
Pelajaran yang Kirana ambil dari acara pesta waktu itu, dia sudah berurusan dengan orang yang salah. Karena ternyata orang dibelakang Nadira bukanlah orang - orang sembarangan.
Kirana hampir mendekam di penjara karena ternyata Nadira mengenal seorang anggota polisi yang waktu itu juga menghadiri pesta.
Dan yang mengesalkan, ternyata Nadira suka berpura-pura baik dan juga lebih gila darinya.
"Berhentilah macam-macam. Kita ini sesama wanita, aku tidak memiliki alasan untuk tidak menghajar wajahmu." itu adalah kalimat yang tidak akan Kirana lupakan sampai kapanpun.
Nadira berlagak seperti malaikat di hadapan orang lain, tapi membisikkan itu pada Kirana.
"Dia mahasiswa, kalau aku membiarkan dia masuk penjara berarti aku menghancurkan masa depannya. Tolong bebaskan saja dia, yang terpenting aku baik-baik aja sekarang."
Kirana menggeram mengingatnya. Nadira itu manusia bermuka dua menurutnya. Si busuk yang berpura-pura menjadi malaikat di depan orang lain dan ingin mengambil Juan darinya.
"Sayang." suara itu membuat lamunan Kirana pecah. Jericho akhirnya tiba di apartemennya.
Kirana melangkah cepat menghampiri Jericho dan langsung memberikan ciuman bertubi-tubi pada bibir kekasihnya itu. "hey! kamu kenapa?"
Jericho hampir saja kewalahan karena Kirana tidak terkendali. Jericho terbiasa menghadapi kekasihnya yang seperti ini dan Jericho hanya mengikuti alurnya. Dan membalas seperlunya.
"Aku merindukanmu." Kirana berbisik setelah menghujani Jericho dengan banyak ciuman.
Jericho tersenyum. "aku juga merindukanmu."
Mereka baru bertemu setelah pesta waktu itu, karena Kirana dikurung di rumah orang tuanya.
Alasan Kirana mengatakan orang dibelakang Nadira bukanlah orang sembarangan, karena memang Nadira di backing orang-orang hebat dan salah satu orang itu adalah bos papahnya.
Kirana dimarahi habis-habisan karena Kirana berniat membunuh Nadira, sampai berujung Kirana tidak diperbolehkan keluar dari rumah selama beberapa hari ini, sangat memuakkan.
Papah Kirana pulang ke rumah mereka hanya untuk marah dan memerintah saja, membuat Kirana merasa sangat muak pada papahnya.
Kirana mengalungkan tangannya di leher sang kekasih. Awalnya, Kirana dan Jericho sekedar saling menatap satu sama lain, tapi kemudian mereka kembali berciuman dan saling meraba. Berakhir Jericho membawa Kirana ke ranjang.
__ADS_1
"Aku kesini untuk menjemputmu ke kampus."
"Aku malas pergi ke kampus." dan setelahnya kedua insan itu kembali saling bercumbu dan melepas rasa rindu mereka setelah beberapa hari mereka tidak bertemu gara-gara Nadira.
...****************...
Pasangan lain duduk berhadapan supaya bisa saling memandang, tapi itu tidak berlaku bagi Juan dan Nadira. Mereka berdekatan supaya mereka saling memandang dalam jarak dekat.
Sebenarnya itu hanya prinsip Juan yang selalu ingin berdekatan dengan Nadira. Juan seperti tidak kenal apa itu jarak saat bersama Nadira.
Juan sedang meminta bantuan Nadira untuk mengerjakan tugasnya, tapi Nadira nampak pusing. Bagaimana tidak pusing, Nadira saja tidak kuliah dan tidak pernah mempelajari itu.
"Kamu kerjain sendiri aja ya, kakak gak ngerti."
Juan memberi tatapan memohon karena tidak mengerti dengan tugasnya. "kakak gak kuliah, Juan. Kakak aja gak ngerti sama tugas kamu."
"Iya, kakak gak punya dana buat kuliah waktu itu. Daripada kuliah dan jadi beban keluarga, kakak mutusin gak kuliah dan langsung kerja."
Juan hampir lupa Nadira memulai semuanya dari nol. Ibu Endah pernah menceritakannya, tapi Juan baru tahu kalau Nadira tidak kuliah.
"Tapi sekarang kakak jadi orang yang pinter usaha dan punya banyak cafe. Kakak hebat. Lagian, kuliah juga gak begitu penting kan?"
Nadira tersenyum. Alasan Nadira menyukai Juan karena pemuda ini selalu mengatakan hal positif dan sering memujinya. Bukannya Nadira haus akan pujian, tapi semua orang memang suka saat mendapat pujian bukan?
"Gak gitu konsepnya, Juan. Kuliah penting."
"Tapi gak kuliah bisa kayak kakak itu keren."
"Tapi kuliah dan bisa ngejar impian itu jauh lebih keren." balas Nadira tidak ingin kalah.
"Emang apa impian kakak huh?" tanya Juan.
__ADS_1
"Nikah sama Bryan, jadi istri Bryan, punya anak dari Bryan dan hidup selamanya sama Bryan."
"Bryan aja terus!" ucap Juan dengan jengkel. "kalau mimpi jangan ketinggian, nanti kalau jatuh sakit. Nikah sama yang nyata kan bisa."
"Bryan nyata, bukan makhluk tak kasat mata."
Juan menaruh punggung tangannya di kening Nadira. "gara-gara ngeliat tugas aku, kayaknya kepala kakak jadi eror. Kita jalan-jalan aja deh."
"Dih, modus. Bilang aja males ngerjain tugas."
"Lebih tepatnya aku mau modusin kakak. Soal tugas aku bisa nanyain ke kak Javier aja nanti."
"Kenapa gak sekarang?" tanya Nadira heran.
Pasalnya, Juan sedang tidak ada kegiatan dan memiliki waktu untuk bertanya pada kakaknya. Kecuali kalau Juan malas mengerjakan tugas.
"Karena sekarang waktunya quality time sama calon pac- eh gak deh, calon istri maksudnya."
Juan tidak bosan-bosannya menyebut Nadira calon istri, padahal belum tentu diterima oleh Nadira. Yang penting, Nadira menyayanginya. Begitulah yang ada di pikiran Juan sekarang.
"Kamu bilang tugas kamu deadline nya lusa?"
"Iya, tapi masih ada waktu besok buat nanya."
"Jangan nunda-nunda tugas, Juan. Nanti yang ada kamu males. Dan lupa sama tugas kamu."
"Kerjain tugas kamu dulu, nanti kita liburan ke puncak. Gimana?" penawaran yang menarik. Juan tentu tidak akan bisa untuk menolaknya.
"Oke. Tapi kapan kita ke puncak?" tanya Juan memastikan Nadira tidak sedang berbohong.
"Terserah, asal gak ganggu kuliah kamu aja."
"Sip, aku telpon kak Javiernya dulu sekarang."
__ADS_1