Sugar Mommy

Sugar Mommy
44. Tidur dibawah bintang


__ADS_3

Malam ini Juan tidak bisa tidur, karena masih memikirkan bintang di kamar Raihan. Bintang tidak mengalahkan perasaan suka Juan pada Nadira, namun tetap membuat Juan kepikiran.


Juan pengagum bintang, sama seperti Nadira yang mengagumi Bryan. Bukan hanya bintang, Juan juga pengagum alam semesta. Mungkin Nadira tidak sadar ketika Juan membicarakan hal yang berhubungan dengan alam semesta.


Juan menatap Nadira yang sudah tidur lebih dulu. Ingin rasanya Juan membangunkannya, tapi Juan tidak tega melakukannya. Apalagi Nadira terlihat sangat damai dalam tidurnya.


"Kak Dira?"


"Hm."


"Apa yang kakak lakuin kalau gak bisa tidur?"


"Gak tidur."


"Gak tidur?"


"Iya. Kenapa? kamu sekarang gak bisa tidur?"


"Iya. Padahal besok aku ada jadwal kelas pagi. Masa kakak kalau gak bisa tidur gak tidur sih?"


"Ya, terus? kalau udah ngantuk dan bisa tidur, kakak tetep tidur kok. Salahnya dimana huh?"


"Kakak gak salah, aku yang salah."


"Sini deketan."


"Kenapa, kak?"


"Deketan aja sini!"


"Iya."


Juan memalingkan wajahnya saat mengingat kejadian kemarin malam, Juan dipeluk Nadira. Bukan pelukan yang biasa Juan lakukan, tapi Nadira menyandarkan kepala Juan dibahunya sambil mengusap lembut helaian rambutnya.


"Tutup aja mata kamu, nanti juga kamu tidur."


Juan benar-benar tertidur malam itu, tapi saat mencoba hal yang sama sekarang, Juan tetap saja tidak bisa tidur. Karena yang membuatnya tidur bukan menutup mata, namun kehangatan Nadira yang membuatnya terlelap dan tertidur.

__ADS_1


"Kamu gak bisa tidur lagi ya?" Juan terperanjat mendengar suara Nadira. Suaranya terdengar serak karena baru bangun. "sudah jam berapa sekarang? kamu masih belum tidur juga hum?"


"Kakak sendiri kenapa bangun? mimpi buruk?"


"Pertanyaan kakak belum kamu jawab, Juan."


"Iya, aku belum tidur dan gak bisa tidur. Terus kak Dira kenapa bangun? kakak mimpi buruk?"


"Kakak gak mimpi buruk, cuma kebangun aja."


Juan melihat Nadira mengambil ponsel yang terletak disamping tempat tidur mereka. Juan juga melihat wanita itu memainkan ponselnya.


"Jangan maen handphone, kak. Nanti kak Dira gak bisa tidur lagi loh." tegur yang lebih muda.


"Iya, sebentar." Nadira masih asik memainkan ponsel, seperti sedang berkirim pesan dengan seseorang. "kak Dira lagi chat-an sama siapa?"


"Jefri." jawab Nadira tanpa beralih dari ponsel.


"Bang Jefri udah mau tunangan, kan?" barulah pandangan Nadira dari ponsel teralihkan, saat menyadari nada bicara Juan tiba-tiba berubah.


"Iya, Jefri mau tunangan. Tapi kakak gak niat jadi pelakor." Juan berdehem mendengarnya. Nadira meletakkan kembali ponselnya diatas tempat tidur dan terlihat beranjak dari kasur.


"Bukan gitu maksud aku, kak. Maaf." lirih Juan sambil memegang tangan yang lebih tua dan menunjukkan bahwa dirinya merasa bersalah.


"Iya, kakak tahu." sahut Nadira dan tersenyum.


Benar, Jefri akan segera bertunangan dengan wanita pilihan orang tuanya. Alasan Jefri tidak mempermasalahkan Nadira yang tidak datang ke rumahnya karena pria itu sudah dijodohkan.


Jefri dijodohkan dengan alasan orang tuanya ingin cepat memiliki cucu dan Jefri mengaku tidak bisa menolak karena hati Nadira belum terbuka untuknya. Tapi, Nadira tahu kalau itu hanya bagian dari permainan orang tua Jefri.


Nadira tidak ambil pusing itu. Toh Nadira juga memang belum bisa membuka hatinya untuk Jefri. Malah bagus karena Nadira sudah tidak perlu repot-repot lagi menjaga perasaan Jefri.


Barusan, Jefri mengirim pesan dan mengajak Nadira bertemu. Dan Nadira sedang mencari alasan untuk menolak Jefri, tapi ucapan Juan membuat Nadira tidak membalas pesan Jefri.


"Maaf..."


"Iya. Kakak mau ambil minum, mau sekalian?"

__ADS_1


"Aku ikut!" Juan ikut turun dari ranjang dengan tangan yang masih memegang tangan Nadira.


"Ya udah." Nadira dan Juan berjalan beriringan menuju dapur. Saat mereka tiba di dapur, Juan dengan sigap mengambil minum untuk Nadira.


"Minum ini aja, kak. Jangan minum air dingin."


Juan memberi gelas berisi air dari galon pada Nadira, membuat Nadira yang akan membuka kulkas mengurungkan niatnya dan mengambil gelas minum dari tangan Juan. "terimakasih."


Juan tersenyum melihat Nadira minum. Juan tidak mengalihkan pandangannya dari Nadira sampai wanita itu selesai minum. "bintang di kamar Raihan bagus, beneran kayak bintang."


"Darimana kamu tahu kalau itu kamar Raihan?"


Juan merutuki dirinya sendiri karena menyebut nama Raihan. Bagaimana kalau Nadira sedih?!


"Kenapa kamu tegang?" Nadira tertawa pelan melihat ekspresi lucu Juan. "kakak tahu kamu nanyain soal kakak ke semua orang di rumah."


"Kakak tahu, dan kakak ngebiarin kamu nyari tahu. Jadi jangan tegang, kakak cuma nanya."


Suara Juan agak berisik, bahkan saat sedang membicarakan orang lain, wajar Nadira tahu. Tapi yang Juan khawatirkan sekarang bukan itu, Juan khawatir Nadira akan sedih, itu saja.


"Ikut kakak." Juan hanya pasrah ketika Nadira menarik tangannya, setelah menyimpan gelas bekas minumnya di meja dapur. Juan dibawa ke kamar Raihan yang penuh dengan bintang.


"Kamu gak bisa tidur karena mau tidur disini kan? malam ini kita tidur disini." seru Nadira.


Juan? dia hanya bisa memperhatikan Nadira. Melihat Nadira tidak terpengaruh mendengar nama Raihan disebut, sepertinya Nadira telah mengikhlaskan kepergian Raihan. Pikir Juan.


"Kak..."


"Kenapa?"


Juan menggelengkan kepalanya. "ayo, tidur."


Juan membaringkan tubuhnya diatas ranjang Raihan. Bintang disana indah, tapi masih ada yang lebih indah dari bintang-bintang disana, yaitu wanita yang berbaring disamping Juan.


"Kakak udah aturin supaya kita bisa liburan ke puncak minggu depan. Kita tinggal berangkat aja, kecuali minggu depan kamu punya acara."


"Minggu depan aku gak punya acara kok, kak."

__ADS_1


Setelahnya, Juan dan Nadira tertidur dibawah bintang yang Raihan buatkan untuk kakaknya.


__ADS_2