
"Kamu lucu banget waktu kecil." Juan menoleh mendengar Nadira memujinya. Nadira sedang menatap selembar foto dan dalam foto itu ada foto Juan bersama kakaknya saat masih SMP.
Juan dan kakaknya hanya berbeda dua tahun, dan ketiganya sama-sama SMP saat itu. Rosa sengaja memfoto mereka saat mereka belajar.
Rosa hamil saat si kembar masih berusia satu tahun lebih tujuh bulan. Sebenarnya kehamilan keduanya itu adalah sebuah ketidaksengajaan, karena ada kesalahan dalam program KB-nya.
Tapi, Rosa tetap menyayangi anaknya dengan sepenuh hatinya. Meskipun Rosa sempat tidak yakin mampu menangani anak kembarnya dan juga seorang bayi, tapi nyatanya Rosa mampu.
Bahkan, sekarang Juan menjadi anak andalan bagi Rosa setelah anak kembarnya membuat malu nama keluarga dengan kelakuan mereka.
"Kakak dapet foto itu darimana?" Juan kembali fokus ke jalanan setelah melihat foto siapa itu.
Mobil sport hitam Nadira baru saja keluar dari perkarangan rumah Adhiwijaya, dengan Juan yang mengendarai mobilnya. Juan dan Nadira berniat membeli sarapan sebelum jalan-jalan.
"Dari mamah kamu." jawab Nadira yang terus melihat foto Juan bersama kakak kembarnya.
"Yang ditengah Javier ya?" Juan mengangguk tepat disaat Nadira yang menoleh kearahnya.
"Kak Javier beda banget kan sama sekarang?"
"Gak kok, menurut kakak Javier tetep ganteng. Masih ganteng Bryan sih, tapi Javier lumayan ganteng." Nadira mengutarakan pendapatnya.
"Iya, menurut kakak emang cuma Bryan yang ganteng. Padahal masih gantengan juga aku."
"Kalian sama - sama ganteng." Nadira dengan cepat menyahut dan membuat Juan menoleh.
"Gak ikhlas banget itu ngomong gantengnya."
"Emang ngomong ganteng ikhlas itu gimana?"
__ADS_1
Juan mengangkat bahunya. Tidak lama Juan menghentikan mobilnya di depan minimarket. "kita sarapan roti sama susu gapapa ya, kak?"
"Iya, terserah kamu." Nadira kembali menatap foto Juan bersama kakak kembarnya. Gemas melihat Juan kecil dalam foto itu sampai tidak sadar sudah membuat Juan dewasa cemburu.
"Jangan diliatin terus, nanti kakak suka sama kak Javier." ucap Juan tenang. Berusaha tidak menunjukkan bahwa dirinya sedang cemburu.
"Kakak ngeliatin kamu kok bukan kakak kamu."
Juan salah tingkah saat Nadira tiba-tiba saja menatapnya sambil tersenyum manis. Juan buru-buru menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya yang terkunci. "tunggu disini, aku beli roti dan susu bentar ke minimarket."
"Kamu bawa uang- Juan!? kenapa bocah itu?"
Nadira ikut turun dari mobil karena khawatir Juan tidak membawa uang. Apalagi baginya Juan itu anak orang kaya yang sedang diusir oleh orang tuanya, yang tidak memiliki uang.
"Kakak kok kesini? aku kan udah minta kakak nunggu di mobil!" Juan melihat sekitar untuk memastikan tidak ada laki-laki disekitar sana.
Dan saat melihat ada laki-laki berjalan kearah mereka, Juan buru-buru menarik Nadira pergi. "kakak emang susah aku bilangin ya? astaga!"
Juan menyeret Nadira kesana kemari, hanya untuk menghindari laki-laki di minimarket itu. Juan juga asal saja mengambil roti dan susu.
"Maaf, kak. Aku gak sengaja." Juan mengecek pergelangan tangan Nadira karena wanita itu mengeluh sakit. Dan ternyata pergelangannya merah gara-gara Juan terlalu kuat menariknya.
Nadira tersenyum ketika melihat kekhawatiran dan penyesalan di wajah Juan. "gapapa, kakak becanda aja tadi. Tangan kakak gak sakit kok."
"Maaf ..." Juan mengusap pergelangan tangan Nadira dan meniupnya supaya tidak sakit lagi.
Juan meringis saat mengingat celana Nadira yang kependekan dan melihat laki-laki berdiri dibelakang Nadira sekarang. "ayo, kita bayar."
Juan berdiri dibelakang Nadira, sengaja ingin menghalangi Nadira dari pandangan laki-laki dibelakang mereka. Dan ternyata laki-laki itu menyadari pergerakan Juan yang agak aneh.
"Kenapa sih? gue cuma mau ngambil minum juga, anjir!" Juan membuat laki-laki itu kesal. Apalagi Juan sepertinya tidak peduli dengan semua jomblo yang berada di minimarket itu.
__ADS_1
Juan meledek para jomblo dengan memeluk Nadira dari belakang saat sedang mengantri untuk membayar. Ya, meskipun sebenarnya Juan hanya melindungi Nadira dari laki-laki.
"Kenapa kakak ngikutin aku kesini sih, hum?"
Juan berbisik lembut di telinga Nadira tanpa memperdulikan tatapan orang-orang saat ini.
Kebetulan minimarket itu sedang ramai oleh pengunjung, banyak yang sedang mengantri untuk membayar. Kebetulan sekali Juan dan Nadira berada di barisan kedua paling depan.
"Kakak takut kamu gak bawa uang, makanya kakak ngejar kamu kesini." jawab Nadira jujur.
"Aku bawa uang, kok. Kan kakak yang ngasih."
"Ya, siapa tahu aja habis . Atau kamu lupa gak bawa uangnya. Kakak mau nanyain, tapi kamu udah keburu pergi dan masuk ke minimarket."
Oke, berarti Juan yang salah disini. Juan tidak mungkin menyalahkan Nadira karena Nadira tidak menuruti perkataannya. Karena Nadira hanya takut kalau Juan tidak membawa uang.
Juan menaruh dagunya di bahu Nadira sambil menunggu giliran untuk membayar belanjaan. Tanpa memperdulikan orang dibelakang yang menjadi emosional melihat mereka seperti itu.
"Mereka gak bisa mesra - mesraan di tempat lain? seenggaknya gak di depan gue!" laki-laki itu adalah orang yang melihat Juan saat akan mengambil minum. Juan membuatnya kesal dengan bermesraan, tepat di depan matanya.
Jomblo memang agak sensitif melihat orang lain bermesraan di depan mereka. Begitu pun dengan laki-laki di belakang Juan dan Nadira.
Apalagi Juan memang tidak pernah mengenal tempat saat manja atau posesif pada Nadira.
"Lain kali tetep di mobil ya, kak. Kan aku bisa balik lagi ke mobil kalau aku lupa bawa uang."
"Tapi kan sekarang kakak udah terlanjur disini."
"Iya, makanya aku tadi bilang lain kali kak Dira."
"Iya, bawel." sahut Nadira menggandeng Juan saat mereka selesai membayar belanjaannya
__ADS_1
"Aku bawel karena kakak pake celana pendek."
Setelahnya, mereka keluar dari minimarket dan meninggalkan laki-laki yang emosional melihat mereka. Bahkan sampai menghentakkan dua kaleng minuman diatas meja kasir karenanya.