong daritadi."
Suster hanya tersenyum. Menurutnya pasien yang satu ini lucu. Apalagi hubungan antara pasien dan wanita yang menjaganya. Sangat lucu. Orang lain pasti akan iri melihat mereka.
"Jahat banget sih, kak. Ish." Juan merengut.
"Emang!" timpal Nadira. "tidur aja kenapa sih?"
"Kakak mau kita tidur dempet-dempetan huh?"
"Ya nggak. Kamu aja yang tidur." jawab Nadira.
"Kakak tahu kan aku gak bisa tidur sendirian?"
"Iya, makanya sekarang kakak disini nemenin kamu." Nadira dengan enteng menjawab Juan.
"Maksud aku, aku mau kita tidur satu ranjang. Aku bakalan cepet sembuh kalau kita cuddle."
"Bukannya barusan kamu bilang gak sakit ya?"
Juan cemberut karena ada saja alasan Nadira untuk menolaknya. "bilang aja kakak gak mau."
Suster hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mereka. Ada-ada pasangan yang satu ini. "saya sarankan, sebaiknya anda istirahat. Karena tubuh anda belum sepenuhnya pulih."
"Kamu denger sendiri kan suster bilang apa?"
"Iya." jawab Juan meskipun sedikit terpaksa.
"Tapi kakak deketan kesini dong, kepala aku pusing. Mau senderan di bahu kakak bentar."
__ADS_1
Sebelum Nadira menanggapi, suster memilih untuk pergi dari sana. "saya permisi ya, nona."
"Terimakasih, suster." ucap Nadira sebelum suster benar-benar pergi dari ruangan Juan.
"Kak Dira." panggil Juan karena Nadira masih berada di tempatnya. Yang lumayan jauh dari Juan. "kepala aku beneran pusing loh ini, kak."
Nadira menghela nafas. "kamu jangan kayak gituh di depan orang bisa gak sih?" cibirnya.
"Kakak malu?" Juan memasang wajah polos.
"Kesannya kita kayak pasangan mesum tahu gak sih?" Nadira tidak henti-hentinya mencibir.
"Kakak bilang apa barusan?" Juan salah fokus oleh satu kata yang baru saja Nadira ucapkan.
"Apa?! mesum?" Juan tertawa melihat Nadira kesal. Padahal bukan kata itu yang dimaksud.
"Kakak tadi bilang kita pasangan, gak salah? kita pasangan?!" Juan salah tingkah sendiri.
"Tapi kita ini best couple, kakak pendek, aku tinggi. Cocok banget loh kita." tambah Juan.
"Kakak telpon mamah kamu ya? kakak udah gak sanggup nemenin kamu soalnya." Juan terkekeh mendapatkan ancaman seperti itu.
"Mamah kamu tadi ngasih sebelum pulang."
"Beneran kakak punya nomor mamah aku?!"
"Iya, kenapa? mau kakak telpon mamah kamu sekarang buat nemenin kamu?" tawar Nadira.
Juan menggeleng. "kakak udah dapet nomor telpon mamah, tinggal restunya yang belum."
"Hah?" Juan menyengir melihat reaksi Nadira.
"Kakak beneran gak mau kesini ya? apa perlu aku yang nyamperin kakak, hm?" tanya Juan.
Akhirnya, Nadira menghampiri Juan di tempat tidurnya dan duduk disamping Juan. Membuat Juan tersenyum dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang dicintainya itu.
"Cepet nyari pacar deh, biar kamu gak manja."
__ADS_1
"Gak mau! aku kan maunya nikah sama kakak."
"Kasihan anak kakak kalau papahnya kamu."
"Harusnya bangga dong bukan kasihan, kak."
"Kamu bilang senderan bentar, habis itu tidur."
Nadira sengaja mengalihkan karena tidak ingin meneruskan obrolan mereka, apalagi sekarang sudah malam dan waktunya Juan untuk tidur.
"Bentar, kak." Ucap Juan masih betah dengan posisi mereka sekarang. "kepala aku pusing."
"Lagian, kamu sok-sokan banget minum wine."
"Daripada kakak yang minum kan?" Juan tidak masalah sakit. Asalkan Nadira disampingnya.
"Oh ya, kening kakak beneran baik - baik aja?"
"Iya, cuma lecet dikit kok." Nadira berbohong.
Dahi Nadira mengenai meja yang terbuat dari kaca, bagaimana mungkin hanya lecet sedikit. Nadira berdarah cukup banyak, tapi memang tidak bereaksi layaknya orang yang kesakitan.
Nadira benar - benar dididik keras oleh orang tuanya. Dulu, Nadira akan dipukul setiap kali melakukan kesalahan dan masih ada banyak hal yang membuat Nadira sampai seperti ini.
Alasan Nadira bisa sangat marah mendengar Jericho membentak Juan, karena Nadira tidak bisa mendengar suara bentakan. Nadira akan terpancing emosi mendengar suara bentakan.
Apalagi kalau bentakan itu tertuju pada orang yang dekat dengan Nadira. Maka Nadira akan sangat marah. Dan saat itu itu terjadi, Nadira tidak segan - segan menggunakan tangannya.
"Kakak bikin aku takut tahu gak?" curhat Juan.
"Bukannya kamu suka ngeliat kakak marah?"
"Nggak. Bukan itu." Juan mengangkat sedikit kepalanya dan menatap mata Nadira. "kakak selama ini gak jujur sama yang kakak rasain."
Juan kembali menyandarkan kepalanya dibahu Nadira. Juan melihat Nadira berkaca-kaca, tapi Juan langsung berpura- pura tidak melihatnya.
Juan tahu Nadira berusaha menutupi lukanya, makanya Juan memilih untuk pura-pura tidak melihat luka Nadira. Yang akan Juan lakukan hanya berusaha memberi Nadira kebahagiaan.
__ADS_1